Friday, April 2, 2021

kiasan

sangat cantik dan sempurna. Wajahnya bak rembulan, badannya seperti gitar Spanyol dan betisnya bak padi bunting 

Bagai air di daun keladi 

Datang tak menggenapkan dan pulang tak mengganjilkqn

Thursday, April 1, 2021

pekojan


Masjid Azzawiyah Pekojan, Wisata Religi

Masjid Azzawiyah terletak di kawasan Pekojan, sebuah kampung dimana dahulu banyak tinggal orang-orang Arab dari Hadramaut, Yaman Selatan. Masjid ini berawal dari sebuah mushola kecil yang kemudian diwakafkan dan dijadikan masjid. Dibangun tahun 1812 oleh Al-Quthb Al-Habib Ahmad bin Muhammad bin Hamzah Al-Attas,yang berasal dari kota Tarim. Beliau adalah seorang ulama besar dan pendakwah ulung, guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Shohibul Keramat Empang Bogor) yang berdakwah di daerah Bogor. Habib Ahmad bin Hamzah Alatas adalah tokoh yang memperkenalkan kitab “Fathul Mu’in” atau kitab kuning yang hingga saat ini masih dijadikan sebagai rujukan di kalangan pesantren tradisional. Pada masa tuanya Habib Ahmad kembali ke Hadhramaut hingga meninggal dan dimakamkan di Zambal. Sejak awal dibangun, masjid ini tidak saja digunakan untuk keperluan ibadah tetapi juga menjadi tempat penyelenggaraan pendidikan Islam.  Masjid ini sekarang dikelola oleh Yayasan Wakaf Al-Habib Ahmad Bin Hamzah Alatas.

Ada sebuah cerita menarik tentang Habib Ahmad dan Masjid Azzawiyah tempatnya berdakwah itu. Ada seorang Schout (jabatan kepala polisi Belanda) yang bernama Van Heyne atau sering dipanggil Tuan Sekotena, mempunyai istri yang sedang sakit parah dan menurut dokter sulit untuk disembuhkan. Berbagai macam cara sudah ditempuhnya, namun sang istri tidak juga kunjung sembuh. Kemudian salah satu pembantunya menyarankan agar Sekotena menemui Habib Ahmad di Pekojan, untuk meminta air obat padanya. Sekotena pun menemui Habib Ahmad dan menjelaskan tentang sakit istrinya. Habib Ahmad kemudian memerintahkan salah satu muridnya untuk mengambil air dari sumur yang ada di samping masjid dan mendoakan air tersebut. Alhasil setelah meminum air dari Habib Ahmad tersebut, istri Sekotena pulih dari sakitnya dan sehat kembali. Sejak itu apabila Habib Ahmad mengadakan pengajian Sekotena selalu hadir untuk mengamankan dan berdana air dingin.

Keunikan sumur yang ada di Masjid Azzawiyah adalah airnya tidak pernah habis meski di musim kemarau sumur penduduk di sekitarnya banyak kering. Sekarang sumur peninggalan Habib Ahmad banyak dimanfaatkan airnya oleh para peziarah yang datang. Air sumur ini terasa segar dan sejuk meskipun sumur-sumur disekitar kawasan ini airnya terasa asin. Ada yang mengatakan mirip air zam zam di Mekkah. Banyak juga yang mandi di sumur tersebut dan membawa airnya pulang sebagai oleh-oleh. Tak sedikit Habaib dan Masyaikh terutama yang datang dari Hadhromaut menyempatkan diri untuk datang Ke Masjid Azzawiyah, dan mengambil airnya untuk dibawa ke negaranya.

Sekarang masjid ini digunakan untuk pengajian kaum ibu. Di bulan Romadhan kegiatan yang digelar masjid ini tidak terlalu istimewa, hanya saja menu nasi kebuli kerap muncul dalam acara buka puasa bersama. Tidak mengherankan karena kampung ini dahulu mayoritas penghuninya adalah etnis Arab, sehingga adat budaya Arab juga cukup kental di kawasan ini. Meski banyak warga Arab yang kembali ke Yaman atau keturunannya pindah dari kampung Pekojan dengan berbagai alasan, tetapi keterikatan dengan kampung ini tetap kuat. Meski tak lagi memiliki rumah di Pekojan, tradisi silaturahmi warga lama Pekojan, dari orang Arab dan Tionghoa, terus berjalan hingga kini. Setiap tahun para orang tua di Pekojan berkumpul di Azzawiyah, tempat berkumpulnya para ulama di Pekojan. Khusus orang Pekojan lama, biasanya setelah selesai sholat Id di Pekojan langsung berkumpul di Masjid Azzawiyah. Masjid ini ramai dikunjungi oleh muslim keturunan Arab terutama di hari Lebaran hingga hari ketiga. Tepat di depan Masjid Azzawiyah berdiri sebuah rumah tua bergaya Moor, yang sekarang ditempati oleh keluarga Saleh Aljufri, salah satu keturunan Arab yang masih tinggal di kawasan Pekojan.

 

 

 

Copyright @2019 Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta


Saturday, February 20, 2021

barisan jenggot

Barisan Jenggot Berbahaya

Mereka rata-rata sudah jenggotan, namun tetap berjuang dengan tekad merdeka atau syahid.

Oleh: Hendri F. Isnaeni | 20 Jan 2017
Barisan Jenggot Berbahaya
Laskar Kalimantan dalam parade laskar-laskar perjuangan menyambut pelantikan Dewan Kelaskaran Pusat dan Seberang di Yogyakarta pada 12 November 1946. Foto: IPPHOS.

Laskar atau barisan perjuangan memainkan peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Mereka dibentuk di berbagai daerah di seluruh Indonesia dengan nama-nama yang menarik. Seperti Barisan Jenggot di Kalimantan. Dari namanya, badan perjuangan ini terdiri dari para ulama dan pengikutnya.

Barisan Jenggot (Barisan Ulama), menurut Sulaiman Al-Kumayi dalam Islam Bubuhan Kumai, bermarkas di Masjid Besar al-Baidha, Kumai, selama perjuangan mengusir penjajah Belanda.

Pada 14 Januari 1946, tentara Belanda (NICA atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) masuk Kalimantan. Mereka berjumlah kurang lebih 250 orang dengan senjata lengkap menumpang lima kapal. Mereka menyerang daerah Kota Waringin.

Advertising
Advertising

Baca juga: Kala Ulama Perempuan Melawan

“Seluruh kekuatan yang ada bangkit membalas dan menyerang tentara NICA. TKR (Tentara Keamanan Rakyat), Angkatan Muda, Barisan Jenggot dan seluruh rakyat Kumai dan Pangkalan Bun bangkit melawan, melibatkan diri dalam kancah pertempuran yang sengit,” tulis JU Lontaan dalam Menjelajah Kalimantan. Pertempuran mengakibatkan 21 pejuang gugur dan 50 tentara Belanda yang tewas diangkut ke kapal.

Dalam Kronik Revolusi Indonesia karya Pramoedya Ananta Toer, dkk., disebutkan bahwa pada 21 Februari 1946 enam anggota Barisan Jenggot dari Kalimantan yang dikepalai oleh Haji Abdul Kadir tiba di Yogyakarta.

“Mereka berumur antara 50-60 tahun dan pernah bertempur melawan NICA yang mendarat dengan lima buah kapal di Kalimantan. Dalam pertempuran itu musuh mengalami kekalahan besar,” tulis Pram. “Mereka datang ke Jawa untuk mempelajari siasat pertempuran dan kemudian akan kembali lagi ke Kalimantan untuk berjuang dengan tekad merdeka atau syahid.”

Kemungkinan juga mereka ikut parade laskar dari Kalimantan dalam pembentukan Dewan Kelaskaran Pusat dan Seberang di Yogyakarta pada 12 November 1946.

Baca juga: 

Langkah Gila Belanda di Yogyakarta
Pembunuhan Keji Panglima Keraton Yogyakarta
Perlawanan Laskar Islam

Tidak hanya di Kalimantan, Barisan Jenggot juga didirikan di Semarang, Sumatera Barat, dan Aceh. Di Solo, Laskar Jenggot dan laskar-laskar perjuangan lainnya disatukan dalam Brigade XXIV di bawah Letkol Iskandar.

Sedangkan di Malang, Barisan Jenggot adalah sebutan untuk Batalion E Tentara Nasional Indonesia. “Karena anggota-anggotanya sudah berjenggot dan berusia rata-rata setengah abad. Mereka bermarkas di Sumberpucung, Malang,” demikian tertulis dalam Kisah-kisah Kepahlawanan Perang Kemerdekaan 1945-1949 dan Perang Merebut Kembali Irian Barat I.

Delapan orang anggota Barisan Jenggot gugur dalam pertempuran melawan Belanda. Di Taman Makam Pahlawan Malang terdapat empat makan nisan bernomor 408, 410, 412, dan 414. Setiap nisan dikubur dua jenazah, salah satunya Kasan Moestiar. Pada setiap nisan tertulis “TNI Barisan Jenggot”.

TAG

ARTIKEL TERKAIT

Copyright © 2021 Historia.id
PT. Media Digital Historia. All rights reserved.

samurai hitam

Yasuke Si Samurai Hitam

Seorang budak asal Afrika menjadi tangan kanan Oda Nobunaga. Dia menjalani hidup layaknya samurai.

Oleh: Rahadian Rundjan | 27 Feb 2015
Yasuke Si Samurai Hitam
Sampul buku Kuro-suke yang terinspirasi dari kisah Yasuke. (iiclo.or.jp).

Pada 1581, massa di Kyoto melabrak rumah misionaris Jesuit, Alessandro Valignano, karena ingin melihat budak yang dibawanya dari Mozambik, Afrika Selatan. Beberapa orang terluka, bahkan ada yang tewas, saking antusias melihat budak itu.

Kejadian itu sampai ke telinga Oda Nobunaga (1534-1582), seorang daimyo (tuan tanah-pendekar) Provinsi Owari sekitar Nagoya, yang tengah berdiam di Kyoto. Dia dan pengikutnya menaklukkan sepertiga wilayah Jepang dari kekuasaan para tuan tanah feodal untuk mempersatukan Jepang di bawah panji satu pemerintahan.

“Karena merasa dipermalukan oleh insiden tersebut, Oda Nobunaga sendiri yang memanggil si budak Afrika, memeriksanya dengan saksama untuk memastikan bahwa warna kulitnya asli, menghadiahkannya uang, dan menjadikannya pelayan,” tulis Gary P. Leupp dalam Interracial Intimacy in Japan: Western Men and Japanese Women, 1543-1900.

Advertising
Advertising

Nobunaga menyematkan nama “Yasuke”, yang artinya kurang lebih “orang berkulit hitam.”

Keberadaan Yasuke tercatat dalam beberapa catatan sezaman. Kronik tentang Nobunaga, Shinchokoki, mendeskripsikan pertemuan pertama Yasuke dengan Nobunaga. Saat itu Yasuke berusia 26 atau 27 tahun, tubuhnya hitam legam, kuat, dan bisa sedikit berbahasa Jepang. Tingginya sekitar 188 cm, sangat mencolok bagi ukuran orang Jepang kala itu.

Baca juga: Samurai dalam Pembantaian Banda

Yasuke diizinkan mengenakan baju samurai dan membawa senjata perang Nobunaga dalam beberapa pertempuran. Meski menjalani hidup layaknya samurai, Yasuke tidak memiliki tanah. Dia seorang samurai hanya sebatas nama.

Penghambaan Yasuke berakhir ketika Akechi Mitsuhide, panglima Nobunaga, berkhianat dan memaksa Nobunaga melakukan seppuku, ritual bunuh diri, pada Juni 1582. Yasuke akhirnya dilepaskan karena Mitsuhide menganggapnya orang asing yang tak tahu apa-apa.

Beberapa kronik menyebutkan dia kemudian diserahkan kembali kepada para misionaris Jesuit. Setelah itu, nama Yasuke menghilang dari sejarah.

Karena pengkhianatannya, Mitsuhide tewas sebelas hari kemudian oleh panglima Nobunaga yang lain, Toyotomi Hideyoshi. Baru pada masa kepemimpinan sekutu Nobunaga lainnya, Tokugawa Ieyasu, Jepang dipersatukan di bawah panji Dinasti Tokugawa yang berlangsung selama 250 tahun –dikenal dengan nama Zaman Edo (1603-1867).

Pada masa ini, orang-orang kulit hitam kembali berdatangan. Sebagian besar diperdagangkan sebagai budak oleh orang-orang Belanda melalui jaringan dagang VOC. Selama Zaman Edo, sebagian kecil dari mereka bahkan menetap di pos dagang Belanda di Pulau Deshima.

Baca juga: Jepang dari Isolasi hingga Industri

“Seperti Yasuke, beberapa orang Afrika ditempatkan oleh para tuan tanah dalam beragam kapasitas, sebagai prajurit, penembak, pemusik, dan penghibur,” tulis John G. Russell, “The Other Other: The Black Presence in the Japanese Experience”, termuat dalam Japan’s Minorities: The Illusion of Homogeneity suntingan Michael Weiner.

Kisah hidup Yasuke menginspirasi lahirnya buku cerita anak-anak tentang seorang samurai berkulit hitam yang mengabdi pada Nobunaga. Judulnya Kuro-suke, yang ditulis Kurusu Yoshio pada 1960-an. Kuro-suke kemudian memicu terbitnya buku-buku bacaan historis untuk anak-anak serupa di Jepang.

Kisah Yasuke akan diangkat ke layar lebar yang akan diperankan oleh Chadwick Boseman, Sang Raja Wakanda dalam film Black Panther. Film ini akan digarap oleh Eric Feig's Picturestart, De Luca Productions, Solipsist Films, dan X●ception Content. Dalam data filmografi di imdb.com disebut Yasuke menjadi film terakhir Chadwick Boseman dalam status pre-production. Selain akan memerankan Yasuke, Chadwick Boseman juga menjadi produser. Sayangnya, Chadwick Boseman meninggal pada 29 Agustus 2020 di usia 43 tahun karena kanker.

Tulisan ini diperbarui pada 29 Agustus 2020.

TAG

ARTIKEL TERKAIT

Copyright © 2021 Historia.id
PT. Media Digital Historia. All rights reserved.
logo

kiasan

sangat cantik dan sempurna. Wajahnya bak rembulan, badannya seperti gitar Spanyol dan betisnya bak padi bunting  Bagai air di daun keladi  D...