Monday, August 3, 2020

seroja

Ratusan Pejuang Seroja Membakar Satya Lencana
Oleh Liputan6 pada 21 Mei 2002, 00:21 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Deklarasi kemerdekaan Republik Demokrat Timor Leste ternyata menimbulkan riak kecewa di Tanah Air. Hal itu tergambar jelas ketika sekitar 400 veteran Operasi Seroja dan sejumlah warga Timor Timur yang tergabung dalam Uni Timor Aswain (Untas) menggelar protes di Jakarta, Senin (20/5). 

Wujud protes para veteran yang didukung warakawuri atau janda tentara Operasi Seroja itu adalah dengan membakar surat tanda penghargaan Satya Lencana Seroja. Ini juga sebagai bentuk penentangan atas kehadiran Presiden di Timor Leste. Acara tersebut dilakukan di Kompleks Wisma Seroja, Bekasi Utara, Jawa Barat, Ahad, seiring pendeklarasian kemerdekaan Timor Leste. "Perjuangan kami sia-sia," kata Kordinator Lapangan Acara Sersan Mayor Purnawirawan Sukoro, geram. [baca: Republik Demokrat Timor Leste Diproklamasikan]. 

Para veteran pejuang dan warakawuri menilai, Operasi Seroja di Timtim adalah tindakan tepat dalam memperjuangkan kebebasan rakyat Timtim dari penjajahan Portugal selama lebih dari 450 tahun. Karena itulah, mereka menganggap kunjungan Presiden ke Timtim sebagai tindakan pelecehan terhadap Satya Lencana Seroja yang mereka terima dari pemerintah pada 1975. Mereka juga menuding rakyat Timor yang prokemerdekaan sebagai orang yang membalas kebaikan dengan kejahatan. Mereka berharap pemerintah menghargai para pejuang integrasi, termasuk para pejuang Operasi Seroja. 

Di mata seorang penasihat hukum pejuang prointegrasi Nicholai A.B., keputusan Presiden bertolak ke Timor Leste adalah pertanda sikap ketidakpedulian terhadap nasib warga Timor yang berada di pengungsian. 

Menurut pelaksana tugas Ketua Umum Untas Armindo Soares Mariano, upacara perayaan kemerdekaan yang dilaksanakan di Dili, Timtim, sekitar pukul 00.00 waktu setempat hanyalah simbol penyerahaan kekuasaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa kepada Presiden Jose Alexandre Xanana Gusmao. Bagi Untas, Timor Leste sudah merdeka sejak 28 November 1975. Itulah sebabnya, Untas menolak deklarasi kemerdekaan Timor Leste. 

Meski tak setuju, Armindo mengatakan, Untas tak akan bertindak anarkis. Dia mengungkapkan, Untas menjunjung tinggi demokrasi dan perdamaian. Untuk kegiatan lebih lanjut, Untas akan memantau kemampuan Xanana dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat Timtim. Sebagai informasi, deklarasi yang dilaksanakan pada 1975 sempat membuat Timtim berkecamuk. Keadaan itu berakhir setelah Timtim bergabung dengan Negara Kesatuan RI. 

Pada kesempatan berbeda, warga prokemerdekaan Timor Leste berharap Presiden Xanana beserta pejabat lainnya mengerahkan segala kemampuan untuk memperbaiki keadaan Timor Leste, seperti pendidikan dan ekonomi. "Jika tak dapat bersaing dengan negara lain, minimal ada kemajuan di beberapa sektor," kata Ergio, warga Timor Leste. Warga lain bernama Marcelo berpendapat, hubungan baik antara Timor Leste dan Indonesia perlu dibina.(MTA/Tim Liputan 6 SCTV)

No comments:

Post a Comment

kiasan

sangat cantik dan sempurna. Wajahnya bak rembulan, badannya seperti gitar Spanyol dan betisnya bak padi bunting  Bagai air di daun keladi  D...