Sunday, May 10, 2020

pasar rumput


JAKARTA TEMPO DOELOE: Inilah Asal Usul Nama Pasar Rumput Jakarta Selatan

Oleh: 
infoternakPedagang rumput.

Bisnis.com, JAKARTA- Pasar Rumput merupakan nama pasar yang cukup popular dan berlokasi di Jl Sultan Agung, Kelurahan Pasar Manggis, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.

Pedagang pasar yang menyatu dengan Pasar Manggarai itu menjual beragam barang-barang, terutama barang seken seperti sepeda, kursi roda, koper, dan tas yang harganya relatif lebih murah.

Tentang nama Pasar Rumput tersebut, Zaenuddin HM menjelaskan dalam buku karyanya berjudul  “212 Asal Usul Djakarta Tempo Doeloe,” setebal 377 halaman yang diterbitkan Ufuk Press pada 2012.

Dijelaskan bahwa dulu pasar tersebut merupakan tempat perdagangan bagi masyarakat Betawi yang menjual rumput untuk makan kuda.

Para pedagang tidak diperbolehkan memasuki kawasan Menteng, karena mereka terlihat awut-awutan dan banyak rumput tercecer kalau sedang berjualan.

Pada saat itu, zaman kolonial Belanda hingga era 1950-an, memang kuda menjadi alat transportasi yang diantaranya untuk menarik delman (gerobak kuda) di banyak wilayah Jakarta.

Di samping alat transportasi umum, masyarakat juga gemar memelihara kuda sebagai alat transportasi pribadi.

Tidak seperti sekarang ini orang berkendara sepeda motor atau mobil. Sedangkan kuda hanya berada di tempat-tempat tertentu seperti pacuan kuda atau di daerah pedesaan dan pegunungan yang banyak rerumputannya.

Ternyata, bisnis rumput di pasar tersebut mengalami puncaknya pada era 1950-an, sampai dengan akhirnya sekitar 1970-an para pedangan rumput mulai hilang satu per satu.

Menurut keterangan sesepuh Pasar Rumput, mereka menghilang bukan karena adanya penggusuran atau penertiban.

Namun, karena beralihnya alat transportasi masyarakat, yaitu menggunakan kendaraan bermotor.

Editor: Fatkhul Maskur

Berita Lainnya:

Copyright © 2020 by Bisnis Indonesia.

Proudly powered by Sibertama

Page rendered in 0.0347 seconds on g9-252

planet


   

Planet Senen, Legenda Tempat Pelacuran Terbesar di Jakarta

PSK (ilustrasi).
Blogspot.com
PSK (ilustrasi).
Red: Karta Raharja Ucu

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tampaknya kewalahan untuk menertibkan para PKL (pedagang kaki lima) di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Bahkan, para PKL yang makin memadati pasar tersebut mengadakan perlawanan terhadap Satpol PP saat hendak digusur. Akibatnya, hingga kini pasar tertua di Jakarta itu masih tetap semrawut.

Pasar Senen pernah menjadi terkenal pada pertengahan 1950-an sampai akhir 1960-an. Bukan karena banyaknya orang yang datang untuk berbelanja. Kala itu, Pasar Senen masih merupakan pasar tradisional.

Belum nongol mal, plaza dan atrium seperti sekarang. Orang lebih banyak datang ke Planet Senen, tentu saja pada malam hari. Karena masa itu Planet Senen dan sekitarnya menjadi tempat pelacuran terbesar di Jakarta. Nama Planet untuk daerah hitam itu diberikan saat dua musuh bebuyutan (kala itu) Amerika Serikat (AS) dan Uni Sovyet (US) bersaing untuk mengirimkan sputnik ke ruang angkasa (planet) di masa Presiden Kennedy dan PM Kruschev.

Di Planet Senen, para WTS atawa Pekerja Seks Komersil (PSK) tinggal di bangunan yang terdiri dari kotak sabun dan kardus di pinggir-pinggir rel KA. Malah gerbong-gerbong barang KA yang diparkir di Stasiun Senen dijadikan sebagai tempat ngamar. Pernah terjadi ketika ada yang ngamar, tiba-tiba gerbongnya langsir dan baru berhenti di stasiun KA Jatinegara.

Pokoknya, sejak lepas maghrib, gerbong-gerbong parkir yang biasa angkut bahan bangunan dikuasai wanita 'P'. Kala itu belum dikenal istilah PSK (pekerja seks komersial), tapi pelacur atau cabo dari kata bahasa Cina 'ciabo' yang berarti perempuan. Bahkan, di siang hari terik tanpa mengenal malu para pelacur sudah siap terima tamu di kamar-kamar liliput.


Pesta Ngibing

Tempat beroperasinya WTS di Planet Senen terbentang mulai dari pintu KA Senen sampai Tanah Nyonyam di Gunung Sahari. Di samping para WTS dan pria hidung belang, para tukang dagang meramaikan Planet Senen hingga menjelang subuh. Mereka berdagang di meja-meja dengan lampu minyak yang ditutupi kertas merah hingga suasana agak kegelap-gelapan.

Yang paling unik dari Planet Senen adalah keberadaan para penari doger, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pertunjukan tandak. Para penarinya kebanyakan dari Klender dan Bekasi, mulai tampil setelah Isya. Mereka berdandan sangat menor dan berhias seindah mungkin.

Bibirnya diberi gincu buatan lokal. Tidak kalah menornya adalah bedak (pupur) yang mereka pakai. Juga buatan lokal. Kala itu, kosmetik impor belum muncul. Apalagi di daerah pedesaan.

Para penari doger itu mengenakan kain batik dan baju kebaya tipis. Bagian bokong hingga perut diikat ketat. Demikian pula di bagian atas tubuhnya. Maklum, tidak seperti pelacur, mereka hanya boleh dicium dan dipegang-pegang. Adegan semacam ini juga terjadi di dalam gerbong KA.

Sebelumnya, para penari ngibing diiringi gamelan Sunda. Saat menari mereka menggoyang-goyangkan tubuh. Saat para penari doger ngibing dengan menggunakan selendang, kira-kira 10 hingga 15 orang, di antara para penonton ada yang langsung terjun ke tengah gelandang.

Setelah puas menari, satu per satu pasangan itu masuk ke gerbong atau menuju tempat gelap. Hanya berlangsung 5-10 menit, kemudian si penari doger kembali ke gelandang setelah menerima uang sawer. Dan ia pun kemudian disamber pria lain.

Kawasan Planet Senen begitu bebas, hampir tidak pernah terjadi razia. Dan, yang paling menyedihkan, banyak anak di bawah umur turut menyaksikan. Dulu penari doger dan ratusan WTS beroperasi secara bebas tanpa ada razia dari aparat negara. Boleh dikata hampir tidak ada reaksi dari pemuka agama kala itu.

Keberadaan doger hanya bagian kecil saja dari jumlah kupu-kupu malam di Planet Senen. Sebagai wartawan saya pernah turut gubernur Ali Sadikin meninjau tempat itu pada akhir 1960-an. Di antara WTS yang banyak berusia muda dan ada yang masih anak-anak terdapat puteri seorang penyanyi terkenal pada 1940-an. Kita tidak habis pikir kenapa dia tergelincir ke tempat tersebut.



dr Basri dan Penyakit Raja Singa

Yang paling berkesan di Planet Senen terdapat dr Basri, yang tiap malam membuka praktek. Dia dikenal sebagai dokter berjiwa sosial. Mereka yang berobat bila tidak punya uang tidak jadi masalah.

Dia datang dengan sebuah mobil sedan tua. Di mobilnya dia menginjeksi pasien dan memeriksanya. Banyak hidung belang sebelum bermain dengan WTS lebih dulu minta diinjeksi. Waktu itu belum dikenal adanya HIV/AIDS. Paling-paling sipilis atau raja singa.

Menyadari gerbong-gerbong KA dijadikan tempat mesum, cukup membuat pusing pihak Perum KA, yang sejak lama ingin menertibkan, tapi tak sanggup melaksanakannya. Baru pada masa gubernur Ali Sadikin Planet Senen berhasil ditertibkan.

Mereka dipindahkan dan  dilokalisasikan di Kramat Tunggak, Jakarta Utara (kini jadi Islamic Center). Kala itu, Kramat Tunggak masih berupa rawa-rawa. Sementara di sekitar Planet Senen oleh Bang Ali dibangun Gelanggang Olahraga Remaja, kantor kecamatan dan kepolisian.

Sekalipun tempat pelacuran sudah tidak tersisa, tapi Planet Senen, nama yang sudah dikenal sejak 50 tahun lalu, hingga kini masih dikenal. Entah siapa yang mulai menamakannya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Berita Terkait
Berita Terpopuler

Thursday, May 7, 2020

landaur

LIVE UPDATE
COVID-19 INDONESIA
8 MEI 2020

Positif
Sembuh
Meninggal

Kisah Landaur, dan Makam-makam Berukuran Panjang di Madura

Kisah Landaur, dan Makam-makam Berukuran Panjang di Madura
Ilustrasi manusia raksasa. (Foto/Istimewa/bersumber pada manado.tribunnews.com)
Link Banner

matamaduranews.com-SUMENEP-Kisah Landaur merupakan salah satu kisah folklore yang sudah hampir tertimbun reruntuhan zaman kuna di pulau Garam.

Di kawasan Madura Timur atau Sumenep, Landaur merupakan salah satu kisah pengantar tidur. Kisahnya tidak memiliki alur yang jelas. Landaur hanya sebutan bagi sosok manusia berukuran super jumbo. Sebutan lainnya ialah raksasa, atau gergasi.

Namun Landaur tidak berkonotasi negatif. Kisah Landaur di Sumenep bukan kisah mitologi seperti di kawasan luar, bahwa ada mahluk raksasa atau gergasi, yang di suatu masa merupakan mahluk buas yang suka makan manusia.

Nah, sebenarnya kisah Landaur juga dipicu oleh keberadaan makam-makam kuna yang berukuran panjang. Panjang sekali, jauh dari ukuran normal. Ada yang sampai delapan meter hingga sepuluh meter. Mungkin masih ada yang lebih panjang dari itu.

Makam di Mandaraga

Salah satu makam berukuran panjang di Sumenep ialah di kawasan Mandaraga. Kawasan ini masuk wilayah kecamatan Ambunten.

Di sana ada makam panjang yang dikeramatkan warga setempat, bahkan mayoritas warga Sumenep lainnya.

Sosok yang dimakamkan di tempat itu sejatinya merupakan sosok istimewa. Sosok ini tidak pernah disebut Landaur. Meski ukuran makamnya memang mirip dengan makam-makam lainnya yang diklaim sebagai makam Landaur.

Makam di Mandaraga ini ialah makam salah satu penguasa Sumenep di masa lampau. Pangeran Mandaraga namanya. Diduga, nama tersebut bukanlah nama sebenarnya. Namun nisbat tempat saja, yakni Pangeran atau penguasa yang berkedudukan atau berdomisili di Mandaraga.

Dalam naskah kuna Pangeran Mandaraga merupakan anak Raja Joharsari. Pangeran Mandaraga memiliki dua anak laki-laki, satu berada di Bukabu (dikenal dengan Pangeran Bukabu), dan satunya lagi berada di Baragung (dikenal dengan Pangeran Baragung.

Makam di Rubaru

Di kecamatan Rubaru, tepatnya di desa Basoka, terdapat juga makam panjang. Tak hanya satu, di sana bahkan ada dua makam berukuran sekitar 10 meter lebih. Hanya saja kedua makam tidak berdampingan.

Makam tersebut dikenal masyarakat dengan sebutan Buju’ Lanjang. Lanjang merupakan bahasa Madura yang bermakna panjang.

Namun, hingga kini masih belum diketahui asal-usul dua buju’ tersebut. Sebab menurut warga sekitar, sejak dulu makam panjang itu sudah ada sejak desa Basoka masih berupa hutan belantara.

Warga setempat menilai, jika dua buju’ itu adalah suami-istri Landaur atau manusia terpanjang di daerah tersebut.

Masyarakat setempat juga percaya, sosok di sana itu dulunya adalah dua pasangan suami istri yang sakti.

Makam di Bluto dan Batang-batang

Menurut kisah K. Rifki, salah satu tokoh di Aengbaja, Bluto, di kawasan Bluto juga terdapat makam Landaur.

“Menurut kisah warga setempat makam Landaur memang ada di Bluto ini,” kata Rifqi.

Yang dikatakan Rifki ini juga dinyatakan oleh Rusydi salah satu warga Batang-batang. Yakni makam Landaur juga ada di Batang-batang.

“Kisah Landaur di Batang-batang sangat dikenal. Makamnya juga masih ada,” tutur Rusydi.

Dalam pantauan Mata Madura, di Batang-batang tak hanya ada makam Landaur, namun juga ada makam Buju’ Lanjang. Nama atau sebutan yang sama dengan yang ada di Rubaru.

“Kalau melihat kisah-kisah yang bertebaran itu, bisa jadi memang Landaur ini terdapat di beberapa tempat di Sumenep. Meski sifatnya folklore, namun ini merupakan kearifan lokal yang mesti dilestarikan,” kata Ja’far Shadiq, salah satu pemerhati sejarah di Sumenep.

“Kajian sejarahnya mungkin dalam sisi arkeologinya. Seperti peninggalan makam-makam kuna yang berukuran panjang itu,” tambah anggota Komunitas Ngopi Sejarah (Ngoser) ini.

RM Farhan

Bagikan di sini!
KOMENTAR

BELUM ADA KOMENTAR

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

TOTAL POSITIF
ORANG
Positif
TOTAL SEMBUH
ORANG
Sembuh
TOTAL MENINGGAL
ORANG
Meninggal
INDONESIA

POSITIF , SEMBUH , MENINGGAL

Indonesia
Sumber data : Kementerian Kesehatan & JHU. Update terakhir :
Bunda
Iklan
Lowongan

RA FUAD AMIN

CATATAN

OPINI DAN RESENSI

SASTRA

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional


kiasan

sangat cantik dan sempurna. Wajahnya bak rembulan, badannya seperti gitar Spanyol dan betisnya bak padi bunting  Bagai air di daun keladi  D...