Wednesday, March 25, 2020

Nostradamus

Henry II of France
Raja Henry II 

The young lion will overcome the older one (singa muda akan mengatasi yang lebih tua) 
On the field of combat in a single battle (dalam medan pertempuran tunggal) 
He will pierce his eyes through a golden cage (ia akan menembus matanya di sela-sela sangkar emas) 
Two wounds made one, then he dies a cruel death (dua luka jadi satu, ia mati dengan merana) 

Sajak Nostradamus dianggap meramalkan hal ini. 
Pada musim panas 1559, Raja Prancis, King Henry II, berduel melawan Gabriel, Comte de Montgomery, yang usianya enam tahun lebih muda. Duel dilakukan dalam turnamen untuk menyambut pernikahan putri sang Raja. Dalam pertarungan terakhir mereka, tombak Montgomery miring ke atas, menerobos pelindung kepala Raja dan menusuk matanya, demikian diungkap On the Death of Henry II
Dalam Journal of Neurosurgery, meski berdarah-darah, sang Raja masih sadar. Ia bahkan bisa berjalan beberapa langkah meski terhuyung-huyung. Namun, pecahan maya tombak memasuki mata, tenggorokan dan pelipis. Meski tabib kerajaan bersusah payah menyelamatkan sang Raja, upaya itu tak berhasil. Henry II, mengalami sakit tak terperi, kejang dan lumpuh sebagian. Ia meninggal dalam kondisi merana 11 hari kemudian. 


2. Kebakaran besar London 

Lukisan ilustrasi kebakaran besar London oleh Rita Greer

The blood of the just will commit a fault at London, 

Burnt through lightning of twenty threes the six, 

The ancient lady will fall from her high place, 

Several of the same sect will be killed. 


Sajak tersebut dianggap terkait dengan peristiwa kebakaran besar London (Great Fire) 

Khususnya pada kalimat kedua, 20 kali tiga adalah 60, kemudian ditambah enam menjadi 66. 

Konon ada kaitannya dengan momentum kejadian pada 2 September 1666. Namun, kebakaran tersebut tak dipicu sambaran petir, melainkan percikan api di toko roti Thomas Farriner, Pudding Lane, pada musim panas yang terik dan kering. 

Tewasnya korban dari kalangan petani dan kelas menengah tidak tercatat kala itu. Namun menurut Smithsonian Magazine, bisa jadi korban tewas mencapai ratusan atau bahkan ribuan orang. 


3. Revolusi Prancis 

Eksekusi Raja Prancis Louis XVI


From the enslaved populace, songs (dari rakyat yang diperbudak) 

Chants and demands (seruan dan tuntutan) 

While princes and lords are held captive in prisons (kala para pangeran dan bangsawan ditahan di penjara) 

These will in the future by headless idiots (itu akan menjadi masa depan orang-orang bodoh tanpa kepala) 

Be received as divine prayers (mereka akan menerimanya sebagai ketentuan ilahi) 


Dimulai dengan penyerbuan penjara Bastille pada 1789, Revolusi Prancis pecah, monarki terguling, Republik baru terbentuk. Third Estate, mengambil alih kekuasaan di Paris dan mengajukan tuntutan pada para kaum ningrat. Revolusi berdarah pun terjadi. Para bangsawan, juga rakyat biasa yang dianggap pengkhianat dipenggal dengan pisau guillotine. 

Menurut Britannica, sebanyak 17000 orang dieksekusi di tengah Reign of Teror. Sementara 10.000 lainnya ditahan. 


4. Louis Pasteur

Louis Pasteur menemukan vakin rabies yang sukses diujicobakan pada 6 Juli 1947
Louis Pasteur menemukan vakin rabies yang sukses diujicoba pada 6 Juli 1947 


The lost thing is discovered, hidden for many centuries (apa yang hilang, tersembunyi selama berabad-abad akhirnya ditemukan) 
Pastor will be celebrated almost as a God-like figure (Pastor akan dirayakan sebagai sosok setengah dewa) 
This is when the moon completes her great cycle (itu terjadi ketika bulan merampungkan siklusnya yang luar biasa) 
But by other rumors he shall be dishonored (namun oleh desas-desus ia akan ditolak) 

Prediksi ini dianggap berkaitan dengan ilmuwan Louis Pasteur. Louis Pasteur berhasil menemukan cara mencegah pembusukan dengan cara pesteurisasi. Pelopor mikrobiologi tersebut juga menemukan vaksin rabies. Penemuan Pasteur telah menyelamatkan jutaan nyawa. 


5. Adolf Hitler 

Adolf Hitler (AP)

From the depths of the West of Europe (dari pelosok Eropa Barat) 

A young child will be born of poor people (seorang anak akan terlahir dari keluarga miskin) 

He who by his tongue will seduce a great troop (jerat lidahnya akan menghasut pasukan besar) 

His fame will increase towards the realm of the East (ketenarannya akan meluas hingga ke Timur) 


Sajak lainnya : 

Beasts ferocious with hunger will cross the rivers (hewan buas yang lapar akan menyebrangi sungai) 

The greater part of the battlefield will be against Hister (bagian terbesar dari medan tempur akan melawan Hister) 

Into a cage of iron will the great one be drawn (masuk ke dalam kandang besi yang besar akan ditarik) 

When the child of Germany observes nothing (ketika anak Jerman tak mendapatkan apapun) 


Pada 20 April 1889, Adolf Hitler lahir di Austria, Eropa Barat. Orang tuanya berasal dari kelas menengah, bukan dari kalangan yang bergelimang harta. Hitler naik tampuk kekuasaan, salah satu sebabnya adalah kepiawaiannya berpidato. Ia bahkan memicu Perang Dunia II dengan mengerahkan pasukan untuk menginvasi Polandia. 

Sejumlah pendukung Nostradamus menyebut, kata Hister dalam sajak adalah penyebutan yang salah untuk Hitler. Namun dalam bahasa Latin, Hister berarti Danube (sungai kedua terpanjang di Eropa) 


6. Bom Hiroshima dan Nagasaki

PHOTO: Menyeramkan, Ini Penampakan Kota Hiroshima yang Hancur Usai di Bom Atom


Near the gates and within two cities (dekat gerbang dua kota) 

There will be scourges the like of which was never seen (akan terjadi malapetaka yang tak pernah disaksikan sebelumnya) 

Famine within plague, people put out by steel (kelaparan di tengah wabah, orang-orang terbunuh oleh baja) 

Crying to the great immortal God for relief (memohon belas kasih Tuhan) 


Pada Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan dua bom atom, Little Boy dan Fat Boy, ke Nagasaki dan Hiroshima. Dua kota tersebut luluh lantah. Mereka yang berhasil lolos dari maut, menderita akibat radiasi. Pasca perang, Jepang juga mengalami krisis kekurangan pangan. 


7. Pembunuhan John F Kennedy dan Robert Kennedy

Ini Koleksi Barang - barang Kerajaan Inggris pada Pameran Hadiah Kerajaan


The great man will be struck down in the day by a thunderbolt (orang hebat akan hancur oleh petir) 

An evil deed foretold by the bearer of a petition (perbuatan jahat yang telah diramalkan para pembawa petisi) 

According to the prediction, another falls at night time (menurut prediksi, yang lain akan tumbang saat malam) 

Conflict at Reims, London and a pestilence in Tuscany (konflik di Reims, London dan wabah penyakit di Tuscany) 


Sajak itu dianggap meramalkan nasib John F Kennedy. Ia menerima serangkaian ancaman pembunuhan selama masa pemerintahannya. Saat berkunjung ke Dallas, pada 22 November 1963, Kennedy tewas ditembak. Kematiannya menggegerkan seantero dunia dan menjadi duka rakyatnya. Adiknya, Bobby Kennedy, juga tewas ditembak, lepas tengah malam pada 5 Juni 1968. Namun, konflik di Reims dan London serta wabah di Tuscany, sama sekali tak ada kaitannya dengan kematian dua Kennedy. 


8. Teror 9/11 

United Airlines Penerbangan 175 menabrak Menara Selatan WTC 

Earthshaking fire from the center of the Earth (api berkobar dari pusat bumi) 

Will cause tremors around the New City (memicu tremor di sekitar New City) 

Two great rocks will war for a long time (dua batu besar akan melawan dalam waktu lama) 

Then Arethusa will redden a new river (kemudian Arethusa akan memerahkan sungai baru) 


Pada pagi hari tanggal 11 September 2001, dua menara (dua batu besar) World Trade Center, di New York City, runtuh setelah teroris Al Qaeda menabrakkan dua pesawat penumpang yang dibajaknya ke sana. Namun prediksi Nostradamus tentang "api dari pusat Bumi" tidak terhubung dengan apapun yang berkaitan dengan teror 9/11. 

Tuesday, March 24, 2020

Jeffery Amherst, Jenderal di balik pemusnahan suku Indian

Jauh sebelum Amerika Serikat terbentuk menjadi sebuah negara, kekuatan yang mengatur dan mengendalikan tanah yang baru tersebut adalah terorisme, pemusnahan masal dan perang biologi melalui penyebaran kuman-kuman dan penyakit-penyakit terhadap penduduk asli. 
Salah satu penyerangan yang tercatat dalam sejarah adalah yang dilakukan oleh Jenderal Jeffrey Amherst, panglima angkatan perang inggris. 

Beberapa data yang tertuang dalam The Atlas of the North American Indian and the Conspiracy of Pontiac and the Indian War after the Conquest of Canada, menunjukkan bahwa pahlawan militer yang terkenal ini telah menyetujui pendistribusian selimut dan sapu tangan yang telah terkontaminasi bibit cacar untuk digunakan sebagai alat perang wabah penyakit terhadap suku Indian. Bahkan ada bukti tertulis berupa surat yang ditulis sendiri oleh Jeffrey Amherst. 
Dalam suratnya kepada Kolonel Henry Bouquet, komandan angkatan bersenjata inggris, Jenderal Amherts bertanya : 
“Tidak bisakah diatur suatu cara bagi pengiriman bibit campak kepada suku-suku Indian yang tidak menyenangkan itu? Dalam hal ini kita harus menggunakan berbagai strategi untuk dapat mengurangi jumlah mereka”
Bouquet menjawab : 
“Saya akan mencoba untuk menularkan penyakit tersebut kepada mereka melalui selimut-selimut yang akan jatuh ke tangan mereka dan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak ikut tertular” 

Sangat jelas terdokumentasikan dalam catatan milik William Trent, tertanggal 24 Mei 1763, seorang komandan militer lokal dari Pittsburgh. 
“Kami memberi mereka dua selimut dan sebuah sapu tangan yang kami ambil dari Small Pox Hospital. Saya harap hal itu akan menimbulkan dampak yang diharapkan” 

Epidemi cacar secara cepat tersebar diantara lelaki, wanita dan anak-anak suku Pontiac (suku Indian) 

Jenderal Amherst sangat terkesan atas hasil yang sangat efektif pada perang kuman tersebut, sehingga dalam suratnya kepada Kolonel Henry Bouquet, tertanggal 16 Juli 1763, dia mengesahkan PERANG BIOLOGI SEBAGAI KEBIJAKAN RESMI AMERIKA dan memerintahkan penyebaran selimut-selimut yang telah terinfeksi campak untuk memusnahkan para Indian dan menyarankan agar Bouquet mencoba metode-metode lain yang dapat memusnahkan ras yang buruk ini. 

Dalam suratnya tertanggal 26 Juli 1763, Bouquet menjawab surat Amherst dan mengkonfirmasikan bahwa “seluruh petunjuk anda akan kami perhatikan" 

Seratus tahun kemudian, secara berkala, penggunaan kuman sebagai senjata dalam peperangan telah menjadi kebijakan AS. Secara berkala, sepanjang abad ke 19, angkatan bersenjata AS menyebarkan selimut-selimut dan benda-benda lain yang telah terkontaminasi bibit penyakit kepada suku asli Amerika, termasuk mereka yang telah ditahan di kamp-kamp konsentrasi (Pemerintah AS secara resmi menyebut lokasi ini sebagai wilayah reservasi/reservations) 
Tujuan dari serangan biologi ini adalah untuk memusnahkan dan membunuh sebanyak mungkin suku Indian Amerika. 
Pemerintahan awal Amerika, kemudian Pemerintahan Amerika Serikat yang berdiri secara sah, tidak pernah menganggap suku asli Amerika ini sebagai manusia. Mereka menganggap suku asli ini sebagai makhluk yang tidak diinginkan dan berkualitas dibawah manusia. 

Garuda Nglayang

Taktik bertempur Garuda Nglayang 

Garuda Nglayang ini mengandalkan kekuatan pasukan yang besar seperti burung garuda melayang dan meniru gerakan burung garuda, dimana panglima dan pemimpin pasukan berada di paruh, kepala, sayap dan ekor memberikan perintah kepada anak buahnya dengan siasat seperti tingkah burung garuda yang menyambar atau mematuk. 
Serangan ini mengandalkan satu senopati utama pada posisi paruh, kemudian sayap kiri kanan bergerak bebas dengan pengatur posisi yang sedikit heroik, sebab perlindungan posisi pengatur pasukan berada di depan, pasukan inti menempati posisi cakar kaki, kemudian pemimpin utama berada di ekor sebagai posisi pasukan penyapu terakhir.
Taktik ini menempatkan senopati di depan sendiri sebagai paruhnya, kemudian 2 orang berjajar/seorang senopati di belakang paruh sebagai kepala burung, kemudian Senopati Agung di belakang kepala burung. 
Dua orang senopai berada di ujung sayap kanan dan kiri yang cukup jauh. 
Para prajurit mengisi sayap dan menyambung dengan tubuh burung, kepala dan ekor, dimana di ekor burung terdapat seorang senopati lagi. 
Dua sayap pada taktik ini dimaksudkan agar dapat mengepung prajurit musuh utk dikalahkan/ditumpas. 
Taktik perang ini pernah juga digunakan oleh pihak Pandawa pada perang Baratayudha. Arjuna sebagai patuk, Drupada berada di kepala, Kresna sekereta dengan Arjuna, Drustajumna di sayap kanan dan Bima memimpin di sayap kiri, Setyaki sebagai ekor dan para Raja berada di tengkuk dipimpin oleh Yudhistira. 
Konon taktik Garuda Nglayang pernah digunakan oleh Sultan Agung saat menyerang Batavia 1628–1629, juga oleh Panglima Besar Jendral Soedirman dalam perang Ambarawa. 
Taktik ini juga pernah digunakan oleh Pangeran Diponegoro. 


Friday, March 20, 2020

Ki Bagus Rangin

Bagus Rangin berasal dari Demak, distrik Blandong, Rajagaluh, Majalengka, yang terletak di kaki gunung Ciremai. 

Dia adalah putra dari Sentayem (Ki buyut Teyom) cucu dari Waridah dan keturunan dari Ki buyut Sambeng, salah satu dari cicit pembesar didaerah tersebut atau dalam Bahasa Cirebon disebut Ki Gede.

Bagus Rangin mempunyai tiga orang saudara. Kakaknya bernama Buyut Bangin dan kedua adiknya bernama Buyut Salimar serta Bagus Serit (Bagus Serit juga menjadi pejuang melawan penjajah) 

Bagus Rangin bukanlah seorang raja. ia hanya seorang rakyat biasa, namun memiliki semangat ksatria untuk melawan kekejaman dan kediktatoran penguasa, baik itu pemerintah kolonial Hindia Belanda maupun penguasa lokal di wilayah Keresidenan Cirebon. 

Dalam setiap kesempatan, ia berdiri dan mengurai khotbah pembangkitan. Sebuah khotbah yang panjang, yang menggugah kesadaran makna hidup dan kehidupan rakyat setempat yang didera nestapa. Juga khotbah politis yang menyoroti praktik-praktik tak benar penguasa lokal Cirebon. 

Pangeran (Allah) telah menjadikan dunia sebagai tempat kehidupan umat. Tapi oleh Sultan malah dijual kepada Cina dan Kompeni yang tak pernah merasa kenyang” katanya bergelora. 

Bagus Rangin belum berhenti. Masih banyak pesan suci yang dipompakan untuk membuka mata hati yang sebelumnya seakan sudah mati harapan. Dia berhasil menyadarkan warga akan kelemahannya selama ini.

Pada waktu itu, beberapa pengusaha dari etnis Cina memang ikut menyengsarakan masyarakat. Bersama Belanda, mereka menyewa tanah-tanah dari Sultan Cirebon. Padahal tanah-tanah itu, seperti kawasan utara Majalengka, juga termasuk wilayah Lohbener, Dermayu, Loyang dan sekitarnya merupakan sumber kehidupan rakyat.

Walhasil, ketiadaan sumber kehidupan telah memunculkan kelaparan. Sampai-sampai rakyat terpaksa harus makan dedaunan dan rumput. Akibat lebih lanjut, banyak di antara masyarakat berguling-guling di tanah sembari memegangi perut. Semua merintih kesakitan. Di luar itu, sulitnya kehidupan telah membuat sebagian orang menjual diri. 

Hal ini terus berkelanjutan, mungkin hingga sekarang juga. Seperti dilukiskan dalam tembang pantura “remang-remang” 

Dengan kenyataan itu, masuk akal jika rakyat begitu benci dengan Cina dan Belanda setelah mendengarkan khotbah pencerahan dari Bagus Rangin. 

Kisah perjuangan Bagus Rangin, nyaris tenggelam dalam masyarakat Indonesia. 

Di Cirebon, ada perang melawan penjajah Belanda yang telah berlangsung sebelum Perang Diponegoro. Perang itu dikenal masyarakat setempat dengan nama ‘Perang Kedongdong’ 

Perang tersebut berlangsung pada 1802-1818, dengan tokoh pejuangnya yang bernama Ki Bagus Rangin.

Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat, mengatakan bahwa perang tersebut merupakan pemberontakan besar pertama di Pulau Jawa dalam melawan penjajah Belanda sebelum Perang Diponegoro. 

Perlawanan yang dilancarkan Ki Bagus Rangin, sempat membuat pasukan kompeni kewalahan. Apalagi perjuangan Ki Bagus Rangin mendapat dukungan dari masyarakat luas. 

Setelah rakyat Karasidenan Cirebon terbangun kesadarannya, mereka bergerak bersama Bagus Rangin.

Pertempuran yang terjadi antara pasukan Bagus Rangin dan pasukan kolonial Hindia Belanda pertama kalinya berlangsung pada 25 Februari 1806. Hal ini sesuai dengan resolusi Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang menyebutkan ada kerusuhan sosial di daerah Cirebon pada tanggal tersebut. Daerah-daerah lain yang membantu Bagus Rangin berasal dari daerah Jatitujuh, Rajagaluh, Bangawan Wetan, Sumber, Bantarjati, Cikao, Kandanghaur, Kuningan, Linggarjati, Luragung, Maja, Sumedang, Karawang dan Subang. 

Gubernur Jenderal Hindia Belanda, A.J. Wiese, menugaskan kepada Nicolas Engelhaard, untuk meminta bantuan agar para bupati mengirimkan pasukannya untuk melawan Bagus Rangin. Namun tidak semua bupati menaati perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda tersebut. 

Akibat membangkang pada perintah kolonial Hindia Belanda, maka Sultan Kanoman Cirebon, Pangeran Suriawijaya, dibuang oleh Belanda ke Ambon dan dipecat dari jabatan Sultan pada tanggal 2 Maret 1810 oleh Gubernur Jenderal Daendells. 

Perang yang terjadi di Bantarjati, dari tanggal 16 sampai 29 Februari 1812, adalah perang yang terakhir dan berakhir dengan kekalahan di pihak Bagus Rangin. 

Akhirnya pada tanggal 27 Juni 1812, Bagus Rangin dapat tertangkap oleh pasukan Belanda di daerah Panongan, Jatitujuh. 

Pada tanggal 12 Juli 1812, Bagus Rangin dijatuhi hukuman mati dengan cara dipenggal kepalanya di daerah Karangsambung, tepian sungai Cimanuk. 

Pada 1805, pertempuran pecah di daerah Pangumbahan. Juga terjadi pertempuran di daerah Karesidenan Cirebon dan pantai utara Jawa. Pasukan Bagus Rangin yang berkekuatan ±10.000 orang, kalah dan terpaksa mengakui keunggulan Belanda. 

Tahun 1818, terjadi perang kedondong, dipimpin Pangeran Matangaji, dibantu Laskar Santri. Peperangan ini di menangkan oleh pasukan Cirebon karena pasukan Kesultanan yang semula bergabung dengan VOC, membelot dan ikut menggempur bersama laskar "Klebet Waring" 



Thursday, March 19, 2020

Warna-warni layar kaca Televisi

Terkadang gambar tersebut juga disertai suara "ngiiiiiing..." 
Gambar tersebut terdiri dari rangkaian warna-warna yang berlapis horizontal.

Bukan dibuat tanpa alasan, program tersebut bernama, standart test atau test card, dengan jenis color bar. 

Program ini membantu channel televisi untuk konsisten menampilkan warna serta kontras yang tepat. 

Berikut penjelasannya : 

1. SMPTE Color Bars 


Memasuki waktu malam, saat stasiun tv berhenti mengudara, biasanya mereka menampilkan strip berwarna, diiringi suara monotone yang panjang. Strip tersebut bernama Society Motion Picture and Television Engineers's Engineering Guideline EG 1-1990. 
Fungsi dari strip ini adalah untuk mengkalibrasi monitor dan televisi. 
Mengapa harus dibuat dengan warna-warni? 
Ternyata ada alasannya.
Warna kuning, cyan, hijau, magenta, merah dan biru, merupakan kombinasi warna dari cerah ke redup. 
Kombinasi ini dirancang untuk memprogram level putih (white level) yang paling tepat untuk layar TV Anda. 
Dan ada rangkaian warna di bawahnya. 
Ada warna biru, hitam, magenta dll. itu dibuat untuk menentukan color balance.

2. PM5544 


Gambar ini merupakan test card bernama PM5544, yang memang sering diimplementasikan untuk TV berformat video PAL (Phase Alternate Line) 

Apabila SMPTE Color Bars awalnya diterapkan untuk format video NTSC yang umumnya diperuntukkan untuk negara di Amerika Utara, maka PM5544 dikhususkan untuk televisi PAL di wilayah Eropa dan Asia, termasuk di Indonesia. 

Peribahasa Gangse (Angsa) orang Betawi

Ada peribahasa Betawi "Lu ngesor deh kaya gangse, abis gitu lu sosol tulang kering orang" 

Maknanya, berhati hatilah terhadap orang yang berlagak berendah hati sehingga nyaris menjilat, karena kalau orang ini sudah mencapai keinginannya, akan cepat sekali berubah, lalu menghantam orang yang dijilatnya itu. 

Angsa atau Gangse atau Soang kalau mau nyosol orang, merendahkan lehernya sampai menyenggol bumi. 

Wednesday, March 18, 2020

Barisan Wanita Pelatjoer

Barisan Wanita Pelatjoer, penyebar bakteri di markas tentara Belanda. 
Satya Graha, masih ingat bagaimana pada 1946-1947, perang telah membuat Yogyakarta begitu kumuh. 
Seiring membanjirnya para pengungsi, kota itu menjadi kawasan yang rawan tindak kejahatan. 
Para maling berkeliaran bukan saja di malam hari, juga di siang hari bolong. 
Namun yang paling memusingkan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Yogyakarta pun menjadi wilayah teraktif dalam soal transaksi seks.
“Praktek pelacuran marak di berbagai sudut kota, hingga Yogyakarta saat itu terancam serangan penyakit kelamin” kenang jurnalis tua yang pernah menghabiskan masa remajanya di kota gudeg. 
Situasi itu pula yang dikeluhkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX di hadapan Mayor Jenderal Moestopo. 
Kepada penasehat khusus militer Presiden Soekarno itu, Sri Sultan meminta solusi supaya kota yang dipimpinnya kembali aman dan tentram.
Entah bagaimana awalnya, Moestopo kemudian memiliki ide nyeleneh, memberdayakan para pekerja seks komersial itu untuk terlibat dalam revolusi. 
Caranya dengan mengirimkan mereka ke daerah pendudukan Belanda dan berpraktek di sana. 
Tujuannya selain mengacaukan kondisi sosial, juga untuk menurunkan daya tempur para prajurit Belanda.
“Istilah Pak Moes, mereka itu dilibatkan dalam psywar (perang psikologis)” ujar sejarawan Moehkardi. 
Moestopo kemudian menghimpun para pekerja seks komersial itu. 
Bahkan bukan saja dari Yogyakarta, sebagian juga didatangkan langsung dari Surabaya dan Gresik. 
Para perempuan dunia malam itu lantas diajarinya hidup disiplin dan ilmu perang. 
Tak tanggung-tanggung, Moestopo mengangkat para instruktur militer untuk membimbing langsung para pekerja seks komersial itu. 
Salah satunya adalah Kolonel T.B Simatupang.

Masih segar dalam ingatan Simatupang, suatu malam dia dijemput oleh Moestopo. Sang Jenderal menyatakan bahwa sejak malam itu, Simatupang harus memberikan pelajaran mengenai dasar-dasar ilmu perang kepada suatu kelompok yang sedang disiapkan menjalankan tugas di daerah musuh.
“Waktu itu saya diajak memasuki suatu ruang yang setengah gelap dan di hadapan saya telah berdiri sejumlah perempuan muda yang semua matanya ditutup, sehingga saya tak bisa mengenal mereka” ujar Simatupang seperti dikisahkan kepada Sinar Harapan edisi 30 September 1986.

Di tengah berlangsungnya  “pendidikan militer” itu, pada pertengahan 1946, Markas Besar Tentara (MBT) menugaskan Moestopo ke front Subang di Jawa Barat. 
Di front yang juga dikenal sebagai Sektor Bandung Utara-Timur ini, uniknya Moestopo ada di bawah komando seorang “letnan kolonel” yakni Sukanda Bratamanggala. Bersamanya ikut pula sekitar 100 prajurit dunia hitamnya. 
Dia menamakan pasukannya sebagai Pasukan TERATE (Tentara Rahasia Tertinggi) yang terdiri dari dua unit, BM (Barisan Maling) dan BWP (Barisan Wanita Pelatjoer) 

Menurut sejarawan Robert B. Cribb, sebagai komandan lapangan, Moestopo menempatkan para kader Akademi Militer Yogyakarta yang tengah belajar praktek tempur. Selaku salah satu instruktur di akademi militer tersebut, Moestopo memang memiliki wewenang itu.

“Dua unit itu kemudian dioperasikan di dalam kota Bandung. Tugasnya selain untuk mencuri senjata, pakaian dan alat-alat tempur, juga menimbulkan kekacauan dan kebingungan di kalangan tentara Belanda” tulis Cribb dalam Ganster and Revolutionaries, The Jakarta People’s Militia and Indonesian Revolution 1945-1949.

Khusus untuk BWP, Moestopo memberi target kepada mereka untuk menjadikan pos-pos militer Belanda di seluruh Bandung kacau balau secara mental, sehingga hilang konsentrasi tempur mereka. 
Lebih jauh, sang Jenderal berharap treponema pallidum (bakteri penyebab sipilis) yang bersarang di tubuh para prajurit BWP, bisa menjadi senjata biologis terbaik dari pihak Republik, guna mengalahkan serdadu-serdadu Belanda.

Penggunaan senjata biologis itu bisa jadi terinspirasi dari pengalaman Moestopo semasa dididik menjadi perwira Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor pada 1944. 
Kala itu dia pernah membuat karya ilmiah berjudul ‘Penggunaan Bambu Runcing Yang Pucuknya Diberi Tahi Kuda Untuk People Defence Dan Attack serta Biological War Fare’ 

Di hadapan para perwira militer Jepang, Moestopo mempresentasikan bagaimana kuman clostridium tetani yang terkandung dalam kotoran kuda bisa menjadi senjata biologis yang mematikan bagi musuh. 
Tidak hanya lulus dan menjadi yang terbaik, karyanya itu dipuji setinggi langit oleh para perwira Jepang saat itu.

Awalnya misi BWP bisa terwujud secara maksimal. 
Menurut Himawan Soetanto (alumni Akademi Militer Yogyakarta yang pernah menjadi anak buah Moestopo) banyak serdadu Belanda yang sakit terkena penyakit kotor. 
Situasi itu menyebabkan terjadinya evakuasi besar-besaran dari pos-pos militer mereka, hingga otomatis mengurangi kekuatan personil tempur di garis depan.
“Itu memudahkan tugas kami menghancurkan pos-pos mereka” ungkap mantan Panglima Kodam Siliwangi di tahun 1970. 
Namun lambat laun keberadaan BWP justru menjadi senjata makan tuan. 
Di tengah kejenuhan garis depan, rasa kesepian pun melanda para gerilyawan Republik. 
Rupanya kemunculan para perempuan muda yang berpengalaman dalam soal seks itu justru membuat kedisiplinan sebagian tentara Republik mulai melumer. 
Dan akibatnya, alih-alih mengacaukan keamanan wilayah pendudukan musuh dan melemahkan moril tentara Belanda, kehadiran BWP justru berimbas negatif kepada kesehatan para gerilyawan.

“Yang terjangkit penyakit kotor justru kebanyakan malah dari prajurit kita” ungkap Moehkardi.

Karena pertimbangan itulah, beberapa waktu setelah merajalelanya penyakit kotor di kalangan anak buahnya, Moestopo lantas menarik unit BWP dari front dan membubarkannya. 
Maka sejak itu berakhirlah kiprah para prajurit kupu-kupu malam tersebut di Sektor Bandung Utara-Timur. 


Puisi Rangga AADC

"PUISI RANGGA I"

Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku melihat karya surga
Dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta

Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya

Bukan untuknya, bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja


"PUISI RANGGA II"

Kulari ke hutan kemudian menyanyiku
Kulari ke pantai kemudian teriakku
Sepi, sepi dan sendiri
Aku benci

Aku ingin bingar
Aku mau di pasar
Bosan aku dengan penat
Enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh

Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya
Biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan
Belok ke pantai 


Tuesday, March 17, 2020

Membuat Puisi


Puisi berjudul Aku, karya Chairil Anwar di tembok Leiden 

Cara membuat Puisi. 

1. Tentukan Tema dan Judul

Pertama, pilihlah satu tema yang kita inginkan, sebagai acuan dalam membuat puisi agar lebih menarik. Tema puisi ada banyak sekali. Jadi sebisa mungkin pilihlah tema yang benar-benar menarik. Setelah menentukan tema, langkah selanjutnya adalah menentukan judul yang berpacu pada tema. Misalnya saja kita tentukan temanya, yaitu kesetiaan.

2. Menentukan Kata Kunci

Setelah menentukan tema, langkah-langkah menulis puisi selanjutnya adalah menentukan kata kunci dan kemudian mengembangkan kata tersebut. Jika kamu telah menemukan tema, misalnya tadi kesetiaan, maka selanjutnya adalah menemukan kata kunci yang berkaitan dengan kesetiaan tersebut. Jika sudah dirasa cukup untuk memulai membuat puisi, maka kamu tinggal mengembangkannya dalam kalimat atau larik puisi. Misalnya satu kata kunci yang digunakan untuk satu larik, atau bisa saja satu kata kunci, kemudian dikembangkan menjadi satu umpan.

3. Menggunakan Gaya Bahasa

Langkah menulis puisi selanjutnya adalah dengan menggunakan gaya bahasa. Salah satunya adalah dengan majas, misalnya majas dalam atau majas metafora. 

4. Kembangkan Puisi Seindah Mungkin

Selanjutnya adalah mengembangkan semua langkah di atas menjadi puisi yang indah. Susun kata-kata, larik-larik puisi menjadi umpan-umpan. Kembangkanlah menjadi satu puisi yang utuh dan menarik. Tulisan yang kamu buat untuk puisi harus lengkap, padat, bersamaan indah. Pilihlah kata yang sesuai yang mewakili tidak indah sekaligus makna yang padat. 

Tiga hal yang dibaca dengan kata dan larik dalam menulis puisi, yaitu : 

  • Kata adalah satuan rangkaian bunyi yang ritmis atau indah dan merdu 
  • Makna kata bisa menimbulkan banyak tafsir
  • Tentang hal yang dibicarakan 

Belanda Depok

Sampai beberapa puluh tahun silam, sebutan “Belanda Depok" masih sering terdengar oleh masyarakat di sekitar Depok di dalam kehidupan sehari-hari. 

Biasanya sebutan ini ditujukan untuk sekelompok orang warga Depok yang memiliki nama marga seperti kebelanda-belandaan. 

Ada Bacas, Isakh, Jonathans, Jacob, Loen, Laurens, Leander, Tholense, Soedira, Samuel dan Zadokh. 

Bukan hanya nama, budaya dan kehidupan masyarakat itu juga banyak terpengaruh oleh tradisi masyarakat Belanda. 

Kelompok masyarakat itu tidak berkulit putih atau berhidung mancung layaknya ras kaukasoid. Sebab mereka sesungguhnya keturunan pribumi yang masih memiliki keterkaitan dengan era kolonialisme di masa silam, tepatnya saat pemerintahan Hindia Belanda masih berkuasa di Nusantara. 

Dan jika kita menelusuri sejarah masyarakat “Belanda Depok" maka akan kita jumpai sebuah nama yakni Cornelis Chastelein. 

Cornelis Chastelein adalah seorang pegawai perserikatan dagang Belanda (VOC) 

Di usia 17 tahun, dia ditugaskan ke Hindia Belanda sebagai tenaga pembukuan. Anthony Chastelein ayahnya seorang Hugenot berasal dari Prancis yang melarikan diri ke Belanda akibat pertikaian agama di negerinya. Sedangkan Maria Cruydenier ibunya putri seorang walikota. 

Di VOC, karier Chastelein melesat hingga menjadi saudagar besar. Selang 17 tahun sejak pertama kali bertugas di Hindia Belanda, tepatnya pada tahun 1691, Chastelein menjabat sebagai saudagar senior kelas dua dari benteng Batavia. 

Menurut buku Potret Kehidupan Sosial & Budaya Masyarakat DEPOK TEMPO DOELOE, yang ditulis seorang keturunan dari 12 marga Depok, Yano Jonathans, pada tahun itu juga Chastelein mengundurkan diri dari jabatannya dengan alasan kesehatan. 

Meski ada kemungkinan itu disebabkan ketidak setujuan dia dengan kebijakan politik dagang Gubernur Jenderal van Outshoorn. “Jadi waktu itu terjadi pergantian Gubernur Jenderal. Pada saat Gubernur Jenderal van Outshoorn bertugas, Chastelein tidak setuju dengan politik dagangnya karena keras sekali. Dia tidak setuju ada kekerasan di sana, kerja paksa, kerja rodi terhadap orang-orang pribumi” 

Setelah mengundurkan diri, Chastelein kemudian membeli beberapa wilayah di Batavia, seperti Noordwijk (sekarang Pintu Air di Jalan Juanda) dan Lapangan Banteng, untuk dijadikan perkebunan. 

Ia juga membangun rumah dan gereja kecil (kapel) di sekitar jalan Kenanga Pasar Senen. 

Selanjutnya untuk mengembangkan pertaniannya, ia membeli lagi beberapa tanah di Selatan Jakarta, yaitu Seringsing (sekarang Lenteng Agung) dan Depok. 

Depok sendiri awalnya ada tanah yang dibeli Chastelein dari seorang Tionghoa bernama Tio Tong Ko, dan sebagian lagi dari Van Den Barlisen. Luasnya kira-kira 1.240 hektar. 

Untuk menggarap lahan pertanian itu, Chastelein juga membeli 150 budak di kawasan yang di Jakarta kini dikenal dengan nama Kampung Bali dan Kampung Bugis. Budak yang kemudian ditempatkan di Depok itu memang kebanyakan berasal dari Bali dan Sulawesi Selatan. 

Para budak inilah cikal bakal dari BELANDA DEPOK. 

Berbeda dengan stereotip tentang budak di masa silam yang penuh kesengsaraan, para budak milik Chastelein justru diberi kehidupan yang sejahtera. Mereka tidak hanya diminta untuk bercocok tanam, tetapi juga dididik dan diajarkan cara mengurus dan membangun sebuah sistem masyarakat. Para budak itu juga dibaptis dan menganut agama Kristen Protestan, hingga akhirnya setiap kepala keluarga diminta untuk memakai salah satu dari 12 nama Marga. 

Tiga bulan setelah membeli Depok, Chastelein membuat surat wasiat yang berisi pembebasan para budaknya. Dia juga memberikan harta bendanya dan sebagian wilayah Depok kepada para budaknya. 

Chastelein juga menyiapkan sebuah wilayah yang tidak boleh diganggu. Luasnya enam hektare yang kini menjadi semacam hutan lindung di tengah wilayah Depok. Wilayah yang kini itu dikenal dengan nama Taman Hutan Raya (Tahura) lokasinya tak jauh dari Stasiun Depok. 

Soal istilah “Belanda Depok" sebenarnya para orang tua di Depok merasa tidak nyaman mendengarnya. Sebab istilah itu sesungguhnya adalah sebuah olok-olokan di antara anak-anak muda dalam pergaulan sekolah mereka. 

Kisahnya berawal dari tahun 1876, saat alat transportasi kereta api dengan rute perjalanan Batavia-Buitenzorg (kini Jakarta-Bogor) sudah mulai beroperasi. 

Keberadaan transportasi umum itu membuat warga Depok yang sempat merasa terisolasi, bisa bepergian ke Jakarta atau Bogor. 

Begitu pula dengan muda-mudi Depok yang berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Jakarta. 

Dalam perjalanan kereta ini, anak-anak muda Depok tetap dengan gaya mereka sehari-hari yakni memakai bahasa Belanda selayaknya para sinyo dan noni Belanda. 

Tentu saja hal ini membuat mereka diolok-olok oleh rekan-rekan mereka yang berasal dari kawasan lain di sekitar Depok, hingga lahirlah istilah “Belanda Depok" 

Hebatnya, istilah ini bertahan sampai puluhan tahun kemudian. 

Lain dulu, lain sekarang. Kini jejak kehidupan budak Cornelis Chastelein sulit dijumpai di jantung kota Depok. Kita baru akan menemuinya di sepanjang Jalan Pemuda dan Jalan Kartini, itu pun sangat sedikit, yaitu gedung YLCC yang mulanya adalah rumah tinggal para pendeta, Gereja Immanuel Depok, SMA Kasih Depok, SD Pancoran Mas II Depok, Rumah Sakit Harapan, Jembatan Panus dan Pemakaman Kamboja. 

Untuk mempertahankan dan melestarikan peninggalan yang ada, YLCC berupaya menyelenggarakan diskusi dan seminar mengenai sejarah Depok. YLCC sendiri merupakan perkumpulan dari 12 kaum keluarga Depok. Yayasan ini dibentuk untuk memelihara aset-aset yang dulu dihibahkan oleh Chastelein kepada para budaknya. Yayasan ini juga memberi pelayanan sosial dan menyelenggarakan pendidikan bagi 11 keluarga yang tersisa dan 12 marga Depok. Sejak awal pendiriannya 4 Agustus 1952, yayasan ini tetap aktif sampai hari ini. 

Menurut buku Potret Kehidupan Sosial & Budaya Masyarakat Depok Tempo Doeloe, dahulu Depok juga memiliki monumen yang berlokasi di depan Rumah Sakit Harapan. Monumen berbentuk tugu, berdiri atas prakarsa Presiden Depok, Johhanes Mathijs Jonathans. 

Cikal bakalnya dimulai pada 1871, saat Mr. H. Klein, seorang jaksa, mengusulkan agar masyarakat Depok tetap mengenang jasa Cornelis Chastelein. 

Sayangnya, tugu ini sudah tidak ada, akibat dirobohkan di tahun 1960-an. Kini ada upaya dari YLCC untuk membangun kembali tugu tersebut demi pengetahuan sejarah generasi penerus. 

Lucunya, di tengah pembangunan tugu, Pemerintah kota Depok sempat melarang. Namun persoalan ini akhirnya selesai, bahkan pembangunan akan diteruskan dengan gerbang cagar budaya. 


Rohana Kudus

Rohana Kudus adalah wartawan Indonesia. Pada 1911, Rohana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Sembari aktif di bidang pendidikan yang disenanginya, Rohana menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia
Ketika dibredel pemerintah Belanda, Rohana berinisiatif mendirikan surat kabar bernama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia. 

Rohana lahir dari ayah yang bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan ibunya bernama Kiam. 

Rohana adalah kakak tiri dari Sutan Sahrir, Perdana Menteri Indonesia pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar. Dia juga sepupu H. Agus Salim. 

Rohana hidup pada zaman yang sama dengan Kartini, ketika akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi. 

Rohana adalah seorang perempuan yang mempunyai komitmen yang kuat pada pendidikan, terutama untuk kaum perempuan. 

Pada zamannya, Rohana termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan adalah tindakan semena-semena dan harus dilawan. 

Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya, Rohana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan.

Walaupun Rohana tidak bisa mendapat pendidikan secara formal, namun ia rajin belajar dengan ayahnya, seorang pegawai pemerintah Belanda yang selalu membawakan Rohana bahan bacaan dari kantor. 

Keinginan dan semangat belajarnya yang tinggi, membuat Rohana cepat menguasai materi yang diajarkan ayahnya. 

Dalam umur yang masih sangat muda, Rohana sudah bisa menulis dan membaca dan berbahasa Belanda. 

Selain itu ia juga belajar abjad Arab, Latin dan Arab Melayu. 

Saat ayahnya ditugaskan ke Alahan Panjang, Rohana bertetanga dengan pejabat Belanda atasan ayahnya. Dari istri pejabat Belanda itu, Rohana belajar menyulam, menjahit, merenda dan merajut yang merupakan keahlian perempuan Belanda. Disini ia juga banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai berita politik, gaya hidup dan pendidikan di Eropa yang sangat digemari Rohana. 

Berbekal semangat dan pengetahuan yang dimilikinya setelah kembali ke kampung dan menikah pada usia 24 tahun dengan Abdul Kudus yang berprofesi sebagai notaris. 

Rohana mendirikan sekolah keterampilan khusus perempuan pada tanggal 11 Februari 1911 yang diberi nama Sekolah Kerajinan Amai Setia. 

Sekolah Kerajinan Amai Setia berbagi keterampilan untuk perempuan, keterampilan mengelola keuangan, tulis-baca, budi pekerti, pendidikan agama dan Bahasa Belanda. Banyak sekali rintangan yang dihadapi Rohana dalam mewujudkan cita-citanya. Jatuh bangun memperjuangkan nasib kaum perempuan, penuh dengan benturan sosial menghadapi pemuka adat dan kebiasaan masyarakat Koto Gadang, bahkan fitnahan yang tak kunjung menderanya seiring dengan keinginannnya untuk memajukan kaum perempuan. Namun gejolak sosial yang dihadapinya justru membuatnya tegar dan semakin yakin dengan apa yang diperjuangkannya.

Selain berkiprah di sekolahnya, Rohana juga menjalin kerjasama dengan pemerintah Belanda karena ia sering memesan peralatan dan kebutuhan jahit menjahit untuk kepentingan sekolahnya. 

Disamping itu juga Rohana menjadi perantara untuk memasarkan hasil kerajinan muridnya ke Eropa yang memang memenuhi syarat ekspor. Ini menjadikan sekolah Rohana berbasis industri rumah tangga serta koperasi simpan pinjam dan jual beli yang anggotanya semua perempuan yang pertama di Minangkabau. 

Banyak petinggi Belanda yang kagum atas kemampuan dan kiprah Rohana. Selain menghasilkan berbagai kerajinan, Rohana juga menulis puisi dan artikel, serta fasih berbahasa Belanda. Tutur katanya setara dengan orang yang berpendidikan tinggi, wawasannya juga luas. Kiprah Rohana menjadi topik pembicaraan di Belanda. Berita perjuangannya ditulis di surat kabar terkemuka dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatra Barat.

Keinginan untuk berbagi cerita tentang perjuangan memajukan pendidikan kaum perempuan di kampungnya, ditunjang kebiasaannya menulis berujung dengan diterbitkannya surat kabar perempuan yang diberi nama Sunting Melayu pada tanggal 10 Juli 1912. 

Sunting Melayu merupakan surat kabar perempuan pertama di Indonesia yang pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya adalah perempuan.

Kisah sukses Rohana di sekolah kerajinan Amai Setia tak berlangsung lama, pada tanggal 22 Oktober 1916 seorang muridnya yang telah di didiknya hingga pintar, menjatuhkannya dari jabatan Direktris dan Peningmeester karena tuduhan penyelewengan penggunaan keuangan. Rohana harus menghadapi beberapa kali persidangan yang diadakan di Bukittinggi, didampingi suaminya seorang yang mengerti hukum dan dukungan seluruh keluarga. Setelah beberapa kali persidangan tuduhan pada Rohana tidak terbukti, jabatan di sekolah Amai Setia kembali diserahkan padanya, tetapi dengan halus ditolaknya karena dia berniat pindah ke Bukittinggi. 

Di Bukittinggi, Rohana mendirikan sekolah dengan nama “Roehana School” 

Rohana mengelola sekolahnya sendiri tanpa minta bantuan siapapun untuk menghindari permasalahan yang tak diinginkan terulang kembali. 

Rohana School sangat terkenal, muridnya banyak, tidak hanya dari Bukittinggi, tetapi juga dari daerah lain. Hal ini disebabkan Rohana sudah cukup populer dengan hasil karyanya yang bermutu dan juga jabatannya sebagai Pemimpin Redaksi Sunting Melayu membuat eksistensinya tidak diragukan.

Tak puas dengan ilmunya, di Bukittinggi Rohana memperkaya keterampilannya dengan belajar membordir pada orang Cina dengan menggunakan mesin jahit Singer. Karena jiwa bisnisnya juga kuat, selain belajar membordir, Rohana juga menjadi agen mesin jahit untuk murid-murid di sekolahnya sendiri. 

Rohana adalah perempuan pertama di Bukittinggi yang menjadi agen mesin jahit Singer yang sebelumnya hanya dikuasai orang Tionghoa.

Dengan kepandaian dan kepopulerannya, Rohana mendapat tawaran mengajar di sekolah Dharma Putra. Di sekolah ini muridnya tidak hanya perempuan, tetapi ada juga laki-laki. 

Rohana diberi kepercayaan mengisi pelajaran keterampilan menyulam dan merenda. Semua guru di sini adalah lulusan sekolah guru, kecuali Rohana yang tidak pernah menempuh pendidikan formal. Namun Rohana tidak hanya pintar mengajar menjahit dan menyulam, melainkan juga mengajar mata pelajaran agama, budi pekerti, bahasa Belanda, politik, sastra dan teknik menulis jurnalistik.

Rohana menghabiskan waktu sepanjang hidupnya dengan belajar dan mengajar. Mengubah paradigma dan pandangan masyarakat Koto Gadang terhadap pendidikan untuk kaum perempuan yang menuding perempuan tidak perlu menandingi laki-laki dengan bersekolah segala. 

Namun dengan bijak, Rohana menjelaskan “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah, yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan” 

Emansipasi yang ditawarkan dan dilakukan Rohana, tidak menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki, namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya. Untuk dapat berfungsi sebagai perempuan sejati sebagaimana mestinya, juga butuh ilmu pengetahuan dan keterampilan. Untuk itulah diperlukannya pendidikan untuk perempuan. 

Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Rohana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. 

Rohana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api. 

Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak

Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Tionghoa-Melayu di Padang. 

Celana Boim

Celana Boim atau yang dulu dikenal dengan Celana Komprang, mempunyai desain yang longgar, sehingga dalam bahasa Betawi disebut Komprang. 
Namun sekarang banyak orang terbiasa menyebut sebagai "Celana Boim" 
Tentunya memudahkan penyebutan mereka, karena celana jenis ini pernah populer sekali dikalangan anak muda yang saat itu celana ini biasa dipakai oleh si Boim (Harry D' Fretes) dalam setiap penampilan grup mereka di televisi lewat acara "Lenong Rumpi" 
Acara ini sempat menjadi acara yang dinanti oleh masyarakat, karena latar budaya dan alur cerita komedi Betawi. 
Jaman dulu, celana ini biasa dipakai sehari-hari oleh pria Betawi, seperti mengaji, latihan pukulan dll. 
Adapun motif dari celana khas Betawi ini seperti motif Burung Hong, motif bambu, bukan motif parang. 
Bahkan dulu banyak pula orang Belanda di Batavia yang senang memakainya ketika mereka bersantai dirumah. 


Remang-remang pantura sejak zaman Ki Bagus Rangin



Pada waktu itu, beberapa pengusaha dari etnis Cina memang ikut menyengsarakan masyarakat. 
Bersama Belanda, mereka menyewa tanah-tanah dari Sultan Cirebon. 
Padahal tanah-tanah itu, seperti kawasan utara Majalengka, Lohbener, Dermayu, Loyang dan sekitarnya merupakan sumber kehidupan rakyat.
Walhasil, ketiadaan sumber kehidupan telah memunculkan kelaparan. 
Sampai-sampai rakyat terpaksa harus makan dedaunan dan rumput. 
Banyak di antara masyarakat berguling-guling di tanah sembari memegangi perut. 
Semua merintih kesakitan. 
Di luar itu, sulitnya kehidupan telah membuat sebagian orang menjual diri. 
Hal ini terus berkelanjutan, mungkin hingga sekarang. 
Seperti dilukiskan dalam tembang pantura “remang-remang”

Remang-remang sinar lampu wayah sore
Ganti surute srengenge
Nunggu kakang wis lawas langka kabare
Rasa pegel duh kakang sun ngentenane

Remang-remang sinar lampune madangi
Kadang keton lintang wis ora perduli
Kula seneng waktu deweke njanjeni
Wong ganteng aja gawe lara ati

Jare lunga bli suwe
Lawas olih sewengi
Kula percaya bae
Nyatane kakang bohongi

Angel jaman saiki
Luruh lanang sejati
Sing mung ana siji
Kang siji wis duwe rabi

Remang-remang sepanjang jalan pantura
Gadis manis pada midang pinggir dalan
Jare seneng bisa bantui wong tua
Kadang nangis urip mengkenen sampai kapan 

Monday, March 16, 2020

KAMAJAYA



Sang Hyang Kamajaya atau Kamadewa adalah anak Semar (Hyang Ismaya) dan Dewi Sri. Ia Dewa cinta dan berparas elok sekali. Kamajaya beristrikan Dewi Kamaratih, putri Sang Hyang Resi Soma. Dewi ini sebangsa bidadari yang sangat cantik. Kamajaya dan Kamaratih tak pernah berpisah.

Dewa dan Dewi ini senantiasa menjaga keselamatan umat manusia di dunia ini, terutama keluarga Pandawa. 

Kamajaya malah disebut juga Dewanya Arjuna, oleh karena ia sangat sayang pada Arjuna.

Di dalam Lakon Cekel Indralaya, Arjuna menjadi pendeta dan Kamajaya datang ke Dwarawati, menyamar sebagai Arjuna untuk menentang Korawa yang akan datang menggoda Dewi Wara Sumbadra, istri Arjuna.

Menurut kepercayaan orang Jawa, pada waktu seorang wanita hamil untuk pertama kalinya dan diadakan selamatan hamil tujuh bulan (mitoni) maka disajikan juga sebuah kelapa gading yang digambar Kamajaya dan Kamaratih, dengan harapan semoga mendapat berkah dari Dewa dan Dewi itu.

Sang Hyang Kamajaya bermata jaitan, berhidung mancung dan bergigi hitam. Berpakaian seperti Dewa, tetapi pada bagian kepala tampak sebagai ksatria. Dia bersemayam di Cakrakembang, tempat tersendiri bagi Kamajaya dan Kamaratih.

Pada acara mitoni atau tujuh bulanan, kelapa muda yang hendak dipecahkan ayah calon bayi, sering dilukiskan atau dituliskan nama Kamajaya, sebagai wujud dari buah cinta. 

Pasukan Bhayangkara

Pasukan Bhayangkara merupakan pasukan elit pada zaman kerajaan Majapahit yang digunakan sebagai alat pertahanan dan invasi. 
Pasukan Bhayangkara memiliki pengaruh besar bagi Majapahit. 
Hal ini karena pasukan Bhayangkara selalu menjaga keselamatan sekaligus pengawal pribadi Raja serta keluarga kerajaan, menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat agar tidak muncul gangguan kepada kekuasaan Raja. 


ASMARADANA




ASMARADANA adalah salah satu jenis tembang yang populer dalam masyarakat Jawa. 
Berasal dari dua kata, yaitu asmara (cinta) dan dahana (api) 
Asmaradana diartikan sebagai cinta yang sedang bergelora. Bisa ungkapan hati yang sedang berbunga-bunga, maupun perasaan yang sedang hancur berantakan.

Asmaradana memiliki aturan unik. Tidak seperti tembang jaman sekarang yang bebas. Diantaranya :

1. Terdiri dari tujuh baris pada setiap baitnya (guru gatra)
2. Bunyi akhiran adalah a-i-e-a-a-u-a (guru lagu) 
3. Jumlah suku katanya adalah 8-8-8-8-7-8-8 (guru wilangan) 

Asal usul Asmaradana bersumber pada kisah pewayangan yang dibawakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. 
Pewayangan yang tadinya mengambil cerita dari india atau percampuran budaya untuk menyebarkan ajaran hindu yang kemudian dijawakan oleh empu-empu kerajaan majapahit dengan melukisnya dalam lembaran daun lontar dan kulit yang disesuaikan dengan visualisasi atau gambaran empu-empu majapahit dahulu. gambaran dalam daun lontar yang berkembang menjadi lembaran kulit dinamakan wayang beber, karena berwujud lembaran yang membeberkan atau membabar kisah mahabarata maupun ramayana. 
Asal usul gendam asmaradana
Asmaradana 

Pada masa pemerintahan Demak, Kanjeng Sunan Kalijaga mengubah wayang beber menjadi wayang kulit yang bisa digerakan satu persatu, sehingga terlihat lebih hidup dari pada wayang beber yang yang hanya sebatas lukisan. ditambahkan beberapa wayang yang didapat dari ilham atau petunjuk disaat Kanjeng Sunan Kalijaga melakukan perjalanan spiritual mencari petunjuk dalam memperoleh upaya penyebaran agama Kslam ditanah jawa. 

Pada masa pemerintahan Mataram, masa pemerintahan Sultan Agung merupakan masa keemasan ilmu pengetahuan dan tradisi budaya yang ada ditanah jawa. Apresiasi beliau dalam mengembangkan budaya yang ada, menjadi lebih baik dan sempurna.
seperti halnya keris, dikembangkan seninya, sehingga terbentuklah keris dengan banyak motif kinatah emas atau bertahtakan emas buda atau emas tua. begitu juga dengan sastra, banyak sekali pujangga-pujangga lahir pada masa pemerintahan Sultan Agung.
Oleh sebab itulah Asmaradana diyakini mencuat pada masa ini, karena Asmaradana adalah kidung gubahan dari Kanjeng Sunan Kalijaga yang diterjemahkan dan dimaknai secara keilmuan jawa atau kebatinan pada masa kejayaan sastra. 

Asal usul Asmaradana, bersumber pada dua kisah. yang pertama dari kisah arjuna yang merupakan lelananging jagat yang memiliki istri banyak. bahkan diantaranya adalah bidadari dari kayangan yang merupakan hadiah dari keberhasilannya memenangkan sayembara, yang mana pada saat itu kayangan dikuasai oleh raksasa dan dapat dikalahkan arjuna. dan beberapa saat arjuna menjadi rajanya para dewa dikayangan, karena dewa cinta yaitu dewa kamajaya adalah dewanya arjuna, yang mana dewa Kamajaya yang bersistri Dewi Kama Ratih adalah anak dari Semar dengan Dewi Sri yang sesunggunhnya adalah Dewa ismaya yang merupakan kakak dari betara guru. 

Yang kedua, asal usul Asmaradana, mengambil kisah dari Damar Wulan yang menyelamatkan Majapahit dari Blambangan yang dikuasai oleh Minak Jinggo yang terkenal sakti mandraguna. tubuhnya tidak akan mempan oleh senjata apapun, karena keampuhan pusakanya yaitu Gada Wesi Kuning. 
Dengan keampuhannya menundukkan wanita, dapat melumpuhkan hati 4 wanita sehingga tergila gila padanya. yang mana dua diantaranya adalah istri dan selir Minak Jinggo yang kemudian membeberkan rahasia kesaktian Minak Jinggo sehingga Minak Jinggo dapat dikalahkan dan dibunuh. satu diantaranya adalah Ratu Ayu Kencana Wungu yang menjadi raja perempuan di majapahit. 

kiasan

sangat cantik dan sempurna. Wajahnya bak rembulan, badannya seperti gitar Spanyol dan betisnya bak padi bunting  Bagai air di daun keladi  D...