Thursday, April 30, 2020

nini towo


Wikipedia

Nini Thowong Yogyakarta

Nini Thowong Yogyakarta merupakan seni spiritual yang telah lama usianya, para empu budaya sempat mengisahkan bahwa seni ini sudah ada sejak zaman Mataram yang dipimpin oleh Panembahan Senapati. Wilayah Pundong, di mana terdapat Sungai Opak, yang menjadi tempat Panembahan Senapati gemar bertapa di sungai itu. Maka sejak zaman Keraton Mataram berkembang, karya ini telah ada. Nini Towong disebut Tothok Kerot karena memang menggunakan ubarampe yang berupa bathok kelapa (thothok). Tothok juga berarti keras, kuat, dan sakti. Sesuai dengan namanya, maka amat logis jika seni spiritual Nini Thowong berupa permainan yang menggambarkan seorang gadis muda bermuka thowong yang sakti. Towong maksudnya putih sekujur mukanya (Jawa, meblok-meblok). Nini Towong adalah tokoh yang dibuat-buat, seolah-olah hidup, memiliki nyawa, dan berdaya gaib. Nama Nini Towong terkesan menakutkan tetapi juga ada unsur lucunya.[1]

Permainan ini di daerah lain dikenal pula dengan nama Nini Towok, Nini Edhok, Nini Dhiwut, Cowongan, dan lain sebagainya. Sekilas, boneka Nini Thowong mirip jelangkung, tetapi berbeda dalam hal pakaian yang dikenakan dan cara memainkannya.[2] Para pembuat boneka Nini Thowong biasanya akan mengambil dan memilih roh-roh yang dirasa baik untuk dimasukan ke dalam boneka tersebut. Sehingga ketika dimainkan boneka akan bergerak. Nini Towong ini adalah suatu permainan yang dibuat dari siwur (gayung air dari tempurung bertangkai panjang). Siwur ini dianggap seolah-olah kepala, kemudian badannya terbuat dari icir (bubu, alat penangkap ikan). Siwur tadi dihias seperti wajah anak perempuan, dan badannya pun dihias dengan baju wanita, selendang, kain, dan setagen (ikat pinggang). Pada masa dahulu, sebenarnya Nini Towong bukan sekadar permainan biasa, tetapi adalah suatu upacara untuk memanggil hujan, pengobatan, pesugihan, atau mencari barang yang hilang (Dharmamulya, 2004:107). Melalui ritual tersebut, menandai bahwa orang Jawa masih banyak memuja roh. Seni spiritual yang terkategorikan dolanan rakyat itu sekarang telah bergeser fungsinya. Dari waktu ke waktu, seni spiritual Nini Towong justru menyedot perhatian berbagai pihak untuk dikemas sebagai aset wisata mistik. Kekhasan seni dalam menghadirkan roh, justru dapat menarik berbagai pihak untuk berduyun-duyun hadir menyaksikannya. Lebih jauh lagi, seni spiritual Nini Towong juga melukiskan hakikat hidup pemiliknya. Hidup yang berproses dari ada ke tiada, ternyata mengandung berbagai nilai kejawaan tersendiri. Kerumitan dunia roh yang berhubungan dengan dunia nyata, menyebabkan seni ini juga memuat ngelmu lung. Di balik ngelmu lung itu, sebenarnya tersimpan ngelmu ling dan ngelmu leng, yang akan membangun peradaban manusia itu sendiri. Ketiga ngelmu itu tidak lain adalah simbol wacana peradaban manusia Jawa yang unik. Setiap gerak hidup orang Jawa, ternyata disandikan lewat ketiga ngelmu tersebut. Penguasaan atas tiga ngelmu itu, menyebabkan orang Jawa akan slamet.[3]

Akhir-akhir ini, Nini Towong telah diolah menjadi sebuah kolaborasi antara ritual, performance, komoditas wisata, dan pembentukan kampung budaya. Apalagi di wilayah Pundong juga dikenal dengan desa kerajinan gerabah – setelah Kasongan. Berbagai kerajinan pun akhirnya ada yang dipoles menyerupai Nini Towong, yang akan menjadi souvenir berharga bagi wisatawan. Atas prakarsa masyarakat, dibantu oleh MTB (Masyarakat Tradisi Bantul) dan Dinas Pariwisata, Nini Towong sengaja dipoles menjadi sajian wisata budaya (sumber Makalah seminar International Tradisi Lisan VI, di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 1-3 Desember 2008 oleh Suwardi).

Riwayat Seni Spiritual Nini ThowongSunting

Seni spiritual Nini Thowong menurut penduduk setempat berawal dari kesenian sejak zaman Mataram dipimpin oleh Panembahan Senapati. Sejak zaman keraton Mataram berkembang, karya ini telah ada. Kisahnya bermula, ketika Panembahan Senapati sudah usai bertapa di tempuran Sungai Opak dan sungai Oya, beristirahat di daerah Pundong. Di situ dia menjadi peminta-minta, dan secara kebetulan melihat segerombolan anak-anak yang dolanan boneka. Di bulan purnama yang cerah itu, Panembahan Senapati minta minuman pada anak-anak yang dolanan itu, tetapi tidak diberi. Lalu dia pergi, tiba-tiba anak yang bermain tadi bersorak-sorak, karena mainan bonekanya bergerak terus, mengayun-ayun, mengikuti perjalanan Panembahan Senapati menuju ke tepi sungai. Namun, raja besar itu sekejap hilang dari pandangan anak-anak. Sejak itu, boneka jadi-jadian itu tenang lagi. Dari waktu ke waktu, setiap akan bermain boneka yang konon disebut jalangkung itu, anak-anak semakin hati-hati dan ada rasa takut. Atas dasar kejadian itu, orang tua sedikit melarang kalau anak-anaknya bermain boneka malam hari. Apalagi anak-anak selalu menceritakan kejadian yang baru saja dialami. Orang tua mereka justru merespon negatif dengan ucapan: “Engko digondhol nini-nini.” Dalih orang tua agar anaknya tidak digoda makhluk halus. Namun, anak-anak tetap bermain boneka tersebut, dan sampai sekarang ucapan nin-nini itu oleh anak-anak dinamakan Nini Thowong.[1]

Awalnya dia menganggap nini itu sebagai hantu. Namun, lama-kelamaan jadilah hantu ayng menyenangkan, karena bisa diajak komunikasi. Sebagai karya seni yang memuat unsur ritual, seni pertunjukan ini mengemban nilai-nilai spiritual yang amat tinggi. Waktu itu, hadirnya seni spiritual Nini Thowong masih sebagai hiburan belaka. Masyarakat desa yang mulai berkenalan dengan dunia roh awalnya sekadar main-main saja. Mereka bermaksud mencari hiburan dengan cara mengundang roh dalam bentuk orang-orangan yang disebut jalangkung atau jailangkung. Permainan jalangkung digunakan untuk mengekspresikan diri, terutama dalam menanyakan nasib. Ternyata atas dasar keyakinan yang kuat permainan jalangkung itu terkabulkan. Jalangkung semula sekadar boneka mainan, diberi tangan, dipasangi pensil dan kertas. Jalangkung itu ternyata dapat menulis, memenuhi permintaan yang bermain. Biasanya masalah nasib dan berbagai ramalan yang ditanyakan pada jalangkung. Lama-kelamaan jalangkung itu dimodifikasi, dikaitkan dengan mitos dan legenda setempat, hingga mewujudkan keyakinan luas. Atas dasar upaya itu jalangkung merajalela di kalangan anak-anak sampai dewasa. Tampaknya menyikapi hal demikian, pemerintah setempat semakin penuh perhatian. Berbagai upaya menyegarkan seni jalangkung itu diubah dengan keyakinan masyarakat desa Pundong. Sesepuh desa pun sepakat hendak mewujudkan seni jalangkung menjadi seni spiritual yang disebut Nini Thowong. Seni ini dikaitkan langsung dengan peristiwa tragis yang ada di desa itu.Keanahen kisah mereka tata, sehingga jalangkung tadi diubah wujud menjadi seni spiritual Nini Thowong. Nini Thowong sekarang sudah menjadi seni tradisi yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat setempat. Perkembangan keyakinan (kepercayaan) orang Jawa asli memang tidak lepas dari kekuatan roh. Dunia roh diyakini oleh orang Jawa memiliki kekuatan magis. Kekuatan ini dipercaya dapat membantu dan sebaliknya dapat merusak kehidupan manusia. Roh-roh manusia yang berasal dari orang yang meninggal tidak wajar biasanya yang amat berbahaya. Jika roh tersebut terkait dengan orang penting (cikal bakal) desa, biasanya dianggpa memiliki kekuatan luar biasa. Dalam kaitan itu, Nini Thowong termasuk kategori seni spiritual yang memuja roh. Roh dianggap memiliki kekuatan di atas manusia yang suatu saat bisa membantu hidup manusia. Seni spiritual Nini Thowong disebut juga Thothokkerot (Endraswara, 2004:172).[1]

Thothokkerot adalah sejenis hantu pujaan. Dikatakan sebagai hantu sebab merepresentasikan dunia roh yang bagi orang Jawa sering ada jarak antara dunia manusia dengan roh. Dari aktivitas itu masyarakat semakin genar, menjalankan seni itu. Nini Thowong disebut Thothokkerot karena memang menggunakan ubarampe yang berupa bathok kelapa (thothok). Thothok juga berarti keras, kuat, dan sakti. Sesuai dengan namanya, maka amat logis jika seni spiritual Nini Thowong berupa permainan yang menggambarkan seorang nini muda, gadis muda bermuka thowong, yang sakti. Thowong maksudnya putih sekujur mukanya (Jawa = meblok-meblok). Nini Thowong adalah tokoh yang dibuat-buat, seolah-olah hidup, memiliki nyawa, dan berdaya gaib. Nama Nini Thowong terkesan menakutkan tetapi juga ada unsur lucu. Nini Thowong adalah suatu permainan yang dibuat dari siwur (gayung air terbuat dari tempurung bertangkai panjang). Siwur ini dianggap seolah-olah kepala, kemudian badannya terbuat dari icir (bubu = alat penangkap ikan). Siwur tadi dihias seperti wajah anak perempuan, dan badannya pun dihias dengan baju wanita, selendang, kain, dan setagen (ikat pinggang). Permainan ini di daerah lain dikenal pula dengan nama Nini Thowok, Nini Edhok, Nini Dhiwut, Cowongan, Jailangkung, dan lain sebagainya. Pada masa dahulu sebenarnya Nini Thowong bukan sekadar permainan biasa, tetapi adalah suatu upacara untuk memanggil hujan, pengobatan, pesugihan, atau mencari barang yang hilang. Melalui ritual tersebut menandai bahwa orang Jawa masih banyak memuja roh. Seni spiritual yang terkategorikan dolanan rakyat itu sekarang telah bergeser fungsinya. Dari waktu ke waktu seni spiritual ini justru menyedot perhatian berbagai pihak untuk mengemas sebagai aset wisata mistik. Kekhasan seni dalam menghadirkan roh, justru dapat menarik berbagai pihak untuk berduyun-duyun hadir menyaksikannya. Lebih jauh lagi, seni spiritual Nini Thowong juga melukiskan hakikat hidup pemiliknya. Hidup yang berproses dari ada ke tiada, ternyata mengandung berbagai nilai kejawaan tersendiri. Kerumitan dunia roh yang berhubungan dengan dunia nyata, menyebabkan seni ini juga memuat ngelmu lung. Di balik ngelmu lung itu, sebenarnya tersimpan ngelmu ling dan ngelmu leng, yang akan membangun peradan manusia itu sendiri. Ketiga ngelmu itu tidak lain adalah simbol wacana peradaban manusia Jawa yang unik. Setiap gerak hidup orang Jawa, ternyata disandikan lewat ketiga ngelmu tersebut. Penguasaan atas tiga ngelmu itu, menyebabkan orang Jawa akan slamet.[3]

  1. ^ a b c Endraswara, Suwardi. 2004. Dunia Hantu Orang Jawa. Yogyakarta: Narasi.
  2. ^ "Nini Thowong, Mistis yang Sarat Seni"Tribun Jogja. Diakses tanggal 2019-03-24.
  3. ^ a b Dharmamulya, Sukirman. 2004. Permainan Tradisional Jawa. Yogyakarta: Kepel Press.

Wednesday, April 29, 2020

walid


Senin, 26 November 2012

LYRIC “ALLAH IGHFIR LIMAN” VERSI INDONESIA


LYRIC “ALLAH IGHFIR LIMAN” VERSI INDONESIA
Oleh: Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf



Dengar nasihat ini agar tidak terjadi
Pada diri sendiri cerita orang mati

Mati su'ul khotimah jauh darilah rohmah
Jauh ampunan dosa dunia sampai akhirat

Ruh dicabut dipaksa dengan sakit & marah
Dibawa malaikat disumpah dan dilaknat

Baunya tak kepalang lebih dari binatang
Nasibnya sangat malang celaka sudah terang

Nangis mohon kembali ke dunia untuk bakti
Junjung perintah Robbi agama islam suci

Tetapi sungguh sayang ruhnya sudah melayang
Malaikat yang pegang tak diizinkan pulang

Matinya sangat sesal haus lapar tak bekal
Berlayar tak berkapal dalam siksa yang kekal

Badan hangus terbakar dalam api berkobar
Sakit digigit ular kalajengking mencakar

Siang malam menjerit keras setinggi langit
Ular kelabang menggigit sangat panas dan sakit

Haus mintalah minum lapar diberi zaqum
Nanah pelacur mesum minuman khafir dzolum

Susah hati & bingung api tetap menggulung
Pukulan tak terhitung menjerit minta tulung

Malaikat berkata diam jangan berkata
Agama sudah nyata tapi kau tuli buta

Aku tidak bersalah hanya Allah perintah
Tapi engkau yang salah pada Allah membantah

Cukup bersenang-senang di dunia malam siang
Berlezat tak kepalang tidak dapat dilarang




Keterangan: Syair ini adalah karya Sayyidil Walid al-Habib Abdurahman bin Ahmad bin Abdul Qadir Assegaf Bukit Duri. Beliau mengijazahkan kepada al-Habib Hasan bin Ja'far bin Umar Assegaf, dan sering dibawakannya jika ada Tabligh Akbar Nurul Musthofa sebagai renungan untuk jamaahnya.

Tidak ada komentar:

gudeg


Asal-Usul Gudeg yang Tercipta dari Tangan Prajurit Mataram Kala Babat Alas

Asal-Usul Gudeg yang Tercipta dari Tangan Prajurit Mataram Kala Babat Alas
  •  
  •  
  •  
  • 77
    SAHAM
GAYA | 6 Februari 2020 20:04Reporter: Tantri Setyorini

Merdeka.com - Gudeg merupakan kuliner khas dari Yogyakarta. Kota-kota lain di sekitarnya juga punya resep gudeg. Namun bagi warga Yogyakarta dan Jawa Tengah, gudeg selalu identik dengan Jogja. Mungkin banyak yang tahu, makanan ini punya sejarah yang cukup unik.

1 dari 3 halaman

Mengenal Kuliner Bernama Gudeg

ilustrasi gudeg

Gudegyudjumpusat.com

Masakan yang disebut gudeg dibuat dari nangka muda yang dimasak dengan gula jawa, santan, dan rempah selama berjam-jam. Hasil akhirnya adalah potongan-potongan nangka yang lembut, berwarna cokelat, dan sedikit terkaramelisasi. Rasanya dominan manis legit dengan sedikit rasa gurih dari santan dan garam.

Gudeg biasanya disajikan komplet bersama nasi, telur pindang, opor ayam, tahu atau tempe bacem, dan sambal goreng kerecek manis. Masih ditambah siraman areh pula. Ciri khas penyajiannya adalah nasi dan lauk yang dialasi daun pisang. Dahulu kala, daun jati juga kerap digunakan sebagai alas.

2 dari 3 halaman

Sejarah Singkat Gudeg

ilustrasi gudeg

iStock

Mulai kapan masakan gudeg mulai dikenal? Seperti apa pula ceritanya hingga makanan ini menjadi begitu populer?

Melansir dari laman National Geographic, sejarah terciptanya gudeg bermula pada masa dibangunnua kerajaan Mataram Islam di alas Mentaok, di daerah kotagede Yogyakarta pada abad ke 15.

Murdijati Gardjito, seorang profesor di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT), Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM yang juga seorang penulis buku berjudul Gudeg Yogyakarta, menjelaskan bahwa gudeg pertama kali dibuat oleh prajurit kerajaan karena mendapati buah nangka muda, melinjo dan kelapa berlimpah.

"Saat pembangunan kerajaan Mataram di alas Mentaok, banyak pohon ditebang. Di antaranya ada pohon nangka, melinjo dan kelapa. Karena buah dari pohon ini melimpah, prajurit membuatnya sebagai masakan kemudian terciptalah gudeg," ungkap Murdijati.

Cara memasak bahan-bahan di atas adalah dengan cara diaduk terus menerus atau dalam bahasanya Jawanya Hangudek, maka masakan ini diberi nama Gudeg. Dalam sastra Hawa Serat Centhini, disebutkan jika gudeg juga menjadi salah satu masakan yang disajikan untuk para tamu kerajaan Mataram di abad 16.

3 dari 3 halaman

Versi Lain Asal-Muasal Gudeg

ilustrasi gudeg

iStock

Ada juga versi lain dari asal-muasal gudeg. Melansir dari laman gudeg.net, awal mula terciptanya gudeg adalah sejak adanya penyerbuan pertama ke Batavia tahun 1726-1728 oleh pasukan Sultan Agung. Para prajurit membawa gudeg sebagai bekal makanan perang. Meski begitu, sejarah ini belum bisa dipastikan kebenarannya.

Sejak zaman dulu, gudeg menjadi makanan sehari-hari masyarakat Jawa khususnya di Yogyakarta. Kepopuleran gudeg semakin meningkat pada tahun 1949 bersamaan dengan berdirinya Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Saat ini, gudeg tak hanya sebagai masakan sehari-hari tetapi juga menjadi masakan yang bisa dibuat oleh-oleh. Kemasan gudeg pun semakin modern dan lebih bisa tahan lama.

Reporter: Mimi Rohmitriasih
Sumber: Fimela.com (mdk/tsr)

Baca juga:
Penelitian: 10 Makanan Ini Bisa Bikin Ketagihan Seperti Narkoba
Survei: Orang Indonesia Lebih Suka Camilan daripada Makan Berat
6 Cara Membuat Soto Ayam dari Berbagai Daerah di Indonesia
5 Kuliner Hits yang Viral di Tahun 2019
Mengenal 6 Jenis Potongan Daging Steak dan Tingkat Kematangannya
Rendang Berasal dari Indonesia, Malaysia, atau India?

ikon pemberitahuan
Dapatkan berita viral & tren lebih cepat dengan aktifkan notifikasi Merdeka.com

pasai

KEJAMNYA SULTAN SAMUDRA PASAI DAN SERANGAN KEMAHARAJAAN MAJAPAHIT

Serangan Majapahit itu menjadi awal dari keruntuhan Kesultanan Samudera Pasai di Aceh. Meskipun kerajaan Islam ini pada akhirnya masih bisa bertahan hingga bertahun-tahun ke depan, bahkan sempat berjaya pada era Sultanah Nahrasiyah Nahrisyyah (1406-1428), namun pada akhirnya Samudera Pasai runtuh juga.

Menurut Hikayat Raja Pasai, tabiat buruk Sultan Ahmad Malik Az-Zahir memicu konflik dengan Majapahit sehingga membawa Pasai menuju kemunduran.

Hikayat Raja Pasai mengisahkan, salah satu penyebab Majapahit menyerang Kesultanan Samudera Pasai pada 1350 berawal dari ulah Sultan Ahmad Malik Az-Zahir (bertahta sejak 1349). Sultan ini diceritakan sebagai raja berperangai buruk yang menjadi otak serangkaian tindakan keji, bermula di lingkungan kesultanan, lalu merembet ke luar hingga melukai martabat Majapahit.

Samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara yang didirikan oleh Marah Silu -- kemudian bergelar Sultan Malik Al-Salih -- pada 1267 (Rusdi Sufi & Agus Budi Wibowo, Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh. 2006:50). Dengan pusatnya di pesisir pantai utara Sumatera, dekat Lhokseumawe, kesultanan ini pernah menguasai perdagangan di Selat Malaka dan menjadi sentrum penyebaran Islam di Nusantara.

Kesultanan Samudera Pasai berjaya saat dipimpin Sultanah (Ratu) Nahrasiyah sejak 1406 (ada sumber lain yang menyebut tahun 1400) sampai 1428. Petualang kondang asal Italia, Marco Polo, juga Ibnu Batutah sang penjelajah muslim dari Maroko, hingga armada Cina pimpinan Laksamana Cheng Ho, pernah menyambangi wilayah kerajaan ini. Marco Polo menyebut Samudera Pasai dengan nama “Giava Minor” atau “Jawa Kecil” (Mohammad Said, Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, 1963:82-83).

Tentang Hikayat Raja Pasai

Salah satu referensi dalam tulisan ini adalah Hikayat Raja Pasai yang memang sering dijadikan sumber utama dalam historiografi atau penulisan sejarah Kesultanan Samudera Pasai. Hikayat Raja Pasai yang diperkirakan ditulis pada abad ke-14 kini telah disusun ulang, salah satunya oleh Dr. Russell Jones yang bukunya diterbitkan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 1999. 

Hikayat Raja Pasai terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama menceritakan tentang peristiwa-peristiwa sebelum berdirinya Kesultanan Samudera Pasai hingga wafatnya Sultan Malik Al-Mahmud (bertahta sejak 1326). Sultan Malik Al-Mahmud adalah ayahanda Sultan Ahmad Malik Az-Zahir.

Sebagai catatan, Sultan Ahmad Malik Az-Zahir adalah orang yang berbeda dengan Sultan Muhammad Malik Az-Zahir, pemimpin Kesultanan Samudera Pasai yang bertahta pada 1297-1326, atau Sultan Mahmud Malik Az-Zahir yang berkuasa pada 1466-1468.

Bagian kedua Hikayat Raja Pasaimembahas peristiwa-peristiwa di sekitar hubungan antara Sultan Ahmad Malik Az-Zahir dengan anaknya yang bernama Tun Beraim Bapa. Nantinya, disebutkan bahwa Tun Beraim Bapa tewas di tangan ayahnya sendiri.

Adapun Hikayat Raja Pasai pada bagian ketiga bercerita tentang Raden Galuh Gemerencang, putri dari Kerajaan Majapahit yang terlibat jalinan percintaan dengan putra Sultan Ahmad Malik Az-Zahir yang kedua, yakni Tun Abdul Jalil, hingga runtuhnya Kesultanan Samudera Pasai(ulasan tentang Hikayat Raja Pasai dalamMelayuOnline.com, 2009).

Bagian kedua dan ketiga Hikayat Raja Pasai itulah yang membeberkan kekejaman Sultan Ahmad Malik Az-Zahir, putra Sultan Malik Al-Mahmud. Bernama lahir Ahmad Permadala Permala, ia naik tahta pada 1349. Sebelum masa ini, wilayah kekuasaan Samudera Pasai sempat dibagi menjadi dua pemerintahan, yaitu Kesultanan Samudera dan Kesultanan Pasai.

Sultan Ahmad Malik Az-Zahir dikaruniai lima orang anak (tiga putra dan dua putri). Tiga anak pangeran tersebut masing-masing bernama Tun Beraim Bapa, Tun Abdul Jalil, serta Tun Abdul Fadil. Sedangkan dua anak perempuan Sultan Ahmad Malik Az-Zahir diberi nama Tun Medam Peria dan Tun Takiah Dara. 

Dan, seperti termaktub dalam Hikayat Raja Pasai, kisah kekejian sang sultan pun dimulai.

Perangai Buruk Sultan Samudera Pasai

Menurut Hikayat Raja Pasai, Sultan Ahmad Malik Az-Zahir dicitrakan sebagai pemimpin yang buruk. Dikisahkan, sang sultan ternyata menaruh berahi terhadap dua anak perempuannya sendiri, yaitu Tun Medan Peria dan Tun Takiah Dara. Beberapa kali gelagat tak pantas tersebut ketahuan oleh penghuni istana lainnya.

Sikap keterlaluan Sultan Ahmad Malik Az-Zahir itu memantik desas-desus tak sedap. Anak sulung sang sultan yang juga putra mahkota, Tun Beraim Bapa, mengingatkan ayahnya agar menghentikan kelakuan tak patut tersebut.

Bukannya menahan diri, Sultan Ahmad Malik Az-Zahir justru murka, bahkan mengancam Tun Beraim Bapa agar tidak mencampuri urusannya. Tun Beraim Bapa pun waspada dan berusaha sekuat tenaga dua saudara perempuannya dari kebuasan sang ayah yang tidak layak dijadikan panutan tersebut. 

Merasa dilawan oleh anaknya sendiri, kemarahan Sultan Ahmad Malik Az-Zahir meledak. Ia lalu merencanakan niat jahat. Secara diam-diam, sang sultan mengutus orang untuk meracuni sang pangeran. Usaha itu berhasil. Tun Beraim Bapa yang kelak seharusnya melanjutkan singgasana ayahnya justru harus meregang nyawa lebih cepat.
Mengetahui sang kakak mati mendadak, Tun Medan Peria dan Tun Takiah Dara sangat bersedih hati sekaligus takut setengah mati terhadap ayah mereka sendiri. Maka, kedua putri Samudera Pasai itu pun memilih menyusul Tun Beraim Bapa, bunuh diri dengan meminum racun (Russell Jones, Hikayat Raja Pasai,1999:35-56). 

Dengan kekuasaannya yang nyaris tanpa batas, Sultan Ahmad Malik Az-Zahir langsung menutup rapat kegemparan yang sempat terdengar di lingkungan kesultanan setelah tewasnya tiga anaknya tersebut. Ini dilakukan agar kabar buruk itu tidak menyebar luas, apalagi hingga ke luar kerajaan.

Memantik Murka Majapahit

Tabiat biadab Sultan Ahmad Malik Az-Zahir kambuh lagi beberapa waktu berselang. Kali ini bermula dari hubungan asmara antara putra kedua sultan, Tun Abdul Jalil (adik kandung Tun Beraim Bapa) dengan seorang putri dari Kerajaan Majapahit yang bernama Raden Galuh Gemerencang.

Seharusnya, momen ini bisa dimanfaatkan untuk menjalin relasi yang lebih erat dengan Majapahit. Calon imperium yang berpusat di Jawa bagian timur itu memang sedang menatap masa gemilang seiring dinobatkannya Hayam Wuruk sebagai raja dengan gelar Maharaja Sri Rajasanagara, meneruskan tahta sang ibunda, Tribhuwana Wijayatunggadewi, pada 1350.

Ditambah lagi, Majapahit memiliki seorang mahapatih sekaligus panglima perang tertinggi yang namanya sudah terkenal, siapa lagi kalau bukan Gajah Mada. Saat ditunjuk sebagai mahapatih oleh Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi pada 1336, ia mengucapkan Sumpah Palapa sebagai tekad untuk menaklukkan sebagian besar wilayah Nusantara di bawah naungan Majapahit.

Namun, Sultan Ahmad Malik Az-Zahir justru memantik konflik dengan Majapahit. Kecantikan Raden Galuh Gemerencang yang tidak lain adalah calon menantunya ternyata membuat sultan jatuh cinta. Kala itu, sang putri beserta para pengawalnya sedang bersiap untuk pergi ke Samudera Pasai untuk menemui sang pujaan hati.

Tak rela Raden Galuh Gemerencang diperistri putranya sendiri, Sultan Ahmad Malik Az-Zahir pun menyiapkan siasat keji untuk Tun Abdul Jalil, sama seperti yang pernah dilakukan terhadap anak sulungya, Tun Beraim Bapa. Nyawa pangeran kedua pun dihabisi dan mayatnya ditenggelamkan ke laut.

Sementara itu, rombongan Raden Galuh Gemerencang akhirnya tiba di Samudera Pasai. Sang putri terkejut mendengar kabar dari orang-orang kepercayaannya Tun Abdul Jalil bahwa calon suaminya itu telah dibunuh atas perintah Sultan Ahmad Malik Az-Zahir.

Raden Galuh Gemerencang yang jiwanya terguncang jelas sangat sedih. Ia lalu menenggelamkan diri ke laut di mana jenazah Tun Abdul Jalil dibenamkan sebelumnya. Rombongan pengawal yang mengiringi sang putri segera kembali ke Jawa untuk melapor kepada Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada tentang kejadian tragis tersebut.

Demikian dikisahkan dalam Hikayat Raja Pasai bagian ketiga (Jones, 1999: 57-65).

Sinyal Runtuhnya Samudera Pasai

Hikayat Raja Pasai dalam bab yang sama melanjutkan cerita ini. Setelah mendapat laporan dari para pengiring Raden Galuh Gemerencang, putri Majapahit yang mengakhiri hidupnya di Samudera Pasai, juga kekejaman Sultan Ahmad Malik Az-Zahir, Raja Hayam Wuruk murka, begitupula dengan Gajah Mada.

Hayam Wuruk pun memerintahkan Gajah Mada untuk segera menghimpun pasukan dan bergegas berangkat ke ujung barat sana. Slamet Muljana (2005:140) dalam buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara menuliskan dengan cukup rinci serangan dan siasat Gajah Mada ke Samudera Pasai ini. Singkat cerita, pertempuran pun tak terhindarkan. Majapahit ternyata lebih unggul dari tuan rumah. 

Dalam situasi yang semakin gawat karena pasukan Majapahit kian merangsek ke pusat istana, Sultan Ahmad Malik Az-Zahir terpaksa menyelamatkan diri. Ia melarikan diri ke suatu tempat bernama Menduga yang berlokasi kira-kira 15 hari perjalanan dari ibukota Samudera Pasai (Jones, 1999: 57-65).

Dengan ratusan Kapal Perang dan puluhan Ribuan pasukan perang handalnya tentara Majapahit kemudian bertolak menuju Pasai untuk melakukan penggempuran. Sesampainya di Pasai, maka kemudian perangpun meletus. Pasukan Majapahit berhasil membuat pasukan Pasai Porak Poranda, Ibukota Raja dikuasai. namun demikian, ketika  pasukan Majapahit kian merangsek ke pusat istana, Sultan Ahmad Malik Az-Zahir terpaksa menyelamatkan diri. Ia melarikan diri ke suatu tempat bernama Menduga yang berlokasi 15 hari perjalanan dari ibukota Samudera Pasai (Jones, 1999: 57-65).

Setelah peristiwa tersebut maka takluklah Pasai dibawah majapahit. Majapahit kemudian membawa banyak rampasan perang dari Pasai,  banyak orang pasai ditawan dan dibawa ke pulau Jawa. Oleh Raja Majapahit mereka diperbolehkan tinggal dimana mereka suka. Dalam hikayat Raja-Raja Pasai disebutkan sebagai berikut :
“Maka titah sang Nata akan segala tawanan orang Pasai itu, suruhlah ia duduk ditanah Jawa ini, mana kesukaan hatinya. Itulah sebabnya maka banyak keramat ditanah Jawa tatkala Pasai kalah oleh Majapahit itu.”

Serangan Majapahit itu menjadi awal dari keruntuhan Kesultanan Samudera Pasai di Aceh. Meskipun kerajaan Islam ini pada akhirnya masih bisa bertahan hingga bertahun-tahun ke depan, bahkan sempat berjaya pada era Sultanah Nahrasiyah Nahrisyyah (1406-1428), namun pada akhirnya Samudera Pasai runtuh juga.

Intrik dan konflik internal di lingkungan istana menjadi penyebab utamanya, bukan semata karena faktor eksternal macam serangan dari Majapahit. Ditambah lagi dengan kemunculan Kesultanan Malaka pada 1405 yang mengikis dominasi ekonomi Samudera Pasai di zona perdagangan tersebut (Muhammad Gade Ismail, Pasai dalam Perjalanan Sejarah,1997:24). Perjalanan panjang Samudera Pasai semakin mendekati akhir setelah lahirnya Kesultanan Aceh Darussalam pada 1496 hingga penaklukan Portugis pada 1521.

Riwayat Samudera Pasai akhirnya benar-benar tamat pada masa pemerintahan sultan terakhirnya, Zain Al-Abidin IV (1514-1517). Sejak tahun 1524, wilayah kekuasaan kerajaan Islam Nusantara pertama ini diambil-alih oleh Kesultanan Aceh Darussalam yang menjadi penguasa baru di Serambi Mekkah.

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Zen RS

Artikel Asli:
https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/kejamnya-sultan-samudera-pasai-dan-serbuan-majapahit-crcW

Sumber pendukung.

http://sejarahbudayanusantara.weebly.com/kerajaan-samudra-pasai.html

http://wiyonggoputih.blogspot.com/2018/04/sejarah-penyerangan-majapahit-ke.html?m=1

http://teropongkisah.blogspot.com/2013/01/silsilah-sultan-dan-sultanah-kerajaan.html?m=1

Tuesday, April 28, 2020

taman mini


Wikipedia

Taman Mini Indonesia Indah

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan suatu kawasan taman wisata bertema budaya Indonesia di Jakarta Timur. Area seluas kurang lebih 150 hektare[1] atau 1,5 kilometer persegi ini terletak pada koordinat 6°18′6.8″LS,106°53′47.2″BT. Taman ini merupakan rangkuman kebudayaan bangsa Indonesia, yang mencakup berbagai aspek kehidupan sehari-hari masyarakat 26 provinsi Indonesia (pada tahun 1975) yang ditampilkan dalam anjungan daerah berarsitektur tradisional, serta menampilkan aneka busana, tarian, dan tradisi daerah. Di samping itu, di tengah-tengah TMII terdapat sebuah danau yang menggambarkan miniatur kepulauan Indonesia di tengahnya, kereta gantung, berbagai museum, dan Teater IMAX Keong Mas dan Teater Tanah Airku), berbagai sarana rekreasi ini menjadikan TMIII sebagai salah satu kawasan wisata terkemuka di ibu kota.[2]

Taman Mini Indonesia Indah
TMII Logo.svg
Taman Mini Indonesia Indah
Taman Mini Indonesia Indah berlokasi di Jakarta
Taman Mini Indonesia Indah
Lokasi di Jakarta
Informasi
LokasiJakarta Timur
NegaraBendera Indonesia Indonesia
Koordinat6°18′06″S 106°53′47″E / 6.301763°S 106.896390°E
PengelolaYayasan Harapan Kita
Awal pembangunan1972
Penyelesaian1975
Jenis objek wisataWisata budaya
Luas150
Fasilitas • Anjungan Daerah
 • Bangunan keagamaan
 • Museum
 • Istana Anak-anak Indonesia
 • Kolam renang Snow Bay
 • Kereta gantung
 • Teater IMAX Keong Emas

SejarahSunting

Danau yang menggambarkan kepulauan Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah

Gagasan pembangunan suatu miniatur yang memuat kelengkapan Indonesia dengan segala isinya ini dicetuskan oleh Ibu Negara, Siti Hartinah, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibu Tien Soeharto. Gagasan ini tercetus pada suatu pertemuan di Jalan Cendana no. 8 Jakarta pada tanggal 13 Maret 1970. Ide pebuatan miniatur Indonesia ini bangkit setelah Ibu Negara mendengarkan dan menghayati isi pidato Presiden Soeharto tentang keseimbangan pembangunan umum DPR GR Tahun 1971. Selain itu, beliau juga sering menyertai Presiden mengunjungi negara-negara sahabat dan melihat obyek-obyek wisata di luar negeri. Sehingga bangkit gagasan untuk membangun taman rekreasi yang menggambarkan keindahan dan keberagaman Indonesia. Melalui taman rekreasi ini, diharapkan dapat membangkitkan rasa bangga dan rasa cinta tanah air pada seluruh bangsa Indonesia.[2] Maka dimulailah suatu proyek yang disebut Proyek Miniatur "Indonesia Indah", yang dilaksanakan oleh Yayasan Harapan Kita.

TMII mulai dibangun tahun 1972 dan diresmikan pada tanggal 20 April 1975. Berbagai aspek kekayaan alam dan budaya Indonesia sampai pemanfaatan teknologi modern diperagakan di areal seluas 150 hektare. Aslinya topografi TMII agak berbukit, tetapi ini sesuai dengan keinginan perancangnya. Tim perancang memanfaatkan ketinggian tanah yang tidak rata ini untuk menciptakan bentang alam dan lansekap yang kaya, menggambarkan berbagai jenis lingkungan hidup di Indonesia.[2]

Logo dan maskot

Bagian-bagian TMII

Galeri

Referensi

Pranala luar

gedoran

Peristiwa terjadinya Gedoran Depok tak lepas dari sejarah awal berdirinya Depok oleh Cornelis Chastelein ( 1657-1714 ) saudagar VOC generasi awal yang memerdekakan orang Depok. sejak itulah Cornelis Chastelein menjadi tuan tanah, yang kemudian menjadikan Depok memiliki pemerintahan sendiri, lepas dari pengaruh dan campur tangan dari luar.[4]

Cornelis Chastelein mewariskan seluruh tanahnya kepada 12 marga budaknya yang berasal dari berbagai suku Indonesia dan memerdekakan mereka dalam wasiat yang dibuatnya sebelum meninggal. Meski bermuka pribumi dan berkulit coklat, 12 marga dan keturunan mereka bergaya hidup seperti orang Eropa, buah didikan sang tuan. Mereka inilah yang disebut sebagai 'Belanda Depok'. Sehari-hari mereka menggunakan bahasa Belanda.

Sejarah juga menyebut, Depok sudah lebih dulu merdeka sejak 28 Juni 1714. Mereka punya tatanan pemerintahan sendiri yakni Gemeente Bestuur Depok yang bercorak republik. Pimpinannya seorang presiden yang dipilih tiga tahun sekali melalui Pemilu. Daerah otonomi Chastelin ini dikenal dengan sebutan Het Gemeente Bestuur Van Het Particuliere Land Depok dan ternyata Pemerintah Belanda di Batavia menyetujui Pemerintahan Chastelin ini dan menjadikannya sebagai Kepala Negara Depok yang pertama.

Tak ayal jika mereka enggan bergabung dengan republik baru bernama Indonesia, Mengingat mereka sudah merdeka dan sudah punya Presiden sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945 yang dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta.[5]

Karena Depok tidak mengakui proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, akibatnya wilayah yang berjarak hanya beberapa kilometer dari Jakarta diserbu para pejuang kemerdekaan. Depok dikepung dari seluruh penjuru mata angin, Depok dijarah takluk di bawah todongan senjata, orang Depok dipaksa mengibarkan Bendera Merah Putih dan Teriak Merdeka, Siapapun yang membangkang kena hantam, Tak sedikit korban berjatuhan.[6]

Huru-hara yang meletus pada tanggal 11 Oktober 1945 itu dikenal dengan Peristiwa Gedoran Depok untuk merebut Depok dari penjajah oleh para pejuang kemerdekaan. Namun tak berlangsung lama, NICA kembali menguasai Depok. pasukan NICA yang datang membonceng Sekutu menyerbu Depok untuk ‘membebaskan’ orang Depok yang ditawan TKR. Pejuang berhasil dipukul mundur. Tawanan wanita dan anak-anak Depok dibebaskan, dibawa ke kamp pengungsian di Kedunghalang, Bogor.[7]

“Semenjak itu, kantor Gemeente Bestuur yang tadinya dijadikan markas TKR berubah menjadi markas NICA Memasuki bulan November, para pejuang yang tercerai-berai kembali menjalin koordinasi dan menyusun kekuatan. Mereka berencana merebut kembali Depok dari tangan NICA. “Para pejuang bersepakat menyerbu Depok tanggal 16 November 1945. Sandi perangnya saat itu Serangan Kilat,”[8]

Pada saat itulah Margonda berencana kembali merebut Depok bersama para pejuang lain. Di antara ratusan pejuang yang gugur hari itu, terdapat Margonda, pimpinan AMRI. Margonda gugur 16 November 1945 di Kali Bata. Bukan Kalibata, Jakarta. Tapi Kali Bata Depok. Daerah bersungai di kawasan Pancoran Mas, Depok dan bermuara di Kali Ciliwung itu menjadi saksi gugurnya Margonda.

Peristiwa Gedoran Depok ini sering disebut sebagai revolusi sosial di pinggiran Jakarta. Melalui peristiwa inilah lahir tokoh-tokoh, seperti Margonda, Letnan Dua Tole Iskandar, dan Mochtar Sawangan. Nama pejuang itu kini diabadikan sebagai nama jalan utama di Kota Depok.[9]

kiasan

sangat cantik dan sempurna. Wajahnya bak rembulan, badannya seperti gitar Spanyol dan betisnya bak padi bunting  Bagai air di daun keladi  D...