Saturday, February 29, 2020

Tanujiwa



Setelah kerajaan Pajajaran Runtuh selama satu abad sejak 1579, kota yang pernah berpenghuni 50.000 jiwa itu menggeliat kembali menunjukkan ciri-ciri kehidupan.
Reruntuhan kehidupannya mulai tumbuh kembali berkat ekspedisi yang berturut-turut dilakukan oleh Scipio pada tahun 1687, Adolf Winkler tahun 1690 dan Abraham van Riebeeck tahun 1703, 1704 dan 1709. 
Dalam memanfaatkan wilayah yang dikuasainya, VOC perlu mengenal suatu wilayah tersebut terlebih dahulu. 
Untuk meneliti wilayah dimaksud, dilakukan ekspedisi pada tahun 1687 yang dipimpin Sersan Scipio dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanujiwa, seorang Sunda Sumedang.
Dokumen tanggal 7 November 1701 menyebut Tanujiwa sebagai Kepala Kampung Baru dan kampung-kampung lain yang terletak di sebelah hulu Ciliwung, De Haan memulai daftar bupati-bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari tokoh Tanujiwa (1689-1705) walaupun secara resmi penggabungan distrik-distrik baru terjadi pada tahun 1745.

Kisah penemuan bekas-bekas kerajaan oleh Scipio kemudian berlanjut dalam catatan Adolf Winkler (1681) dan Abraham van Riebeeck (1703, 1704, 1709) yang masing-masing membuat lebih banyak catatan penting tentang bekas-bekas Kerajaan Pajajaran.
Sementara itu, temuan-temuan bekas Kerajaan Pajajaran dalam ekspedisi Scipio membuat Tanujiwa tertarik dan memutuskan untuk pindah serta menetap di Parung Angsana yang lalu dijadikannya Kampung Baru. 
Bersama pasukannya Tanujiwa kemudian juga mendirikan beberapa kampung lain, yaitu Parakan Panjang, Parung Kujang, Baranang Siang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Parung Banteng dan Cimahpar. 

Pada 1912, F. De Haan dalam bukunya memulai daftar bupati Bogor (Kampung Baru) dengan Tanujiwa sebagai bupati pertama (1689-1705). 
Versi yang berbeda terdapat dalam Babad Bogor (1925) yang tidak mencantumkan Tanujiwa melainkan Mentengkara atau Mertakara (Kepala Kampung Baru ketiga, 1706-1718) sebagai “bupati pertama” Bogor. 

Dokumen tertua yang mencantumkan nama Bogor barasal dari tanggal 7 April 1752. Dokumen tersebut tertulis nama Ngabei Raksacandra sebagai hoofd van de Negorij Bogor (kepala Kampung Bogor) 
Saat itu Kampung Bogor terletak di lokasi tanaman kaktus dalam Kebun Raya Bogor sekarang. 
Sedangkan pasar yang didirikan di dekat kampung dinamakan Pasar Bogor dan masih berdiri dengan nama dan lokasi yang sama hingga sekarang.
Lukisan Rumah Kediaman Baron Van Imhof 1744, cikal bakal Istana Bogor

Pada tahun 1745 mulai muncul Regentschap Kampung Baru atau Regentschap Buitenzorg yang merupakan gabungan 9 buah distrik yaitu Cisarua, Pondok Gede, Ciawi, Ciomas, Cijeruk, Sindang Barang, Balubur, Darmaga, dan Kampung Baru. 
Regentschap ini dikepalai oleh seorang Demang. Tentang nama Buitenzorg yang lalu menjadi nama lama wilayah Bogor, tentu ada kisahnya sendiri. 

Pada tahun 1744 Gubernur Jenderal Baron van Imhoff mendirikan sebuah istana-villa di Cipanas. Di antara benteng Batavia dengan Cipanas dibangun pula sebuah rumah sederhana sebagai tempat peristirahatan dalam perjalanan. Rumah istirahat sederhana (di lokasi Istana Bogor sekarang) ini biasa disebut sans-souci, dari bahasa Perancis yang berarti tanpa kesibukan. 
Saat itu di Eropa Barat memang sedang trend paham romantisme yang menganjurkan agar manusia kembali ke alam. 
Sans souci sama dengan buitenzorg dalam bahasa Belanda dan karena itulah nama buitenzorg kemudian melekat pada rumah istirahat Van Imhoff.

Ketika Jakarta ditaklukkan oleh Jan Pieterzoon Coen pada tahun 1619, daerah hulu atas dan sekitarnya, yang dahulunya dimusnahkan Sultan Maulana Hasanudin, ditemukan masih sangat liar dan tidak berpenghuni. 
Hanya bekas-bekas daerah yang pernah dihuni oleh Sultan masih dapat dijumpai sisa-sisanya di beberapa perkebunan penduduk Jakarta. 
Sebelum Jakarta ditaklukkan, Pangeran diturunkan dari tahta oleh Sultan Banten, sehingga Pangeran beserta keluarganya menyingkir ke pegunungan (tidak diceritakan sejarah kelanjutannya) 
Ketika Jakarta ditaklukkan, seluruh penduduk pribumi dibawa oleh Sultan Banten ke Bantam. 
Pada akhir abad 16 dan awal abad 17, daerah hulu atas Jakarta yaitu sepanjang tepi sungai Citarum mulai dihuni beberapa golongan penduduk. 
Di sebelah timur tepi sungai dihuni oleh keluarga suku Jawa, sedang di sebelah barat sungai dihuni oleh keluarga Sunda asal Preanger dan Bantam. 
Menurut catatan harian, tanggal 24 Agustus sampai 15 Oktober 1689 diceritakan kejadian pengejaran pendudukan yang dianggap pengacau dan telah menyebabkan terbunuhnya kaki tangan Kompeni Belanda yaitu Kapten Jonker yang berdarah Ambon.
Selanjutnya terjadi pengembangan perkampungan di sepanjang hulu atas Jakarta yang dihuni oleh orang-orang Sunda diantaranya :
. Tjitrap (Citeurep) dipimpin regent (Kepala Daerah) Aria Soeta.
. Bambo, tidak diketahui siapa yang menjadi Kepala Daerah.
. Tjilingsi (Cileungsi) dan Jimapack (Cimapak) dipimpin oleh 2 regent yaitu Kyai Mas Harya Wangsa dan Kyai Wangsa Koesoemo.
. Tjikias (Cikeas) dipimpin oleh regent Anggaber Wangsa dan lurah Angajaya.
. Tjikalong (Cikalong) dipimpin oleh Aria Nata Menggala.
Kedua daerah yang disebut terakhir yaitu Cikeas dan Cikalong akhirnya menjadi daerah Tjiandjoer (Cianjur). 
Daerah tersebut oleh kerajaan Mataram telah diserahkan kepada Kompeni Belanda pada tahun 1677. 
Pada mulanya para Kepala Daerah di atas tidak mengakui Pemerintahan Kompeni Belanda. Baru setelah ditandatangani perjanjian pada tahun 1705 antara Kompeni Belanda dengan Mataram, maka barulah mereka mengakui Kompeni Belanda dan menghadap ke Batavia. 
Pertengahan abad 17, Cianjur dihuni oleh Kyai Wira Tanoe dari Telaga, Cirebon, dengan penduduk kurang lebih 3000 orang. 
Keluarga regent Cianjur berpindah-pindah dari satu keluarga ke keluarga yang lain. Usaha pertama untuk menghuni kembali daerah hulu atas Jakarta adalah atas prakarsa Kompeni, yaitu Gubernur Jenderal Camphuis dan dilaksanakan oleh Sultan Tanujiwa dengan sekelompok pekerja dari Sumedang. 
Mereka bergerak ke daerah bekas Kerajaan Pajajaran yang masih luas. 
Letnan Tanujiwa dan pengikutnya membangun daerah baru dengan nama Kampung Baru, dengan Letnan Tanujiwa sebagai regent, yang diwajibkan melapor pada Kapten Winkler. 
Tahun 1690, Gubernur Jenderal Camphius mengeluarkan perintah untuk membuat peta Kampung Baru.

Kampung Baru yang didirikan oleh Tanujiwa terletak di Cipinang (Jatinegara) dan di Bogor. 
Yang di Bogor mula-mula bernama Parung Angsana, sekarang tempat itu bernama Tanah Baru. 
Parung Angsana sebagai tempat kedudukannya sudah merupakan semacam “pusat pemerintahan” bagi kampung-kampung yang didirikan oleh Tanujiwa beserta pasukannya yaitu Parakan Panjang. Parung, Kujang, Panaragan, Bantarjati, Sempur, Baranang Siang, Parung Banten dan Cimahpar. 
Dokumen yang dikutip oleh Den Haan (1912) menyebut Tanujiwa beserta anak buahnya berada di Kampung Baru, Pajajaran dan daerah sebelah hulunya. 
Dengan demikian Tanujiwa telah ditunjuk sebagai pemimpin koloni di sebelah Selatan Cikeas. 
Den Haan mengawali daftar bupati-bupati Bogor (Kampung Baru) dengan tokoh Tanu­jiwa ini (1689-1705) walaupun secara resmi peng­gabungan "distrik-distrik" Kabupaten Kampung Baru ter­jadi tahun 1745. 

Kedekatan batin Tanujiwa dengan Pajajaran telah melonggarkan ketaatannya terhadap Kompeni. la merasakan kepahitan bahwa seorang letnan pribumi tetap harus tunduk kepada seorang sersan hanya karena ser­san itu seorang Belanda. 
Akhirnya Tanujiwa menjadi sekutu dan pelindung Haji Perwatasari yang bangkit mengangkat senjata terhadap perluasan daerah kekua­saan VOC. 
Mereka kalah dan dibuang ke Tanjung Harapan di Afrika.

TANUJIWA adalah generasi ke 3 dari Raja Pajajaran terakhir yaitu PRABU SURYAKENCANA/RAGAMULYA, silsilahnya adalah : TANUJIWA bin SANTOWAN KADANG SERANG bin RADEN AJIMANTRI bin PRABU SURYAKENCANA. 
Kalau Pajajaran tetap berdiri, tidak mustahil dia sebagai nominator penerus tahta berikutnya.
Dalam sebuah artikel/blog dari Trah Keturunan Sumedang Larang dinyatakan bahwa dalam silsilah keluarga besar keturunan Kerajaan Sumedang Larang tidak ditemukan sosok Tanujiwa, akan tetapi nama yang diawali "Tanu" memang ada dan popular pada masanya seperti : Tumenggung Tanumadja (1706–1709) dan Adipati Tanubaya (1773-1775) 
Dalam hal ini menguatkan analisa bahwa Tanujiwa bukan orang Sumedang melainkan orang Pakuan/Pajajaran yang diberi nama oleh orang tuanya mengikuti nama-nama yang populer di Sumedang pada jaman itu. 

Menurut catatan "Buk Sakawayana" Sunan Amangkurat I Sultan Mataram ke 4 (1646-1677) menikah dengan saudara sepupu Tanujiwa yaitu Raden Apun Pananjung atau Ratu Kulon I, kalau melihat kekerabatan dan tahun kelahirannya tidak tertutup kemungkinan mereka diikut-sertakan sebagai prajurit Kesultanan Mataram dibawah pimpinan Adipati Ukur yang berangkat pada periode kedua Mei 1629. 
Tanujiwa dikalkulasi lahir pada tahun 1615, Kyai Singa Manggala dikalkulasi lahir pada 1612 dan kakak tertuanya Tanduran Sawita dikalkulasi lahir pada tahun 1610, jadi umur mereka pada saat Mataram menyerang Batavia adalah Tanujiwa antara 13-16 tahun, Kyai Singa Manggala antara 17-20 tahun dan Kyai Perlaya antara 19-22 tahun. 

terjadi beberapa kejadian besar di tatar sunda diantaranya :
- terjadinya perang saudara di Banten antara Sultan Abdul Fattah/Sultan Ageng Tirtayasa dengan anaknya yang bergelar Sultan Haji
- terjadinya pemberontakan Haji Prawatasari/Raden Alit dari Jampang yang menyebabkan Belanda banyak kerugian
- perjanjian baru antara Mataram dan Belanda VOC pada tanggal 5 oktober 1705, pulau jawa bagian barat dipecah menjadi beberapa bagian, antara lain :
Batavia
Kampung Baru (Buitenzorg)
Cianjur
Sukabumi
Jampang
Kabupaten Bandung, Sumedang, Karawang, Sukapura
Daerah bekas Cirebon Galuh dan Gebang

Setelah Pajajaran runtuh di oleh Kesultanan Banten, di Bogor tidak ada bupati ataupun wakil pemerintahan dari Banten, seperti Batavia dimana pihak Banten mengangkat bupati/adipati  Tubages Angke. 
Bogor dibiarkan menjadi hutan belantara yang baru dibuka lagi sekitar tahun 1687 oleh Scipio, artinya walaupun pakuan telah diruntuhkan oleh Banten, tetapi Pakuan bukanlah bawahan dari kesultanan Banten, mungkin hal ini karena penghormatan/rasa sungkan sultan Banten terhadap Prabu Siliwangi yang merupakan masih leluhur Banten juga. 
Setelah Mataram dikalahkan VOC/Belanda, bogor menjadi bawahan VOC/belanda, Cianjur yang letaknya paling dekat dengan Bogor dan mempunyai pemerintahan (bupati) dipercaya untuk membuka hutan yang dahulunya ibukota Pajajaran tersebut, dilihat dari bupati Cianjur juga masih keturunan Prabu Siliwangi sang maharaja tatar sunda. Karena yang menjadi Adipati/Bupati Bogor/Kampung Baru adalah anak Aria Wiratanudatar II, otomatis Bogor merupakan bawahan Cianjur saat itu.

pada masa pemerintahan Tumenggung Wiradireja, wilayah Bogor sudah kedatangan/masuk anak/keturunan Sultan Banten Sultan Abdul Fatah/Sultan Ageng Tirtayasa yang saat itu terjadi perang di tanah Banten, adapun anak anak Sultan Abdul Fatah ini adalah Pangeran Sake/Sholeh (makam Citeureup) Pangeran Sageri (makam Jatinegara Kaum) 
Pada masa berikutnya anak R Tumenggung Wiradiredja, yaitu RH Thohir pendiri mesjid empang, merupakan dalem kampung baru yang dimakamkan di empang, menikah dengan anak dari Pangeran Sageri bin Sultan Abdul Fath (Ageng Tirtayasa) yaitu Ratu Syarifah. 
Tumenggung Wiradireja dimakamkan di Sukaraja, faktor ini juga yang membuat ulama besar kelahiran Cianjur KHR Abdullah Bin Nuh dimakamkan di Sukaraja karena beliau juga masih keturunan Dalem Aria Wiratanudatar (Cikundul)

R Aria Jayanegara/Aria Banceuy, putra Dalem Muhidin, Beliau adalah ayahanda dari ulama besar Syekh Yusuf (Baing Yusuf/RH Yusuf) yang dimakamkan di kaum Purwakarta, Syekh Yusuf adalah guru dari ulama besar yang mendunia Syekh Nawawi Albantani, seorang penulis kitab kuning yang dimakamkan di jannatul Mala Mekah. 
R Aria Jayanegara adalah kakak dari Nyi R Hamsyiah yang merupakan istri dari Adipati Suryalaga II (Dalem Talun, Sumedang) yang juga pernah menjabat jadi bupati Bogor kemudian dipindahkan ke Karawang.

Di Pasirkuda yang menuju Pancasan ada jalan "Aria Suryalaga", beliau adalah salah satu adipati/bupati Bogor yang keturunannya banyak dimakamkan di belakang mesjid AlHuda, Gunung Batu/Pasir Kuda, Bogor.
Raden Tumenggung Suryalaga II adalah putra ke 4 dari Dalem RAA. Suryalaga I, Bupati Sumedang ke 10 (1765-1773) 
Ketika masih anak-anak, namanya ialah Raden Ema dibesarkan bersama-sama Raden Jamoe saudara sepupunya. 
Dia putra bupati Sumedang ke 9 yang bernama Raden Adipati Surianagara (1761-1765) 
Pada saat ayahnya RAA. Surialaga I wafat pada tahun 1773, Raden Ema masih berusia 9 tahun dan Raden Jamoe 11 tahun. 
kedua-duanya belum cukup dewasa untuk menjadi pengganti Ayahnya menjadi Bupati Sumedang. Baik Raden Jamu maupun Raden Ema harus menunggu dewasa untuk menjadi Bupati Sumedang, akhirnya selama 3 periode masa jabatan Bupati Sumedang dipimpin oleh Bupati Penyelang atas pilihan Belanda.
Pada masa itu ada kebiasaan bahwa yang diangkat sebagai pengganti bupati suatu daerah haruslah keturunan langsung daripada bupati yang sebelumnya, artinya harus keturunan bupati setempat atau keluarga dekatnya. 
Tentu saja yang dianggap akan setia kepada “pemerintah agung” yaitu Kompeni Belanda. Kalau calon yang berhak dianggap akan bersikap memusuhi Belanda, biasanya disingkirkan dengan berbagai cara.
Baru kalau dari antara keluarga bupati setempat tidak ada yang layak diangkat sebagai pengganti, dicarilah calon dari tempat lain yaitu yang sudah diketahui kecakapan dan kesetiaannya. 
Dalam hal ini agaknya Tumenggung Tanubaya dianggap memenuhi syarat itu.
Walaupun dengan perasaan kurang puas, namun keluarga menak Sumedang menerima pengangkatan itu karena memang calon Sumedang yang berhak sendiri masih belum sampai umur. 
Tetapi ketika dua tahun Tumenggung Tanubaya berhenti, ternyata yang diangkat bukanlah Jamu yang ketika itu sudah dewasa, melainkan Tumenggung Patrakusumah menantu Tumenggung Tanubaya. 
Tindakan pemerintah Belanda itu menimbulkan rasa tidak puas di kalangan keluarga menak Sumedang, tetapi juga menimbulkan kecurigaan di pihak Tumenggung Tatrakusumah sendiri.
Suasananya sedemikain rupa sehingga Jamu menganggap perlu untuk menghindar dari Sumedang. 
Plot ini telah menyebabkan seorang pengarang Sunda yang terkemuka, Memed Sastrahadiprawira (1897–1932) menulis sebuah roman berdasarkan riwayat hidup Jamu, berjudul Pangeran Kornel (1930) yang sudah pula diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Abdul Muis (1948) 
Di dalam roman itu Memed menampilkan seorang tokoh (yang mungkin) fiktif, yaitu Demang Dongkol yang dilukiskan sebagai penghasut yang makin mengeruhkan hubungan antara Jamu dengan Tumenggung Patrakusumah, walaupun yang terakhir itu telah mengambil Jamu sebagai menantu.

Jamu melarikan diri ke Malangbong, kemudian ke daerah Cianjur. 
Di Cianjur dia mendapat perlindungan dan kepercayaan dari Raden Aria Adipati Wiratanudatar VI yang ketika itu menjadi bupati (1776-1813) 
Bupati Wiratanudatar yang pernah mengenal ayah Jamu, bersimpati kepada anak muda itu. 
Diberinya pekerjaan di lingkungan kabupaten dan ketika terbuka lowongan Kepala Cutak Cikalong Wetan, maka ditempatkannya di sana. 
Jamu pun dinikahkan dengan salah seorang kerabatnya.
Ketika Jamu duduk sebagai Kepala Cutak Cikalong Wetan itulah datang Ema Surialaga, adik sepupunya, yang juga merasa kurang aman hidup di tempat kelahirannya sendiri (Sumedang) 
Ema pun mendapat simpati bupati Wiratanudatar. Dia diangkat sebagai jurutulis kabupaten, kemudian ketika ada lowongan diangkat sebagai mantri gudang kopi di Bogor, bahkan kemudian menjadi bupati Bogor, bupati Karawang dan bupati Sukapura. Ema mengundurkan diri dari jabatan terakhir itu atas permintaannya sendiri.

Pada saat Pangeran Kusumadinata IX/Pangeran Kornel menjadi Bupati Sumedang ke 14 (1791–1828) Raden Ema Suryalaga ditunjuk sebagai Mantri Gudang Kopi di Bogor antara tahun 1784-1789 (perkebunan Kopi di Bogor terkenal kualitasnya terbaik, berada di daerah Cibalagung, Ciomas) 
Dalam posisinya sebagai Mantri Gudang Kopi juga sebagai ningrat keturunan Sumedang Larang, karena usianya sudah cukup matang kedua orang tuanya menikahkan Raden Ema dengan Nyi Raden Hamsyah putri ke 14 dari Dalem Aria Wiratanudatar V/Kyai Muhidin, Bupati Cianjur dan menetap di Cibalagung-Bogor.
Belanda memindahkan pusat pemerintahan dari Batavia ke Buitenzorg pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1810) 
Dengan sendirinya Buitenzorg disamping dikepalai oleh seorang Bupati juga terdapat Residen, Jaksa dan Gubernur Jenderal. Bupati yang menjabat di Buitenzorg tentunya harus memiliki Qualifikasi yang lebih dibanding daerah lainnya, oleh karena itu mengingat kecakapan dan pengalaman yang dimiliki RTA Suryalaga II cukup menonjol juga karena sudah menguasai daerah Bogor/Buitenzorg, sekitar tahun 1801 ditunjuk menjadi Bupati Buitenzorg selama lebih kurang 10 tahun (1801-1811)

Pada tahun 1811 Belanda kalah perang dengan Inggris, sehingga wilayah jajahan Belanda beralih kepada Inggris. Begitupun di Jawa, pergantian penguasa penjajah mengakibatkan banyak kebuntuan pada pemerintahan daerah termasuk Karawang. Pada masa gubernur jenderal Thomas Stamford Raffles banyak Bupati yang diganti dan dirotasi, termasuk Karawang.
Pada tahun 1811 Bupati Karawang dijabat oleh Raden Aria Sastradipura sebagai Bupati ke 6, oleh penguasa baru pada tahun 1811 digantikan oleh Raden Adipati Suryalaga II selama 2 tahun (1811-1813)
Dalam waktu yang hampir berbarengan, di Cirebon tepatnya di daerah Tomo (Kadipaten) terjadi kerusuhan yang akhirnya kerusuhan tersebut dapat dipadamkan atas dukungan RT. Suryalaga II yang akhirnya mendapatkan gelar Adipati dan kemudian dipindahkan ke Dermajoe (Indramayu)

Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles berdasarkan usulan Residen Bogor J.Mc.Quid jeung van Lawick van Pabst di Buitenzorg 31 Desember 1812 :
Bupati Karawang ditunjuk jadi Bupati Sukapura.
Tumenggung Parakanmuncang jadi Bupati Limbangan.

Selanjutnya Raffles mengeluarkan keputusan 16 Pebruari 1813 :
Kabupaten Sukapura didirikan kembali tanpa distrik Suci, Panembong dan Malangbong. yang menjabat Bupati yaitu Rd. Tumenggung Surialaga II, dengan ibukota di Singaparna

Mengacu kepada beberapa sumber yang dipercaya (Sejarah Sumedang dari masa ke masa dan Data dari pihak keluarga/ahli waris) diperkirakan RTA. Surialaga II, menikah dengan 2 orang istri dengan jangka waktu yang berjauhan. 
Istri yang pertama bernama Nyi Raden Hamsyah (putra no 14 Dalem Aria Wiratanudatar V/Kyai Muhidin, Bupati Cianjur) yang dinikahinya pada saat beliau berusia Dewasa/Mapan antara tahun 1784-1789 dimana pada usia tersebut beliau sedang menjabat sebagai Mantri Gudang Kopi di Bogor, dari pernikahan pertama beliau dikaruniai 2 orang putra yaitu :
Rd. Rangga Tjandramanggala, sebagai Patih yang kemudian menjadi Bupati Bogor. Keturunan Rd. Tjandramanggala kebanyakan di Bogor, khususnya di daerah Pasirkuda, Ciomas. 
Seperti Ayahnya RTA. Soerialaga II dan dirinya yang pernah menjadi Bupati Bogor, putranya yang bernama RTA. Soeriamanggala/RTA. Soeriadimanggala juga pernah menjadi Bupati Bogor, kemudian banyak keturunan Rd Tjandramanggala yang menikah dengan Cucu dan Cicit Raden Mas Djonet Dipomenggolo putra ke 5 Pangeran Diponegoro. 
Diantara keturunan Rd. Tjandramanggala adalah : Mayjen Purn. Ishak Djuarsa (Ibunya keturunan Diponegoro generasi 4) 

Bung Hatta

Hatta lahir di kala subuh. Sahabatnya, Soekarno, di waktu fajar. 
Mereka berdua penyambut pagi. 
Pada tahun 1980, Mohammad Hatta meninggal dunia. 
Halida, putri bungsunya, dalam buku "Bung Hatta di Mata Tiga Putrinya" (Penerbit Buku Kompas, 2015) melukiskan bagaimana perasaan sedih teramat dalam atas kepergian ayahnya :
"… Seakan diatur oleh tangan yang lebih kuasa, masa hidupnya bagaikan satu kali putaran matahari. Ayah dilahirkan di kala panggilan sembayang subuh sedang berkumandang di surau-surau di Bukitinggi, dan wafat setelah tenggelamnya matahari, menjelang berakhirnya waktu magrib…”

Iwan Fals, musisi legendaris, menuliskan bait-bait duka dalam lagu yang berjudul "Bung Hatta" 
Pada bagian reffrein, Iwan Fals mendendangkan bait setengah menjerit :

Hujan air mata dari pelosok negeri 
Saat melepas engkau pergi 
Berjuta kepala tertunduk haru 
Terlintas nama seorang sahabat 
Yang tak lepas dari namamu 
Terbayang baktimu 
terbayang jasamu 
Terbayang jelas jiwa sederhanamu

Foto : Halida Hatta
Wakil Presiden, Mohammad Hatta, meninjau salah satu Pekan Buku Indonesia, Tahun 1954. 
Hatta pecinta buku. 
Pembaca buku. 
Koleksi bukunya sangat banyak. 
Saat menikah dengan ibu Rachmi, mahar yang diserahkan kepada sang istri adalah sebuah buku karangan beliau sendiri “Alam Pikiran Yunani” 


Monday, February 24, 2020

sosial eksperimen

Eksperimen sosial adalah proyek penelitian yang dilakukan dengan subyek interaksi antar manusia di dunia nyata. 
Ini biasanya menyelidiki dampak dari intervensi kebijakan kepada individu, keluarga, bisnis, tingkat atau kelas, atau unit lain ke perlakuan yang berbeda serta kondisi terkendali yang mewakili status quo secara acak. 
Kualifikasi "sosial" membedakan kebijakan eksperimen dari percobaan "klinis" (untuk klinis, biasanya intervensi medis di dalam tubuh subjek dan juga dari percobaan laboratorium, seperti fakultas psikologi universitas dapat melakukan kondisi terkendali sepenuhnya) 
Dalam eksperimen sosial, pengacakan untuk percobaan kepada responden adalah satu-satunya elemen di lingkungan subjek yang dikendalikan oleh peneliti. Semua elemen lainnya tetap seperti apa adanya. 

Percobaan sosial sering disebut sebagai "standar emas" untuk evaluasi program dan proses reformasi. 

Dalam mengukur dampak program sosial, peneliti harus menilai hasil populasi yang relevan dengan ketika belum diadakannya program. 

Hampir setiap kelompok perbandingan alami, bagaimanapun akan berbeda dengan komposisi kelompok yang terstruktur, biasanya karena bias responden (di luar percobaan, orang memilih untuk menerima perlakuan atau tidak menerima) 

Pengacakan menciptakan kelompok kontrol yang secara statistik identik dalam sampel besar dengan kelompok yang ditugaskan untuk menerima perlakuan. 

Sejarah

Diferensiasi awal bidang umum psikologi menjadi psikologi fisiologis dan sosial seperti yang disarankan oleh Wilhelm Wundt pada tahun 1862 untuk eksploitasi sosial pertama. 

Pada tahun 1895, psikolog Amerika Norman Triplett membangun salah satu percobaan sosial pertama, dengan maksud untuk mempelajari pengaruh kelompok pada kinerja balap. 

Selama tahun 1920, Gordon Allport menggunakan metode eksperimental untuk mempelajari kesesuaian, komunikasi nonverbal dan fasilitasi sosial, membentuk psikologi sosial seperti yang kita ketahui. 

Eksperimen sosial yang biasa kita lihat sekarang dilakukan beberapa dekade kemudian. 

Contoh yang terkenal adalah percobaan ketaatan Stanley Milgram pada tahun 1963. Percobaan sosial dimulai di Amerika Serikat sebagai ujian konsep Pajak Penghasilan Negatif di akhir tahun 1960an, dan sejak saat itu telah dilakukan di semua benua yang berpenduduk. 

Beberapa "pilot telah menguji inovasi utama dalam kebijakan sosial" beberapa "telah digunakan untuk menilai perubahan inkremental dalam program yang ada" sementara beberapa "telah memberikan dasar untuk mengevaluasi keseluruhan kemanjuran program-program utama yang ada. 

Sebagian besar "telah digunakan untuk mengevaluasi kebijakan yang ditargetkan pada kelompok penduduk yang kurang beruntung"

Selama tahun 1970an, cristicisme etika dan tuduhan gender dan bias ras menyebabkan penilaian ulang baik bidang psikologi sosial dan eksperimen yang dilakukan. Sementara metode eksperimen masih digunakan, metode lain mendapatkan popularitas. 

Contoh percobaan sosial

Pada masa sekarang percobaan sosial banyak dilakukan melalui kanal-kanal dunia maya. 

Para peneliti menggunakan responden berupa kontributor-kontributor dunia maya (netizen) baik melalui media sosial, blog dan halaman survei dalam bentuk web.

Saat ini kita sering melihat istilah percobaan sosial di platform berbagi video seperti Youtube yang digunakan untuk eksperimen orang awam, di mana aktor mencoba memprovokasi tanggapan dari orang yang lewat, biasanya difilmkan dengan kamera tersembunyi. 



Sunday, February 23, 2020

Pangeran Diponegoro

Bendara Pangeran Harya Dipanegara, lebih dikenal dengan nama Pangeran Diponegoro, lahir di Yogyakarta, 11 November 1785, meninggal di Makassar 8 Januari 1855. 
Pangeran Diponegoro terkenal karena memimpin Perang Jawa (1825-1830) melawan pemerintah Hindia Belanda. 
Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia.

Pangeran Diponegoro adalah putra sulung dari Sultan Hamengkubuwono III. Lahir dengan nama Mustahar, dari seorang selir bernama R.A Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri selir) yang berasal dari Pacitan. 

Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, beliau menolak keinginan ayahnya untuk mengangkatnya menjadi Raja. Beliau setidaknya menikah dengan 9 wanita dalam hidupnya, yaitu : 

  • B.R.A. Retna Madubrangta puteri kedua Kyai Gedhe Dhadhapan.
  • R.A. Supadmi yang kemudian diberi nama R.A. Retnakusuma, putri Raden Tumenggung Natawijaya III, Bupati Panolan, Jipang. 
  • R.A. Retnadewati seorang putri Kyai di wilayah Selatan Jogjakarta.
  • R.Ay. Citrawati, puteri Raden Tumenggung Rangga Parwirasentika dengan salah satu isteri selir. 
  • R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretna (putri HB II) jadi R.A Maduretna saudara seayah dengan Sentot Prawiradirdja, tetapi lain ibu.
  • R.A. Ratnaningsih, putri Raden Tumenggung Sumaprawira, bupati Jipang Kepadhangan.
  • R.A. Retnakumala, putri Kyai Guru Kasongan.
  • R.A. Ratnaningrum, putri Pangeran Penengah atau Dipawiyana II.
  • Syarifah Fathimah Wajo putri Datuk Husain (Wanita dari Wajo, Makassar) makamnya ada di Makassar. Syarifah Fathimah nasab lengkapnya adalah Syarifah Fathimah Wajo binti Datuk Husain bin Datuk Ahmad bin Datuk Abdullah bin Datuk Thahir bin Datuk Thayyib bin Datuk Ibrahim bin Datuk Qasim bin Datuk Muhammad bin Datuk Nakhoda Ali bin Husain Jamaluddin Asghar bin Husain Jamaluddin Akbar.

Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat, sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari Sultan Hamengkubuwana I, Gusti Kangjeng Ratu Tegalrejo, daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono V. 

Ketika itu, Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V, yang baru berusia 3 tahun. sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danureja bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujuinya.

Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830) 

Perang berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. 

Saat itu beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. 

Atas saran GPH Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo dan membuat markas di sebuah gua yang bernama Gua Selarong. 

Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. 

Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. 

Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Gua Selarong. 

Kyai Mojo yang lahir di Desa Mojo di wilayah Pajang, dekat Kota Surakarta, tertarik berjuang bersama Pangeran Diponegoro karena Pangeran Diponegoro ingin mendirikan kerajaan yang berlandaskan Islam. Kyai Mojo dikenal sebagai ulama besar yang sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Diponegoro. Ibu Kyai Mojo, R.A. Mursilah, adalah saudara perempuan dari Sultan Hamengkubuwana III. Akan tetapi, Kyai Mojo, aslinya bernama Muslim Mochamad Khalifah, semenjak lahir tidak mencicipi kemewahan gaya hidup keluarga istana. 

Jalinan persaudaraan Diponegoro dan Kyai Mojo kian erat setelah Kyai Mojo menikah dengan janda Pangeran Mangkubumi yang merupakan paman dari Diponegoro. 

Tak heran, Diponegoro memanggil Kyai Mojo dengan sebutan "paman" meski relasi keduanya adalah saudara sepupu. 

Selain Kyai Mojo, perjuangan Diponegoro juga didukung oleh Sunan Pakubuwono VI dan Raden Tumenggung Prawiradigdaya Bupati Gagatan. 

Meski demikian, pengaruh dukungan Kyai Mojo terhadap perjuangan Diponegoro begitu kuat karena ia memiliki banyak pengikut dari berbagai lapisan masyarakat. 

Kyai Mojo yang dikenal sebagai ulama penegak ajaran Islam ini bercita-cita, tanah Jawa dipimpin oleh pemimpin yang mendasarkan hukumnya pada syariat Islam. Semangat memerangi Belanda yang merupakan musuh Islam dijadikan Perang Suci. Oleh sebab itu, kekuatan Dipenogoro kian mendapat dukungan terutama dari tokoh-tokoh agama yang berafiliasi dengan Kyai Mojo. 

Menurut Peter Carey (2016) dalam Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855, disebutkan bahwa sebanyak 112 kyai, 31 haji, serta 15 syekh dan puluhan penghulu berhasil diajak bergabung.

Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden. 

Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro, hingga akhirnya ditangkap pada 1830.

Perang Diponegoro merupakan perang terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infanteri, kavaleri dan alteleri yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal. 

Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya, sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi, begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur logistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus selama peperangan berkecamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.

Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan. para senopati menyadari sekali untuk bekerja sama dengan alam sebagai “senjata” tak terkalahkan. 

Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan berbagai usaha untuk gencatan senjata dan berunding karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. 

Penyakit malaria, disentri dan sebagainya merupakan “musuh yang tak tampak” melemahkan moral dan kondisi fisik, bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. 

Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengkonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota, menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang di bawah komando pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.

Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu, suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu ketika suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. 

Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka (open warfare) maupun metode perang gerilya (guerilla warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan. 

Ini bukan sebuah perang suku, melainkan suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan. 

Perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat saraf (psy war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran. kegiatan telik sandi (spionase) dengan kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya.

Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng, sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. 

Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya, menyerah kepada Belanda. 

Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. 

Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.

Perang melawan penjajah lalu dilanjutkan oleh para putra Pangeran Diponegoro, Ki Sodewa atau Bagus Singlon, Dipaningrat, Dipanegara Anom, Pangeran Joned yang terus-menerus melakukan perlawanan walaupun harus berakhir tragis. 

Empat putra Pangeran Diponegoro dibuang ke Ambon, sementara Pangeran Joned terbunuh dalam peperangan, begitu juga Ki Sodewa.

Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban di pihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi dan 200.000 orang Jawa. Sehingga setelah perang ini, jumlah penduduk Ngayogyakarta menyusut separuhnya. 

Mengingat bagi sebagian kalangan dalam Kraton Ngayogyakarta, Pangeran Diponegoro dianggap pemberontak, sehingga konon anak cucunya tidak diperbolehkan lagi masuk ke Kraton, sampai kemudian Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberi amnesti bagi keturunan Diponegoro dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dipunyai Diponegoro kala itu. Kini anak cucu Diponegoro dapat bebas masuk Kraton, terutama untuk mengurus silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan diusir. 

Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus De Kock tanggal 28 Maret 1830 yang mengakhiri Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830), karya Nicolaas Pieneman.
  • 20 Februar 1830, Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen (sekarang masuk wilayah Kabupaten Purworejo) Cleerens mengusulkan agar Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal de Kock dari Batavia. 
  • 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro menemui de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro. Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux. 
  • 11 April 1830, sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang Museum Fatahillah) Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch. 
  • 30 April 1830, keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Dipasana dan istri serta para pengikut lainnya seperti Mertaleksana, Banteng Wereng dan Nyai Sotaruna akan dibuang ke Manado.
  • 3 Mei 1830, Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam. 
  • 1834, dipindahkan ke benteng Rotterdam, Makassar. 
  • 8 Januari 1855, Diponegoro wafat dan dimakamkan di Makassar, tepatnya di Jalan Diponegoro, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, sekitar empat kilometer sebelah utara pusat Kota Makassar.

Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dibantu oleh putranya bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewa. Ki Sodewa melakukan peperangan di wilayah Kulonprogo dan Bagelen. 

Lokasi makam Pangeran Diponegoro di Makassar. 

Pangeran Diponegoro mempunyai 12 putra dan 10 orang putri, yang keturunannya semuanya kini hidup tersebar di seluruh dunia, termasuk Jawa, Madura, Sulawesi dan Maluku bahkan di Australia, Serbia, Jerman, Belanda dan Arab saudi. 

Mata uang kertas Rp100 bergambar Pangeran Diponegoro, diterbitkan tahun 1952. 

Sebagai penghargaan atas jasa Diponegoro dalam melawan penjajahan, di beberapa kota besar Indonesia terdapat Jalan Pangeran Diponegoro. 

Kota Semarang sendiri juga memberikan apresiasi agar nama Pangeran Diponegoro akan senantiasa hidup. 

Nama-nama tempat yang menggunakan namanya antara lain Stadion Diponegoro, Jalan Pangeran Diponegoro, Universitas Diponegoro, Kodam IV Diponegoro. Juga ada beberapa patung yang dibuat, patung Diponegoro di Undip Pleburan, patung Diponegoro di Kodam IV/Diponegoro serta di pintu masuk Undip Tembalang.

Mata uang kertas Rp1.000 bergambar Pangeran Diponegoro, diterbitkan tahun 1975. 

Pemerintah Republik Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, pada tanggal 8 Januari 1955, pernah menyelenggarakan Haul Nasional memperingati 100 tahun wafatnya Pangeran Diponegoro, sedangkan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional diperoleh Pangeran Diponegoro pada tanggal 6 November 1973 melalui Keppres No.87/TK/1973.

Penghargaan tertinggi justru diberikan oleh Dunia, pada 21 Juni 2013, Unesco menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World

Babad Diponegoro merupakan naskah klasik yang dibuat sendiri oleh Pangeran Diponegoro ketika diasingkan di Manado pada 1832-1833. 

Selain itu, untuk mengenang jasa Pangeran Diponegoro dalam memperjuangkan kemerdekaan, didirikanlah Museum Pangeran Diponegoro atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Sasana Wiratama" di Tegalrejo, Yogyakarta, yang menempati bekas kediaman Pangeran Diponegoro. 

Ronggowarsito

Nama aslinya adalah Bagus Burhan. Ia adalah putra dari Mas Pajangswara, juga disebut Mas Ngabehi Ranggawarsita. Ayahnya adalah cucu dari Yasadipura II, pujangga utama Kasunanan Surakarta. 

Ayah Bagus Burhan merupakan keturunan Kesultanan Pajang, sedangkan ibunya adalah keturunan dari Kesultanan Demak. 

Bagus Burhan diasuh oleh Ki Tanujaya, abdi dari ayahnya. 

Sewaktu muda, Burhan terkenal nakal dan gemar judi. Ia dikirim kakeknya untuk berguru agama Islam pada Kyai Imam Besari pemimpin Pesantren Gebang Tinatar di desa Tegalsari, Ponorogo. Pada mulanya ia tetap saja bandel, bahkan sampai kabur ke Madiun. Setelah kembali ke Ponorogo, konon ia mendapat "pencerahan" di Sungai Kedungwatu, sehingga berubah menjadi pemuda alim yang pandai mengaji.

Ketika pulang ke Surakarta, Burhan diambil sebagai cucu angkat Panembahan Buminoto (adik PakubuwonoIV) 

Ia kemudian diangkat sebagai Carik Kadipaten Anom bergelar Mas Pajanganom. 

Pada masa pemerintahan Pakubuwono V, karir Burhan tersendat-sendat karena Raja baru ini kurang suka dengan Panembahan Buminoto yang selalu mendesaknya agar pangkat Burhan dinaikkan. 

Burhan menikah dengan Raden Ayu Gombak dan ikut mertuanya, Adipati Cakradiningrat di Kediri. Di sana ia merasa jenuh dan memutuskan berkelana ditemani Ki Tanujoyo. Konon, Burhan berkelana sampai ke Pulau Bali untuk mempelajari naskah-naskah sastra Hindu koleksi Ki Ajar Sidalaku. 

Bagus Burhan diangkat sebagai Panewu Carik Kadipaten Anom bergelar Raden Ngabei Ronggowarsito, menggantikan ayahnya yang meninggal di penjara Belanda tahun 1830. Lalu setelah kematian Yasadipura II, Ranggawarsita diangkat sebagai pujangga Kasunanan Surakarta oleh Pakubuwono VII. 

Pada masa inilah Ronggowarsito melahirkan banyak karya sastra. 

Hubungannya dengan Pakubuwono VII juga sangat harmonis. Ia juga dikenal sebagai peramal ulung dengan berbagai macam ilmu kesaktian.

Naskah-naskah babad cenderung bersifat simbolis dalam menggambarkan keistimewaan Ronggowarsito. 

Misalnya, ia dikisahkan mengerti bahasa binatang. Ini merupakan simbol bahwa Ronggowarsito peka terhadap keluh kesah rakyat kecil. 

Pakubuwono IX naik tahta tahun 1861. Ia adalah putra Pakubuwono VI yang dibuang ke Ambon tahun 1830 karena mendukung Pangeran Diponegoro. 

Konon, sebelum menangkap Pakubuwono VI, pihak Belanda lebih dulu menangkap juru tulis keraton, yaitu Mas Pajangswara untuk dimintai kesaksian. Meskipun disiksa sampai tewas, Pajangswara tetap diam tidak mau membocorkan hubungan Pakubuwono VI dengan Pangeran Diponegoro. 

Meskipun demikian, Belanda tetap saja membuang Pakubuwono VI dengan alasan bahwa Pajangswara telah membocorkan semuanya. 

Fitnah inilah yang menyebabkan Pakubuwono IX kurang menyukai Ronggowarsito yang tidak lain adalah putra Pajangswara.

Hubungan Ronggowarsito dengan Belanda juga kurang baik. Meskipun ia memiliki sahabat dan murid seorang Indo bernama C.F Winter, tetap saja gerak-geriknya diawasi Belanda. 

Ronggowarsito dianggap sebagai jurnalis berbahaya yang tulisan-tulisannya dapat membangkitkan semangat juang kaum pribumi. Karena suasana kerja yang semakin tegang, akibatnya Ronggowarsito pun keluar dari jabatan redaksi surat kabar Bramartani tahun 1870. 

Ranggawarsita meninggal dunia secara misterius tanggal 24 Desember 1873. Anehnya, tanggal kematian tersebut justru terdapat dalam karya terakhirnya, yaitu Serat Sabdajati yang ia tulis sendiri. Hal ini menimbulkan dugaan kalau Ronggowarsito meninggal karena dihukum mati, sehingga ia bisa mengetahui dengan persis kapan hari kematiannya.

Penulis yang berpendapat demikian adalah Suripan Sadi Hutomo (1979) dan Andjar Any (1979) 

Pendapat tersebut mendapat bantahan dari pihak elit keraton Surakarta, yang berpendapat kalau Ronggowarsito adalah peramal ulung, sehingga tidak aneh kalau ia dapat meramal hari kematiannya sendiri. 

Istilah Zaman Edan, konon pertama kali diperkenalkan oleh Ronggowarsito dalam Serat Kalatida, yang terdiri atas 12 bait tembang Sinom. 

Salah satu bait yang paling terkenal adalah : 

amenangi zaman edan,
Ewuhaya ing pambudi,
melu ngedan nora tahan,
yen tan melu anglakoni,
boya keduman melik,
kaliren wekasanipun,
ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang eling klawan waspada.
menyaksikan zaman gila,
serba susah dalam bertindak,
ikut gila tidak akan tahan,
tapi kalau tidak mengikuti gila,
tidak akan mendapat bagian,
kelaparan pada akhirnya,
namun telah menjadi kehendak Allah,
sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

Syair di atas menurut analisis seorang penulis bernama Ki Sumidi Adisasmito adalah ungkapan kekesalan hati pada masa pemerintahan Pakubuwono IX yang dikelilingi para penjilat yang gemar mencari keuntungan pribadi. Syair tersebut masih relevan hingga zaman modern ini di mana banyak dijumpai para pejabat yang suka mencari keutungan pribadi tanpa mempedulikan kerugian pihak lain. 

Karya sastra tulisan Ronggowarsito antara lain : 

  • Bambang Dwihastha 
  • Bausastra Kawi 
  • Sajarah Pandhawa lan Korawa : miturut Mahabharata 
  • Sapta dharma
  • Serat Aji Pamasa
  • Serat Candrarini
  • Serat Cemporet
  • Serat Jaka Lodang
  • Serat Jayengbaya
  • Serat Kalathida
  • Serat Panitisastra
  • Serat Pandji Jayeng Tilam
  • Serat Paramasastra
  • Serat Paramayoga
  • Serat Pawarsakan
  • Serat Pustaka Raja
  • Suluk Saloka Jiwa
  • Serat Wedaraga
  • Serat Witaradya
  • Sri Kresna Barata
  • Wirid Hidayat Jati
  • Wirid Ma'lumat Jati
  • Serat Sabda Jati

Ramalan tentang kemerdekaan Indonesia 

Ranggawarsita hidup pada masa penjajahan Belanda. Ia menyaksikan sendiri bagaimana penderitaan rakyat Jawa, terutama ketika program Tanam Paksa dijalankan pasca Perang Diponegoro. Dalam suasana serba memprihatinkan itu, Ranggawarsita meramalkan datangnya kemerdekaan, yaitu kelak pada tahun Wiku Sapta Ngesthi Janma.

Kalimat yang terdiri atas empat kata tersebut terdapat dalam Serat Jaka Lodang dan merupakan kalimat Suryasengkala yang jika ditafsirkan akan diperoleh angka 7-7-8-1. Pembacaan Suryasengkala dibalik dari belakang ke depan, yaitu 1877 Saka, yang bertepatan dengan 1945 Masehi, yaitu tahun kemerdekan Republik Indonesia. 

Pengalaman pribadi Bung Karno pada masa penjajahan adalah ketika berjumpa dengan para petani miskin yang tetap bersemangat di dalam penderitaan, karena mereka yakin pada kebenaran ramalan Ranggawarsita tentang datangnya kemerdekaan di kemudian hari. 

Pemberantasan Buta Huruf (PBH)



Di Negara Republik Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa hukumnya wajib, karena amanat konstitusi mengatakan bahwa “Pendidikan Menjadi Hak Setiap Warga Negara” 

Sebagai konsekuensi dari semua itu, pemerintah punya kewajiban untuk menyelenggarakan sistem pendidikan dan membuka akses selebar-lebarnya kepada setiap warga negara untuk mendapatkan fasilitas pendidikan tanpa adanya diskriminasi apapun untuk mendapatkannya. 

Misi memberantas buta huruf bukan hanya sekedar cara mengajari rakyat bisa membaca dan menulis, bukan pula sekedar untuk mengantarkan rakyat Indonesia dari kegelapan menuju tempat yang terang. Hal lebih penting dari semua itu adalah misi menyempurnakan “kewarganegaraan” 

tanpa bisa membaca dan menulis, berarti seseorang tidak menyadari hak dan kewajibannya sebagai warga negara. seseorang akan sulit bertindak atas nama dirinya dalam politik, karena tidak bisa membaca konstitusi dan memahaminya. 

Indonesia pada masa penjajahan Hindia Belanda pernah mengalami kerterpurukan dan kegelapan di bidang pendidikan. 

Kartini sebagai pelopor pemberantasan buta huruf untuk Bangsa Indonesia menggambarkan masyarakat kita tak ubahnya seperti hutan rimba yang gelap gulita. beliau menulis surat kepada sahabatnya Estelle Zeehendelaar “duh, sekarang aku mengerti, mengapa orang begitu menentang keterpelajaran orang Jawa. Kalau orang jawa terpelajar, dia tidak akan gampang menjadi pengamin saja, takkan menerima segala macam perintah atasannya lagi” 

Sebagai pejuang yang idealis, Ibu Kartini tidak pernah menyerah dengan keadaan dan tradisi yang berlaku pada zamannya. suasana gelap gulita kehidupan, dia terangi dengan lentera ilmu pengetahuan, mengajari kaumnya dengan cara mengajarkan melek huruf dan bisa membaca tanpa henti untuk memajukan pengajaran bagi kaum pribumi. Semangat juang dan pengabdian Kartini, banyak mengilhami para pejuang kemerdekaan Indonesia. maka tidaklah mengherankan bila salah satu tujuan nasional dari Kemerdekaan Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945. 

Maka tidaklah mengherankan bila di awal pemerintahan Presiden Soekarno, begitu Proklamasi Kemerdekaan baru usai dikumandangkan, pemerintahan Soekarno tidak hanya menyerukan mengangkat senjata melawan kolonialisme Belanda, tetapi juga memerintahkan menenteng pena dan buku untuk memberantas buta huruf di kalangan rakyat Indonesia. 

Pada tanggal 14 Maret 1948, Presiden Soekarno mencanangkan Pemberantasan Buta Huruf (PBH) 

Dalam suasana perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Bung Karno mengatakan “Bukan saja kita menang di medan perang, tetapi juga dalam hal memberantas buta huruf kita" 

Dalam suasana kecamuk perang, pemerintah Soekarno masih sempat menyelenggarakan kursus PBH di 18.663 tempat, yang melibatkan 17.822 orang guru dan 761.483 orang murid. Sedangkan yang digelar secara independen berjumlah 881 tempat dengan 515 orang guru dan 33.626 murid. 

Pada tahun 1960, Bung Karno kembali mengeluarkan komado, Indonesia harus terbebas dari buta huruf hingga tahun 1964. Seluruh rakyat pun dimobilisasi untuk mensukseskan ambisi tersebut. Banyak orang yang pandai baca tulis, dikerahkan untuk mengajar secara sukarela. Organisasi masa banyak dilibatkan untuk mensukseskan program luhur ini. Hasilnya sungguh menakjubkan, pada tanggal 31 Desember 1964, semua penduduk Indonesia usia 13-45 tahun (kecuali yang ada di Irian Barat) dinyatakan bebas buta huruf. 

Dari hasil program pemerintahan Soekarno, ada dua yang perlu dicatat. 

1. Adanya komitmen kuat pemerintahan saat itu untuk menempatkan pemberantasan buta huruf sebagai bagian dari perjuangan nasional yang tidak boleh dikesampingkan. 

2. Adanya proses pelibatan dan mobilisasi rakyat dalam mensukseskan pemberantasan buta huruf. 

Saturday, February 22, 2020

Terakota

Terakotaterracottaterra cotta atau terra-cotta (dari bahasa italia berarti "tanah bakar" yang berasal dari bahasa latin terra cocta) adalah tembikar yang terbuat dari tanah liat. Penggunaannya termasuk diantaranya untuk kendi, pipa air dan hiasan permukaan pada konstruksi bangunan dan termasuk diantaranya patung seperti Pasukan Terakota dan arca terakota Yunani. 
Istilah ini juga dipergunakan untuk benda yang terbuat dari materi tersebut dan untuk warna naturalnya coklat dengan sedikit oranye yang sangat bervariasi. 
Pada bidang arkeologi dan sejarah seni, terakota sering dipergunakan untuk benda yang dibuat oleh roda pengrajin tembikar seperti patung, di mana benda tersebut dibuat dari bahan yang sama dan bahkan oleh orang yang sama disebut sebagai tembikar. 

Tanah liat yang halus dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan. 

Setelah dikeringkan, karya tersebut diletakkan di dalam tungku atau diatas api terbuka (api unggun) lalu dibakar. 

Temperatur pembakaran sekitar 1000° C. Kandungan besi yang terdapat pada tanah liat membuat karya tersebut berwarna kuning, oranye, merah, merah jambu, abu-abu atau cokelat. 

Terakota yang dibakar tidak menjadikannya tahan air. Tetapi penggosokan pada permukaan sebelum dibakar dapat mengurangi tingkat penyerapannya dan terakota tersebut dapat ditambah dengan glasir untuk membuatnya menjadi kedap air. Hasilnya cocok digunakan untuk membawa air, untuk peralatan perkebunan atau dekorasi bangunan di lingkungan tropis dan untuk wadah penyimpan minyak, lampu minyak atau oven. 

Kebanyakan penggunaan lainnya adalah untuk peralatan makan dan minum, pipa saluran air atau dekorasi bangunan di lingkungan dingin yang membutuhkan bahan-bahan yang diglasir. Terakota jika tidak retak akan berdenging jika dipukul perlahan. Beberapa terakota dibentuk dari dasar yang ditambahkan terakota yang didaur ulang. 

Desain terakota 

Terakota digunakan di sepanjang masa untuk memahat dan membuat wadah dan juga untuk membuat bata dan genteng. 

Pada zaman dahulu, patung tanah liat yang pertama dikeringkan di bawah sinar matahari setelah dibentuk. Kemudian patung tersebut diletakkan di abu dari api unggun untuk memperkeras dan akhirnya mempergunakan tungku seperti yang digunakan pada tembikar pada saat ini. Namun hanya setelah pembakaran menggunakan suhu yang tinggi, bahan ini dapat digolongkan menjadi materi keramik. 

Dekorasi bangunan yang diglasir 

Arca terakota kasar ditemukan oleh para arkeolog pada ekskavasi Mahenjo daro dan Harappa yang merupakan dua situs perkotaan besar pada periode Lembah sungai indus (3000 - 1500 SM) di daerah yang sekarang merupakan bagian dari Pakistan. 

Termasuk dalam benda yang ditemukan diantaranya adalah batu berbentuk phallus yang memberi kesan bahwa terdapat pemujaan terhadap dewa atau dewi kesuburan dan kepercayaan terhadap Dewi Ibu. 

Patung masa pra kolonial Afrika Barat juga terbuat dari terakota. Daerah ini merupakan daerah yang paling terkenal di dunia untuk produksi seni terakota, termasuk diantaranya budaya Nok dari Nigeria tengah dan utara, kebudayaan Benin di bagian barat dan selatan Nigeria, kebudayaan igbo di daerah timur Nigeria. 

Dalam ilmu kimia, keping-keping/lembaran terakota digunakan sebagai katalis heterogen untuk memutus alkana rantai-panjang. Proses ini berguna untuk mendapatkan produk-produk yang lebih berguna seperti bensin atau petrol dari bahan yang kurang berguna semisal alkana rantai panjang berkekentalan tinggi. 

Dibandingkan dengan pemahatan dalam perunggu, terakota memakai cara yang jauh lebih sederhana untuk menghasilkan karya dengan biaya yang jauh lebih rendah. Teknik penggunaan cetakan yang dipakai kembali dapat dipergunakan untuk rangkaian kegiatan produksi. Jika dibandingkan dengan patung marmer dan hasil karya batu lainnya, hasil karya yang telah selesai, jauh lebih ringan dan dapat diglasir untuk menghasilkan produk dengan warna atau ketahanan yag lebih baik. 

Warna terakota adalah antara jingga dan coklat. 

Larry Tesler pencipta Copy Paste


Larry TeslerLarry Tesler

Pengguna komputer tentu sangat dimudahkan dengan fitur copy paste serta cut. 

Siapakah penemu copy paste itu? 

Dia adalah Larry Tesler. 

Tesler mulai bekerja di Silicon Valley pada tahun 1960-an. Kala itu masih sangat sedikit orang yang dapat mengakses komputer.

Larry kemudian banyak berinovasi, termasuk menciptakan komando cut, copy dan paste. Tak terbantahkan fitur tersebut membuat komputer pribadi menjadi makin berguna. 

"Penemu cut/copy & paste dulu adalah mantan periset Xerox. 
"Pekerjaan Anda menjadi lebih mudah berkat idenya yang revolusioner" demikian tribut dari Xerox.

Tesler lahir di Bronx, New York pada 1945. Ia kuliah di kampus bergengsi, Stanford. Setelah lulus, ia menjadi spesialis desain user interface dengan tujuan memudahkan pemakaian komputer.

Dikutip dari BBC, Tesler bekerja di berbagai perusahaan besar. Ia mulai berkarir di Xerox Palo Alto Research Center (Parc)

Steve Jobs kemudian membajaknya, jadilah Tesler bekerja di Apple selama 17 tahun dan menjadi Chief Scientist. Setelah itu, dia membuat startup edukasi dan bekerja singkat di Amazon dan Yahoo.

Cut, copy, paste sendiri dibenamkan di software Apple untuk komputer Lisa pada tahun 1983. Juga di komputer Macintosh original yang rilis setahun kemudian. 

"Setelah menghasilkan uang, anda tidak begitu saja pensiun, anda menghabiskan waktu mendanai perusahaan lain. Ada elemen kesenangan yang sangat kuat untuk membagikan apa yang Anda pelajari ke generasi selanjutnya" kata Tesler mengenai misinya. 

Saturday, February 1, 2020

Sejarah sekolah STM

Sekolah Pertukangan adalah cikal bakal Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia. Nenek moyang anak STM dan pendidikan kejuruan di Indonesia boleh dibilang berasal dari zaman VOC. Sekolah berorientasi kejuruan pertama adalah Akademi Pelayaran (Academie der Marine) yang didirikan VOC pada tahun 1743, tetapi ditutup kembali pada tahun 1755. 

Ketika kekuasaan VOC berakhir pada penghujung abad ke-18, pendirian sekolah-sekolah dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda yang didasarkan atas keturunan, bangsa dan status sosial. Pendidikan kejuruan kemudian dilanjutkan kembali pada pertengahan abad 19. 

Pada 1853, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Ambacht School van Soerabaia (Sekolah Pertukangan Surabaya) ini adalah sekolah kejuruan pertama di Indonesia. Berbentuk sekolah teknik menengah, kelas belajarnya diselenggarakan malam hari untuk anak-anak Indo Belanda. Pada 1856, sekolah serupa didirikan di Jakarta. 

Darmaningtyas mencatat dalam "Pendidikan yang Memiskinkan" (2004) bahwa Wardiman Djojonegoro selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993-1998, memiliki andil dalam perubahan nama-nama sekolah kejuruan, termasuk STM. Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), Sekolah Menengah Keterampilan Keluarga (SMKK), Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) dan lain-lain. Sekolah-sekolah tersebut oleh Mendikbud melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 036/0/1997, namanya diseragamkan menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 

Dalam buku "Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke Jaman" (1986) Pada tahun 1856, Ambachtsschool menyediakan perkumpulan Kristen. Bukan hanya perkumpulan Kristen, pada tahun 1865, sebuah tarekat Mason Bebas alias Freemason juga mendirikan Ambachtsschool di Batavia. Informasi ini disampaikan oleh Th.Stevens dalam "Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764 - 1962" (2004)

Bahasa pengantar di sekolah-sekolah pertukangan adalah bahasa Belanda. Para siswanya merupakan sekolah dasar yang berbasis Belanda, seperti Hollandsch Inlandsch School (HIS), Hollandsche Chineesche School (HCS) dan Schakelschool (Sekolah Peralihan) yang lama pendidikannya tiga tahun.

Jurusan di Ambachtsschool antara lain montir mobil, mesin, listrik, kayu dan penata batu. Tujuan dari sekolah ini adalah Skor W Erkbaas atau mandor.

Saat pelajaran di Ambachtschool milik Tarekat Mason Bebas tersebar luas, mereka membuka sekolahnya untuk pemerintah kolonial. Sekolah itu kemudian dikenal dengan nama Koningen Wilhelmina School (KWS) 

Alumni KWS Batavia yang terkenal adalah Friedrich Silaban, perancang Masjid Istiqlal dan Teuku Muhammad Hasan yang pernah menjadi gubernur Sumatra pertama. 

Setiadi Sapandi dalam buku Friedrich Silaban (2017) mencatat, perancang Masjid Istiqlal itu belajar di KWS Batavia, di Surabaya ada sekolah teknik bernama Koningen Emma School (KES) dan Koningen Princes Juliana School. Selain di Batavia dan Surabaya, di Bandung juga ada Ambacht Leergang atau pelatihan pertukangan yang menerima siswa sekolah dasar yang kualitasnya di bawah HIS. Selain kursus yang menyenangkan, Bandung juga punya Gemeentelijke AmbachtsschoolSalah satu jebolannya adalah Jenderal Amirmachmud, mantan Menteri Dalam Negeri di era Orde Baru. 

“Pendidikan saya hanya Sekolah Teknik (Ambachtschool) setelah menamatkan HIS. Lebih lengkap hanya untuk SMA yang sekarang. Minimal kemampuan bahasa Inggris saya yang juga minimal" kata Amirmachmud seperti mengutip Julius Pour dalam Baramuli Menggugat Politik Zaman (2000) 

Dari dunia sepakbola, lulusan Ambachtsschool yang terkenal adalah Tan Liong Houw alias Latief Harris Tanoto. Ia lulus dari Ambachtschool di Jakarta pada 1947. 

Dalam "Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764 - 1962, sekolah kejuruan pada zaman kolonial bukan hanya Ambachtschool. Di Semarang misalnya, sekolah yang ditujukan untuk para gadis.

Kala itu, sekolah menengah yang menerima sekolah dasar Belanda bukan hanya Ambachtsschool. Saat masuk STOVIA alias sekolah dokter Hindia, Radjiman Wediodiningrat, Soebroto alias Soetomo dan Wahidin Sudirohusodo, berstatus sebagai sekolah dasar dari Eropa Lager School (ELS) Begitu juga saat Raden Soelaiman Effendi Koesoemah Atmadja dan Besar Martokusumo masuk Rechtschool alias sekolah hakim di Batavia, status mereka adalah sebagai sekolah dasar. Sekolah hukum dan sekolah dokter menjadi sekolah tinggi yang hanya menerima siswa sekolah menengah seperti Algemene Middelbare School (AMS)

Setelah Indonesia merdeka, nama Ambachtsschool berganti menjadi Sekolah Teknik Pertama (STP) yang masa belajarnya hanya dua tahun. Sebelum 1950, seperti dicatat Suradi HP dan kawan-kawan dalam "Sejarah Pemikiran Pendidikan dan Kebudayaan" (1986) masa belajar di sekolah ini menjadi tiga tahun, sesuai dengan SMP dengan nama Sekolah Teknik (ST) Sekolah ini menerima hasil dari Sekolah Rakjat. Jurusannya antara lain bangunan, cor, keramik, kulit, listrik, cetak, radio, tenun dan sebagainya. Lulusan ST biasanya melanjutkan ke Sekolah Teknik Menengah (STM)

Pada umumnya, STM memiliki beberapa jurusan seperti kimia, listrik, mesin, mesin kapal, radio, tambang, pemeliharaan mesin uap, pemeliharaan mobil, pemeliharaan alat listrik, instrumen pesawat terbang, kerangka motor, pesawat terbang dan ukiran. Salah satu orang yang memulai bersekolah di STM adalah Robby Kaihana atau Robby Sugara (1950 - 2019) Ia terkenal bukan sebagai ahli teknik, tapi populer sebagai aktor era 1970-an yang masuk dalam "Lima Besar" karena bayarannya sangat mahal. 

Dalam "Apa Siapa Orang Film Indonesia"(1926 - 1978) yang disusun oleh Sinematek Indonesia, Robby Sugara disebut lulusan STM Poncol, jurusan Sipil Bangunan. Lulusan STM jurusan bangunan lainnya yang hadir di dunia hiburan adalah Koesdjono Koeswojo, kakak Tonny Koeswojo, yang ikut mengumpulkan Koes Bersaudara. Contoh lain lulusan STM yang dikenal oleh masyarakat, seperti yang dicatat Amiruddin Sormin, 100 Tokoh Terkemuka Lampung : 100 Tahun Kebangkitan Nasional (2008) adalah Jenderal Ryamizard Ryachudu 



sejarah STM 3 BONSER

SMK Negeri 5 Jakarta, sebelumnya bernama STM Pembetulan dan Pemeliharaan, didirikan pada tahun 1956 dengan SK No. 6737/B III tertanggal, 18 Februari 1956, di lokasi Kampung Jawa hingga 1957. Pada tahun 1958, kembali pindah ke jalan Budi Utomo No. 5 sampai dengan tahun 1959. Pada tahun 1960 barulah menempati gedung baru di jalan Kebon Sereh VII (BONSER 7) dulunya, dan diganti jalan Pisangan Baru Timur VII pada tahun 1981. 

Jalan Kebon Sereh dibagi 2, yaitu utara dan selatan. Kalau utara ada gang 7, 8, 9, 10. Kalau selatan ada 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Nama Pisangan Baru, diambil dari pasar pisang di pinggir rel kereta api BONSER selatan, dekat terowongan. Mungkin karena cukup terkenal, sehingga diganti denga nama Pisangan, dan menjadi 2 yaitu Pisangan Lama (seberang tol depan sekolah BONSER) dan Pisangan Baru/Kebon Sereh. 

Nama BONSER diambil dari singkatan Kebon Sereh, yang awalnya hanya sebutan untuk orang-orang disekitar rumah tersebut dan ada pertandingan sepak bola antar gang ditempat itu. 
Dari Bonser Selatan yang mengusung nama BONSELA 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. 
Dari utara mengusung nama BONSER 7, 8, 9 dan 10. 
Pemenangnya dari BONSER 9 waktu itu. 

Waktu zaman MALARI, STM 3 pernah dikepung oleh tentara. Mungkin karena tidak pro dengan pemerintah, dan beberapa siswanya ditahan di dalam ruangan, sebagian lari tunggang langgang selamatkan diri. 

Dan pernah ada perkelahian antara anak-anak Bonser utara/selatan dengan anak-anak Berland (perumahan utara/selatan di Bonser, perumahan anggota AURI) 
Jadi memang dari dulu nama BONSER sudah terkenal. 

Cikal bakal nama STM 3 BONSER diambil dari tawuran anak-anak Bonser utara dan anak STM 3 yang kebanyakan dari Tanjung Priok pada waktu itu. Setelah berdamai, maka tersebutlah STM 3 BONSER. 
Dulu banyak anak-anak dari Bonser selatan dan utara yang sekolah di STM 3 dan mereka sepakat menyebut STM 3 menjadi BONSER 3. Trend panggilan sekolah dengan nama lingkungan sebenarnya dimulai dari STM 3 BONSER. Baru setelah itu lahir nama Boedoet (Budi Utomo), Chaptoen (SMA 10) angka 10 yang dulunya sebutan untuk uang Rp.10,- 

Kalender Jawa (Kalender Sultan Agungan)

Kalender Jawa juga disebut sebagai Kalender Sultan Agungan karena diciptakan pada pemerintahan Sultan Agung (1613-1645)
Sultan Agung adalah raja ketiga dari Kerajaan Mataram Islam.
Pada masa itu, masyarakat Jawa menggunakan kalender Saka yang berasal dari India.
Kalender Saka didasarkan pergerakan matahari (solar)
berbeda dengan Kalender Hijriah atau Kalender Islam yang didasarkan pada pergerakan bulan (lunar)
Oleh karena itu, perayaan-perayaan adat yang diselenggarakan oleh keraton tidak selaras dengan perayaan-perayaan hari besar Islam.
Sultan Agung menghendaki agar perayaan-perayaan tersebut dapat bersamaan waktu. Untuk itulah diciptakan sebuah sistem penanggalan baru yang merupakan perpaduan antara kalender Saka dan kalender Hijriah.
Sistem penanggalan inilah yang kemudian dikenal sebagai kalender Jawa atau kalender Sultan Agungan.
Kalender ini meneruskan tahun Saka, namun melepaskan sistem perhitungan yang lama dan menggantikannya dengan perhitungan berdasar pergerakan bulan.
Karena pergantian tersebut tidak mengubah dan memutus perhitungan dari tatanan lama, maka pergeseran peradaban ini tidak mengakibatkan kekacauan, baik bagi masyarakat maupun bagi catatan sejarah. 

Tahun Jawa atau tahun Jawa Islam Sultan Agung, memiliki berbagai macam siklus. Siklus harian yang masih dipakai sampai saat ini adalah saptawara (siklus tujuh hari) dan pancawara (siklus lima hari) 
Saptawara atau padinan terdiri dari ngahad (dite), senen (soma), selasa (anggara), rebo (buda), kemis (respati), jemuwah (sukra) dan setu (tumpak).
Siklus tujuh hari ini sewaktu dengan siklus mingguan pada kalender Masehi : Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu. 

Pancawara terdiri dari kliwon (kasih), legi (manis), pahing (jenar), pon (palguna), dan wage (cemengan)
Pancawara juga biasa disebut sebagai pasaran. Siklus ini dahulu digunakan oleh pedagang untuk membuka pasar sesuai hari pasaran yang ada. Karena itu kini banyak dikenal nama-nama pasar yang menggunakan nama pasaran tersebut, seperti Pasar Kliwon, Pasar Legi, Pasar Pahing, Pasar Pon dan Pasar Wage.

Selain pancawara dan saptawara, masih ada siklus 6 hari yang disebut sadwara atau paringkelan. Walau kadang masih digunakan dalam pencatatan waktu, paringkelan tidak digunakan dalam menghitung jatuhnya waktu upaca-upacara adat di Keraton. Paringkelan terdiri dari tungle, aryang, warungkung, paningron, uwas dan mawulu

Seperti pada penanggalan lainnya, kalender Jawa memiliki dua belas bulan. Bulan-bulan tersebut memiliki nama serapan dari bahasa Arab yang disesuaikan dengan lidah Jawa : sura, sapar, mulud, bakdamulud, jumadil awal, jumadil akhir, rejeb, ruwah, pasa, sawal, dulkangidah dan Besar. Umur tiap bulan berselang-seling antara 30 dan 29 hari. 

Satu tahun dalam kalender Jawa memiliki umur 354 3/8 hari. Untuk itu terdapat siklus delapan tahun yang disebut sebagai windu. Dalam satu windu terdapat delapan tahun yang masing-masing memiliki nama tersendiri : alip, ehe, jimawal, je, dal, be, wawu dan jimakir. 

Tahun ehe, dal dan jimakir memiliki umur 355 hari dan dikenal sebagai tahun panjang (taun wuntu), sedang sisanya 354 hari dikenal sebagai tahun pendek (taun wastu)
Pada tahun panjang tersebut, bulan Besar sebagai bulan terakhir memiliki umur 30 hari. 
Selain itu terdapat siklus empat windu berumur 32 tahun dimana nama hari, pasaran, tanggal dan bulan akan tepat berulang atau disebut tumbuk. Keempat windu dalam siklus itu diberi nama kuntara, sangara, sancaya dan adi. 

Tiap windu tersebut memiliki lambang sendiri, kulawu dan langkir. Masing-masing lambang berumur 8 tahun, sehingga siklus total dari lambang berumur 16 tahun. Meski demikian, masih ada perbedaan perhitungan antara tahun Jawa dan tahun Hijriah. Tiap 120 tahun sekali akan ada perbedaan satu hari pada kedua sistem penanggalan tersebut. Maka pada saat itu tahun Jawa diberi tambahan satu hari. Periode 120 tahun ini disebut dengan khurup. Sampai awal abad 21, telah terdapat empat khurupNama khurup yang berlangsung, mengacu pada jatuhnya hari pada tanggal 1 bulan sura tahun alip. Pada khurup asapon, tanggal 1 bulan sura tahun alip, akan selalu jatuh pada hari selasa pon selama kurun waktu 120 tahun. 

Terkait dengan penanggalan Jawa, dikenal pula periode waktu yang dianggap menentukan watak dari anak yang dilahirkan seperti halnya pada astrologi yang terkait dengan kalender Masehi. Periode ini disebut wuku, dan ilmu perhitungannya disebut sebagai pawukon. 
Terdapat 30 wuku yang masing-masing memiliki umur 7 hari, sehingga satu siklus wuku memiliki umur 210 hari yang disebut Dapur wuku. 

Selain wuku, terdapat juga neptu, yang digunakan untuk melihat nilai dari suatu hari. Ada dua macam neptu, neptu dina dan neptu pasaran. Neptu dina adalah angka yang digunakan untuk menandai nilai hari-hari pada saptawara, sedang neptu pasaran digunakan untuk menandai nilai hari-hari pada pancawara. Nilai-nilai ini digunakan untuk menghitung baik buruknya hari terkait kegiatan tertentu, juga perwatakan seseorang yang lahir pada hari tersebut. 

Kalender Sultan Agungan yang dimulai pada jumat legi tanggal 1 sura tahun alip 1555 J atau 1 Muharram 1043 H atau 8 Juli 1633. Peristiwa ini terdapat pada windu kuntara lambang kulawu, dan ditandai dengan candra sengkala yang berbunyi “jemparingen buto galak iku” (Panahlah raksasa buas itu)

Sejak saat itu, Kerajaan Mataram dan penerusnya mampu menyelenggarakan perayaan-perayaan adat seirama dengan hari-hari besar Islam. Upacara-upacara tradisi seperti garebeg tidak menjadi halangan bagi perkembangan Islam, namun malah dimanfaatkan sebagai syiar agama itu sendiri. Sistem penanggalan baru ini merupakan upaya seorang pemimpin yang berpandangan jauh ke depan untuk menggabungan dua arus peradaban pada masa itu, sebuah rekonsiliasi antara gelombang kebudayaan Islam dengan peradaban pra Islam. Peradaban baru yang kini dikenal sebagai Mataram Islam 

Geger Pecinan

Geger Pacinan (Tragedi Angke/Chinezenmoord "Pembunuhan orang Tionghoa") merupakan sebuah peristiwa terhadap orang keturunan Tionghoa di kota pelabuhan Batavia
Kekerasan dalam batas kota berlangsung dari 9 Oktober hingga 22 Oktober 1740. 
Chinezenmoord van stolk (2).jpg
Pembunuhan tahanan Tionghoa saat pembantaian



Keresahan dalam masyarakat Tionghoa dipicu oleh represi pemerintah dan berkurangnya pendapatan akibat jatuhnya harga gula yang terjadi menjelang pembantaian ini.
Untuk menanggapi keresahan tersebut, pada sebuah pertemuan Dewan Hindia (Raad van IndiĆ«) badan pemimpin (VOC) Guberner-Jenderal Adriaan Valckenier menyatakan bahwa kerusuhan apapun dapat ditanggapi dengan kekerasan mematikan.
Pernyataan Valckenier tersebut diberlakukan pada tanggal 7 Oktober 1740, setelah ratusan orang keturunan Tionghoa, banyak di antaranya buruh di pabrik gula, membunuh 50 pasukan Belanda.
Penguasa Belanda mengirim pasukan tambahan untuk mengambil semua senjata dari warga Tionghoa dan memberlakukan jam malam.
Dua hari kemudian, setelah ditakutkan desas-desus tentang kekejaman etnis Tionghoa, kelompok etnis lain di Batavia mulai membakar rumah orang Tionghoa di sepanjang Kali Besar.
Sementara itu, pasukan Belanda menyerang rumah orang Tionghoa dengan meriam.
Kekerasan ini dengan cepat menyebar di seluruh kota Batavia, sehingga lebih banyak orang Tionghoa dibunuh.
Meski Valckenier mengumumkan bahwa ada pengampunan untuk orang Tionghoa pada tanggal 11 Oktober, kelompok pasukan tetap terus memburu dan membunuh orang Tionghoa hingga tanggal 22 Oktober.
Di luar batas kota, pasukan Belanda terus bertempur dengan buruh pabrik gula yang berbuat rusuh.
Setelah beberapa minggu, pasukan Belanda menyerang markas Tionghoa di berbagai pabrik gula.
Orang Tionghoa yang selamat mengungsi ke Bekasi.

Diperkirakan bahwa lebih dari 10.000 orang keturunan Tionghoa dibantai.
Jumlah orang yang selamat tidak pasti.
ada dugaan dari 600 sampai 3.000 yang selamat.
Pada tahun berikutnya, terjadi berbagai pembantaian di seluruh pulau Jawa.
Hal ini memicu suatu perang selama dua tahun dengan tentara gabungan Tionghoa dan Jawa melawan pasukan Belanda. Setelah itu, Valckenier dipanggil kembali ke Belanda dan dituntut atas keterlibatannya dalam pembantaian ini.
Gustaaf Willem van Imhoff menggantikannya sebagai gubernur jenderal

Markonah

Tentu saja Soekarno yang lagi punya obsesi mengusir Belanda di Irian Barat menyambutnya dengan gembira.
Media massa kala itu terkena eforia dan antusias menyambutnya.
Dua koran kala itu, yakni Masa Marhaen dan Duta Masyarakat memajang foto sang raja dan ratu bersama Bung Karno di halaman depan.
Saran dari seorang pejabat terbukti.
Di foto yang ada di koran itu dipasang keterangan, Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu Indonesia membebaskan Irian Barat.
Apalagi foto itu menarik karena keduanya mengenakan kaca mata hitam.
Laksana air bah, keterpesonaan kepada sosok Raja Idrus dan Ratu Markonah melimpah ruah.
Pasangan ini menjadii pesohor baru dadakan. Para pejabat antusias menyalami, publik pun ikut terkesima.
Apalagi sosok Ratu Markonah  lumayan cantik, meski punya sedikit cacat di bagian mata.
Sosok pasangan ini laku keras bak pisang goreng.
Jurnalis pun sibuk meliput dan publik di mana-mana mengajaknya berfoto.
Gosip pun menyebar.
Ada berita dan desas-desus bahwa keduanya diberi uang saku lumayan gede, menginap gratis di hotel mewah, hingga makan gratis di restoran elit.
Bahkan dikabarkan mereka dijamu bukan hanya sehari dua hari saja, tapi sampai berpekan-pekan lamanya.
nasib mujur Raja Idrus dan Ratu Markonah kemudian terbongkar.
Kala itu kedua sejoli ini tengah asyik pesiar dan shoping barang mewah dan cindera mata di sebuah pusat belanja di Jakarta. Tampaknya tanpa mereka sadari datang hari sial.
Ini akibat publik mengenali sosoknya sebagai imbas mereka menjadi seorang pesohor dadakan.
Ada seorang  tukang becak yang mengenali Raja Idrus. Ia katakan, bahwa dia itu adalah temannya yang juga sama-sama penarik becak.
apa yang dikatakan sang penarik becak soal asal usul Raja Idrus terendus wartawan. seorang jurnalis itu mencoba menelusuri kebenaran itu. Alhasil, setelah mengurai kabar kusut, jejak Raja Idrus diketahui.
Dia ternyata memang seorang tukang becak dan sang permasurinya adalah seorang pelacur kelas teri.
Dan si perempuan bukan dari suku Anak Dalam di Jambi, melainkan orang Tegal.
Selain itu, nama dan kisah Raja Idrus dan Ratu Markonah juga dibuatkan lagu yang dibawakan penyanyi Teti Kadi.

Di tahun 1970-an, ada cerita tentang seorang perempuan asal Aceh yang sedang hamil tidak biasa. Kala itu tersiar kabar sang bayi yang masih dalam perut perempuan bernama Cut Zahara Fona bisa bicara. Tak tanggung-tanggung, bahkan si jabang bayi itu yang belum berada di dunia, bisa mengaji.
Kisah ini juga tersebar luas ke publik. Masyarakat geger.
Apalagi banyak orang yang bersaksi bila sudah mendengar langsung suara bayi itu ketika menempelkan telinganya ke perut Zahara.
Lagi-lagi media masa saat itu ikutan heboh. Dia memuat aneka berita soal mendengar suara bayi diperut seorang ibu dengan perut dililit kain.
Kegemparan makin menjadi ketika pejabat resmi ikut-ikutan.
Orang penting setingkat Menteri Luar Negeri, Adam Malik, ikut mengundang Zahara ke kantornya.
Sikap ini malah diikuti koleganya, Menteri Agama, Mochammad Dahlan.
Dia bahkan memberi komentar fantastis. Katanya "Imam Syafe'i pun selama tiga tahun di dalam perut ibunya"
Rupanya ia menyamakan fenomena ajaib bayi yang ada di dalam perut Cut Zahara dengan bayi ulama besar Imam Syafi'i.
Kisah ini makin fantastis ketika diberitakan media internasional.
Bumbu ceritanya bahkan dikatakan sampai ke Pakistan.
Ada media menulis, bila pemerintah Pakistan mengundang Cut Zahara dan suaminya piknik ke Istambul.
Hebatnya lagi, media tersebut mengolahnya dengan tambahan ramalan, bila sang bayi yang ada dalam perut Cut Zahara manakala lahir nanti akan menjadi sosok suci, yakni Imam Mahdi.
photo
Cut Zahara Fona 

Kabar riuh ini akhirnya masuk ke dalam Istana.
Kala itu pejabat penting negara sekelas Sekdalopbang (Sekretaris Pengendalian Pembangunan), Bardosono, sampai tergerak membawa Cut Zahara bertemu Presiden Soeharto.
Bukan hanya itu, sang Presiden pun benar-benar bertemu di ruang tunggu Bandara Kemayoran. Ibu Tien pun turut mendampinginya.
Untunglah Ibu Tien waspada.
Rupanya ia tak gampang percaya seraya meminta bukti forensik dengan meminta Cut Zahara di bawa ke RS Cipto Mangunkusumo. Cut Zahara diperiksa.
Dan ternyata ditemukan sebuah tape recorder kecil yang dililitkan diperutnya. Rahasia bayi ajaib itu pun terbongkar. 

Pieter Erberveld & kampung Pecah Kulit


Tugu peringatan Pieter Erberveld tahun 1885
tugu peringatan Pieter Erberveld (1888-1889)
Pieter Erberveld adalah seorang tokoh yang tercatat pernah dihukum mati oleh VOC pada tahun 1721 karena dianggap memimpin konspirasi dan sejumlah kekacauan yang bertujuan menentang kekuasaaan VOC.
Erberveld adalah orang Indo Jerman-Siam, namun kemudian bekerja di Batavia. Nama keluarganya menunjukkan bahwa keluarganya berasal dari Elberfeld, yang sekarang menjadi bagian dari kota WuppertalJerman
Ayahnya datang ke Batavia sebagai penyamak kulit. 
Setelah ia diangkat sebagai anggota Heemraad untuk mengurusi kepemilikan tanah di daerah Ancol, ia menjadi tuan tanah. Kekayaan ini diwariskan kepada anaknya.
Menurut versi VOC, Elberfeld bersekongkol dengan beberapa pejabat Banten di Batavia untuk membunuhi orang Belanda pada suatu perayaan pesta. 
VOC juga menuduh ia bersekongkol dengan keturunan Surapati di Jawa bagian timur. Tidak diketahui motivasi Elberfeld sesungguhnya, apakah ia memang ingin membantu orang Banten (dipimpin Raden Kartadriya) menguasai kembali Batavia, atau ia memiliki rencana sendiri, apabila Belanda enyah dari sana, karena ia sakit hati atas perlakuan Gubernur Jenderal Johan van Hoorn yang telah menyita tanahnya.
Rencana pembunuhan ini bocor karena ada budak yang melapor ke VOC. 
Versi lain mengatakan, kalau Sultan Banten-lah yang membocorkan karena ia khawatir akan pengaruh Elberfeld dan Kartadriya yang akan merongrong kekuasaannya.
Godee Molsbergen, yang menulis tentang peristiwa itu, melihat banyak kejanggalan pada tuduhan yang dialamatkan VOC terhadap Elberfeld.
Ia dihukum mati bersama dengan Kartadriya dan 17 orang penduduk asli lainnya di halaman selatan Benteng Batavia, bukan di halaman Balai Kota. 
Pelaksanaan hukuman mati itu digambarkan sangat sadis, dilakukan dengan menarik kedua tangan dan kaki, masing-masing diikat pada seekor kuda. 
Akibatnya, tubuhnya terpotong-potong. 
Hal ini dilakukan VOC untuk memberikan efek jera kepada penduduk agar tidak lagi mencoba-coba melakukan perlawanan pada mereka.
Tubuh Elberfeld dimakamkan di suatu sudut di Jalan Pangeran Jayakarta, dan kemudian didirikan suatu tugu peringatan. 
Di tugu itu dipajang tengkorak Elberfeld yang ditusuk tombak dan di bawahnya terdapat prasasti. 
Saat kedatangan Jepang 1942, tugu itu dihancurkan, namun prasastinya dapat diselamatkan. 
Replikanya kemudian didirikan kembali. 
Sejak tahun 1985 tugu itu kemudian dipindahkan ke Museum Prasasti Jakarta, karena tempat tugu itu berdiri dijadikan showroom mobil. 
Kampung tempat makam ini sekarang dinamakan Kampung Pecah Kulit. 
konon karena kulit Elberfeld terkelupas akibat hukuman itu. 

kiasan

sangat cantik dan sempurna. Wajahnya bak rembulan, badannya seperti gitar Spanyol dan betisnya bak padi bunting  Bagai air di daun keladi  D...