Baca juga artikel terkait KERONCONG atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - pet / nqm)
Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti

Reporter: Petrik Matanasi
30 Agustus 2016

tirto.id - Buaya sering diidentikkan dengan laki-laki yang sering tebar pesona untuk para wanita. Di dunia keroncong, buaya diartikan sendiri. Buaya di dunia keroncong adalah untuk mereka yang suaranya menawan menyanyikan lagu-lagu keroncong. Mereka adalah idaman perempuan di masa lalu atas suara merdunya.
Menurut Windoro Adi dalam Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi (2010), pernah ada kumpulan pengamen remaja Indo-Belanda yang sering keliling bernama De Wandelende Kerontjong di akhir abad XIX di Betawi. Mereka juga dipuja gadis-gadis zaman itu, termasuk dari keluarga kelas menengah.
Musik keroncong, selain dipertunjukkan di panggung, kadang juga diperdengarkan di radio. Menurut Fandi Hutari, penulis buku Sandiwara dan Perang: Propaganda di Panggung Sandiwara Modern Zaman Jepang (2013), musik bersama lainnya keroncong sering diperdengarkan di NIROM Ketimoeran pada masa kolonial.
“Dari Kampung Tugu, keroncong berkembang ke Kemayoran tahun 1918-1919 di antara orang-orang Indo-Belanda. Musisi keroncong kemayoran yang populer saat itu antara lain Atingan, J. Dumas, Jan Schneider, Kramer, M Sagi, Any Landow dan Ismail Marzuki, "tulis Windoro Adi.
Tentu saja ada nama-nama lain yang juga populer selain yang disebut Windoro Adi. Belakangan, muncul nama-nama yang dianggap sebagai buaya keroncong seperti Tan Tjeng Bok, Kusbini, Gesang dan generasi setelah mereka ada Mus Mulyadi, Mantous dan lainnya.
Douglas Fairbank dari Hindia Belanda Berkeroncong
Seabad lalu, ini adalah pemuda Tionghoa peranakan yang begitu tergila-gila di panggung dunia. Ayahnya seorang guru silat Tionghoa, sementara seorang pejabat Betawi Jembatan Lima. Ia adalah Tan Tjeng Bok. Menurut Yunus Yahya, dalam bukunya Peranakan Idealis (2002), Tan Tjeng Bok yang sekolah hanya sampai kelas tiga Hollandsch Chineesche School (HCS) Braga, akhirnya memilih jadi anak panggung. Ayahnya menantang keras hasrat senior untuk mengusir Tan Tjeng Bok. Namun, ia tetap melakoni kegemarannya ini.
Sejak 1917, kompilasi usianya belum genap 20 tahum, Tan sudah mempertimbangkan jago menyanyikan lagu-lagu keroncong. Suka dia pernah membuat rekaman lagu keroncong seperti Stambul, Keroncong Kemayoran, Moritsko Merayap. Belakangan, Tan juga jadi aktor panggung tersohor di zamannya. Tan, yang juga sering diundang Item, terkenal bersama kelompok sandiwara Dardanella. Menurut Fandi Hutari, kelompok Sandiwara pimpinan Piedro ini pernah keliling dunia. Namun, Tan tak ikut keliling dunia bersama Piedro dan memilih membangun kelompok sandiwara sendiri sambil memilih hanya.
Meskipun sudah terkenal jauh sebelum tahun 1940an, bahkan dijuluki Douglas Fairbank dari Hindia Belanda, Tan baru ikut film kompilasi usianya sekitar 40an tahun. Meski lebih dikenal sebagai pemain sandiwara, juga film, Tan masih bernyanyi. Suatu saat, Presiden Soekarno tidak pernah bertemu Tan. Ternyata, Soekarno sudah kenal nama Tan Tjeng Bok yang terkenal di dunia sandiwara. Dalam buku Peranakan Idealis, dijelaskan Soekarno sumringah bertemu Tan dan menunjuk ke dada kiri Tan. Adegan ini diabadikan. Fotonya disimpan di rumah Tan.
"O, ini toh Tan Tjeng Bok? Ayo ke sini ... nyanyi sama-sama saya! "Ajak Soekarno. Kemudian Tan dan Sang Presiden berkoncong ria. Tan pun sering diundang Presiden Soekarno bernyanyi. Tan tentu saja bisa memenangkan pertarungan Besar Revolusi Indonesia. Kesan Tan," Bung Karno itu suaranya enak. "
Tan Tjeng Bok lebih bisa mengingat generasi sekarang, karena rekaman lagu-lagu keroncong Tan yang disetujui di awal abad lalu, masih bisa ditemukan dunia maya. Sebelum memulai, Tan, tak bisa diabadikan dalam rekaman piringan hitam dan tak direkam dalam sejarah. Generasi setelah Tan, lebih banyak lagi penyanyi keroncong yang bisa merekam dan dikenal.

Kusbini, Bram Atjeh dan Gesang
Nama Kusbini, dikenal sebagai penggubah lagu Bagimu Negeri. Lagu yang sering diputar dalam acara-acara nasional di Indonesia. Meski Kusbini pernah dituduh membajak lagu ini dari J Sumedi, namun pengadilan memutuskan Kusbini adalah penggubahnya. Sebelum menggubah lagu-lagu perjuangan, Kusbini termasuk penyanyi keroncong.
Tak hanya bernyanyi, Kusbini juga terkadang mengaransemen lagu. Dia pernah mengaransemen lagu legendaris Nina Bobo. Lagu-lagu yang pernah dibawakannya adalah Cinta Tanah Air, Merdeka, Pembangunan, Salam Merdeka, Keroncong Purbakala, Pamulatsih, Bintang Senja Kala, Keroncong Sarinande, Keroncong Moresko, Dwi Tunggal, Ngumandang Kenang.
Menurut RZ Leiriza, dalam Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan (1990), di awal-awal karirnya sebagai kolaborasi, pada zaman kolonial sejak 1935 hingga 1939, Kusbini adalah pemain biola, pemain yang sering bermain untuk radio NIROM dan sebagai pemain di rumah produksi pringan hitam Hoo Soen Hoo. Di masa pendudukan Jepang, Kusbini tetap menjadi penonton di radio militer Hosyo Kenri Kyoku. Di masa revolusi barulah dia membuat lagu-lagu perjuangan.
Di antara buaya keroncong yang lahir sebelum tahun 1920an, selain Tan Tjeng Bok dan Gesang, ada suara Abraham Titeley alias Bram Aceh yang juga masih bisa ditemukan masih bisa ditemukan di dunia maya. Ia terlahir dari keluarga Ambon di Aceh. Ayahnya bekerja di bagian musik militer KNIL Aceh. Bram yang suka bernyanyi itu, serius di musik. Karena lahir besar di Aceh juga, nama Aceh melekat di belakang nama panggilannya. Menjadi Bram Aceh.
Bram rekaman pertama di tahun 1934. Lagu-lagu yang pernah dibuatnya antara lain Selamat Tinggal Kota Betawi dan Sapa Suruh Datang Jakarta (1977). Selain keroncong, Bram bermain musik Hawaii. Di tahun 1940an, Bram dikenal sebagai buaya keroncong. Pada tahun 1955, Bram memenangkan kontes keroncong Jakarta Raya. Di masa tuanya, Bram masih terus bernyanyi. Kebiasaan bernyanyi menurun ke cucu-cucunya, yang terkenal di jalur musik pop seperti Harvey Malaiholo, Irma June dan Glenn Fredly.
Selain nama-nama besar di atas, tentu saja laki-laki sederhana bernama Gesang Martohartono tak bisa dilupakan dari khazanah keroncong Indonesia. Siapa yang tak kenal lagu Bengawan Solo (1940)? Hampir semua orang Indonesia mengenalnya. Lagu ini bahkan terkenal sampai ke Jepang dan Tiongkok. Pernah muncul juga dalam sebuah film mandarin berjudul The Sun Also Rise (2007). Bahkan dalam film karya sutradara legendaris Jepang, Akira Kurosawa, Nora Inu (1949). Lagu ini pernah dibawakan Oslan Husein dengan irama yang agak membahas rock n roll, menurut David Tarigan dari Irama Nusantara.
Menurut Denny Sakrie, dalam 100 tahun Musik Indonesia (2015), Gesang hanya dikenal sebagai penyanyi keroncong yang bernyanyi di hajatan kecil-kecilan di sekitar Solo sebelum lagu itu tercipta. Selain Bengawan Solo, Gesang juga membuat lagu selain menyambut masyarakat jauh dari meriah. Gesang pernah menggubah Keroncong Roda Dunia, Keroncong Si Piatu dan Sapu Tangan.
Bengawan Solo sendiri tercipta kompilasi Gesang Martohartono kompilasi duduk melamun di tepi Bengawan Solo. Gesang menghayati dan mengagumi kali penting di Jawa Tengah itu. Lalu dia memutuskan menulis lagu itu. Setelah bekerja keras 6 bulan, lagu itu tercipta. Berpuluh-puluh tahun setelah tercipta, lagu ini sering diputar dan diaransemen dengan berbagai versi. Lagu ini masuk dalam 150 Lagu Terbaik Versi Indonesia Majalah Rolling Stone 2009. Lagu ini membuktikan Gesang juga salah satu Buaya Keroncong Indonesia.
Baca juga artikel terkait KERONCONG atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - pet / nqm)
Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Bintang sandiwara tempo dulu, Tan Tjeng Bok, juga piawai berkeroncong
Tahun 1661 setelah Maluku berhasil diduduki oleh VOC, sekumpulan orang Portugis beserta keluarganya sebagian bermukim di kampung Tugu.Di kampung Tugu mereka membentuk budaya nya sendiri dan mendirikan perkumpulan orkestra masih bergaya Portugis juga.Banyak orang meyakini nama Kampung Tugu sendiri diambil dari kata Por-tugu-ese.Sulitnya orang Pribumi menyebut kata Portuguese,dengan membuang penyebutan awalan dan akhiran-nya.Maka disebutlah “Tugu”.Kemudian menjadi nama kampung itu: desa Tugu.
Sejarah awal masuk keroncong di Batavia erat kaitannya dengan keberadaan kampung/desa Tugu(sekarang menjadi wilayah Cilincing Jakarta Utara ).”Tanpa peranan orkestra Keroncong Tugu, musik keroncong Indonesia tidak akan pernah lahir seperti sekarang ini”(Viktor Ganap,2015).
Tahun 1920 di Batavia berdiri orkestra”Keroncong Lief de Java (Oud Batavia)”.Yang disponsori orang Belanda.Pemainnya pun campuran Belanda-Betawi.Mereka lantas memoderenisasi musik keroncong asal kampung Tugu itu kedalam irama Jazz, dengan tidak mengaburkan irama keroncongnya.Syairnya berbahasa Indonesia dalam lenggam Betawi-Melayu-dan Jawa.Peralatannya: gitar, melodi, ukulele (cuk), bass dan seruling.
Kehadiran pemusik keroncong Tugu awal mulanya sekedar untuk membawakan lagu-lagu yang bernuansa melankolis dalam bahasa Portugis.Seiring dalam perkembangannyannya, dari komunitas pemusik Tugu lahirlah orkestra Keroncong Kemayoran(1922). Orkestra Keroncong Kemayoran selalu mendapat panggilan dari orang-orang Belanda dan hartawan Cina untuk memeriahkan pesta perkawinan atau pesta-pesta ulang tahun di pemukiman-pemukiman Belanda-Eropa.
Alat-alat musik yang dipakai Orkestra Kemayoran pada masa itu memang sesuai dengan ciri khas alat musik Keroncong: Biola, Ukulele (Cak), Rebana dan Gitar pengiring.Orkestra Kemayoran selalu tampil dengan berpakaian seragam khas Betawi, yaitu jas tutup dan kain batik.Lagu Keroncong Kemayoran kemudian mulai di populerkan oleh Benyamin Sueb yang merupakan ikon Betawi saat itu.
Pada tahun 1929 di daerah Kemayoran berdiri Orkes Keroncong Fajar oleh bapak Suratman. Sebagai penyanyi: Suratmi dan Safi’i. Peralatan yang dipergunakan ditambah dengan alat-alat musik yang mulai beranjak lebih modern: Ukulele (Cuk), Cello, Bass dan Gitar Melodi.
Kini, lebih kurang hampir seabad lamanya Keroncong mengalami banyak perubahan.Lagu keroncong Kemayoran, Moressco, dan Cafrinyo (Kaparinvo), merupakan syair Keroncong asli Kemayoran yang merakyat di zaman itu. Syair lagunya memang lahir dari Keroncong Tugu, tapi penciptanya sampai kini tidak diketahui.
Lirik lagu Keroncong Kemayoran;
La la la la la la la laaa
Laju laju perahu laju
Jiwa manis indung disayang
La la la la la la la la oo
Lajulah sampai lajulah sampai ke Surabaya
Ikan pepes dari Cianjur
Kantongnya kempes pacarnya kabur
La la la la la la la laaa
Biarlah lupa kain dan baju
Jiwa manis indung disayang
La la la la la la la la oo
Janganlah janganlah lupa suara saya
Buah Kedondong di pinggir kali
Lagu keroncong merdu sekali
La la la la la la la laaa
Terang bulan terang di kali
Jiwa manis indung disayang
La la la la la la la la oo
Buaya timbul buaya timbul disangka mati
Makan bubur di pagi hari
Kekasih kabur cepat cari ganti
La la la la la la la laaa
Jangan percaya mulut lelaki
Jiwa manis indung disayang
La la la la la la la la oo
Berani sumpah berani sumpah hai kawin lagi
Burung dara tinggi terbangnya
Dengar suara ini orangnya
La la la la la la la laaa
Ani-ani bukannya wajah
Jiwa manis indung disayang
La la la la la la la la oo
Buat memotong buat memotong padi di sawah
Dari Malang ke Surabaya
Jikalau pulang bersama-sama
La la la la la la la laaa
Saya nyanyi memang sengaja
Jiwa manis indung disayang
La la la la la la la la oo
Untuk menghibur untuk menghibur hati yang luka
Kedongdong di atas peti
Ini Keroncong mohon berhenti
Kedongdong di atas peti
Ini Keroncong mohon berhenti

Salah satu kampung tua di Jakarta. Nama kampung berasal dari kata mayor yang merupakan "jabatan (pangkat)" yang diberikan pemerintah Belanda kepada orang yang bertugas menarik pajak. Jabatan mayor diberikan kepada orang Belanda dan juga orang Cina, yang karena jabatannya bisa kaya dan memiliki tanah-tanah luas, sehingga disebut sebagai "tuan tanah". Pada masa Belanda, Kemayoran merupakan sebuah Wekmeester yang dipimpin seorang Bek. Setelah Indonesia merdeka, Kemayoran menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Sawah Besar, Kawedanan Penjaringan. Pada tahun 1963-1968, dimasukkan ke dalam wilayah Kecamatan Senen dan wilayahnya meliputi lima kelurahan, yaitu Gunung Sahari Selatan, Kemayoran, Kebon Kosong, Serdang dan Harapan Mulia.
Pada mulanya penduduk Kampung Kemayoran adalah orang Betawi. Setelah dikuasai Belanda mulai muneul para pendatang dari Cina, India, Sumatera, dan Indonesia bagian timur yang dijadikan pekerja dalam pembuatan jalan, parit-parit, atau ikut dalam wajib militer untuk menghadapi Sultan Hasanuddin dan Sultan Agung dari Mataram. Ada juga orang Indo (eampuran Belanda dan Indonesia) yang tinggal di komplek tentara di Jl. Garuda. Bahkan setelah PD II banyak bekas tentara Belanda yang menetap di Kemayoran. Sekitar tahun 1930-an, Kemayoran pun terkenal sebagai pemukiman kaum Indo-Belanda, sehingga muncul sebutan Belanda Kemayoran. Selain itu juga ada pendatang dari Jawa, kaum priyayi rendah yang bekerja sebagai pangreh praja. Semula para pendatang dipandang negatif karena dianggap berasal dari golongan orang susah, namun dengan adanya komunikasi diantara mereka anggapan tersebut mulai berubah bahkan penduduk asli mulai terpengaruh untuk bekerja keras demi kesejahteraan keluarganya. Dengan dibukanya lapangan terbang Kemayoran tahun 1935, mereka mulai merambah bidang kerja selain petani, sebgai pedagang keliling, perbengkelan, atau berjualan alat-alat rumah tangga.
Di Kampung Kemayoran banyak berkembang berbagai seni budaya daerah, diantaranya keroncong. Contohnya sebagai berikut:
Ani-ani bukannya waja
Memotong padi di gunung
Saya menyanyi bukan sengaja
Menghibur hati nan bingung
Reff: Olele di Kotaraja
Bole enggak boleh
Dibawa saja
Sepenggal lagu keroncong itu menjadi simbol kebanggaan penduduk Kemayoran, kampungnya musik keroncong, yang terkenal pada masa Hindia Belanda. Syairnya tidak terikat kepada suatu cerita bersambung, melainkan pantun-pantun lepas yang diingat secara improvisasi tatkala bernyanyi dan kadang-kadang tidak ada kaitan dialog satu sama lainnya, asalkan efek pantun mengenai sasaran dengan sindiran lueu, gembira dan tidak menyinggung perasaan lawan bernyanyi. Irama Keroncong Kemayoran bukanlah irama "kendangan" yang kemudian dinamakan "keroncong beat", melainkan irama "kocokan" (Belanda: roffelen) menurut pembawaan keroncong masa-masa permulaan.
Tidak hanya keroncong yang digemari masyarakat saat itu tetapi juga Robana Gembrung, Wayang Kulit, Tanjidor, Cokek (Cokek Ken Bun), orkes Gambus, Gambang Kromong, dan Dermuluk masih mendapat tempat di hati mereka. Keroneong Tugu banyak mendapat pengaruh dari Portugis dan berkembang menjadi keroneong yang sampai kini dan merupakan lanjutan dari keroncong Oud Batavia (lief de Java) dan keroncong asli Kemayoran. Kelompok-kelompok orkes keroncong yang ada di daerah Kemayoran selain orkes Keroncong Kemayoran sendiri adalah kelompok Lief de Java yang disponsori orang Belanda dengan para pemain campuran orang Belanda dan Indonesia, orkes Keroncong Fajar(1929), orkes Keroncong Sinar Betawi, dan orkes Keroncong Suara Kemayoran (1957). Mereka tampil dengan memakai pakaian seragam khas Betawi, yaitu jas tutup dan kain batik. Sedang bentuk rumah tradisional di daerah Kemayoran banyak menggunakan rumah model joglo dan bapang. Ada juga rumah koko yang bentuk dan teknik pembuatannya tidak jauh berbeda dengan rumah joglo Betawi. Untuk adat perkawinan di Kemayoran hampir sama dengan masyarakat di Jakarta.
sangat cantik dan sempurna. Wajahnya bak rembulan, badannya seperti gitar Spanyol dan betisnya bak padi bunting Bagai air di daun keladi D...