Saturday, February 29, 2020
Tanujiwa
Bung Hatta
Monday, February 24, 2020
sosial eksperimen
Percobaan sosial sering disebut sebagai "standar emas" untuk evaluasi program dan proses reformasi.
Dalam mengukur dampak program sosial, peneliti harus menilai hasil populasi yang relevan dengan ketika belum diadakannya program.
Hampir setiap kelompok perbandingan alami, bagaimanapun akan berbeda dengan komposisi kelompok yang terstruktur, biasanya karena bias responden (di luar percobaan, orang memilih untuk menerima perlakuan atau tidak menerima)
Pengacakan menciptakan kelompok kontrol yang secara statistik identik dalam sampel besar dengan kelompok yang ditugaskan untuk menerima perlakuan.
Sejarah
Diferensiasi awal bidang umum psikologi menjadi psikologi fisiologis dan sosial seperti yang disarankan oleh Wilhelm Wundt pada tahun 1862 untuk eksploitasi sosial pertama.
Pada tahun 1895, psikolog Amerika Norman Triplett membangun salah satu percobaan sosial pertama, dengan maksud untuk mempelajari pengaruh kelompok pada kinerja balap.
Selama tahun 1920, Gordon Allport menggunakan metode eksperimental untuk mempelajari kesesuaian, komunikasi nonverbal dan fasilitasi sosial, membentuk psikologi sosial seperti yang kita ketahui.
Eksperimen sosial yang biasa kita lihat sekarang dilakukan beberapa dekade kemudian.
Contoh yang terkenal adalah percobaan ketaatan Stanley Milgram pada tahun 1963. Percobaan sosial dimulai di Amerika Serikat sebagai ujian konsep Pajak Penghasilan Negatif di akhir tahun 1960an, dan sejak saat itu telah dilakukan di semua benua yang berpenduduk.
Beberapa "pilot telah menguji inovasi utama dalam kebijakan sosial" beberapa "telah digunakan untuk menilai perubahan inkremental dalam program yang ada" sementara beberapa "telah memberikan dasar untuk mengevaluasi keseluruhan kemanjuran program-program utama yang ada.
Sebagian besar "telah digunakan untuk mengevaluasi kebijakan yang ditargetkan pada kelompok penduduk yang kurang beruntung"
Selama tahun 1970an, cristicisme etika dan tuduhan gender dan bias ras menyebabkan penilaian ulang baik bidang psikologi sosial dan eksperimen yang dilakukan. Sementara metode eksperimen masih digunakan, metode lain mendapatkan popularitas.
Contoh percobaan sosial
Pada masa sekarang percobaan sosial banyak dilakukan melalui kanal-kanal dunia maya.
Para peneliti menggunakan responden berupa kontributor-kontributor dunia maya (netizen) baik melalui media sosial, blog dan halaman survei dalam bentuk web.
Saat ini kita sering melihat istilah percobaan sosial di platform berbagi video seperti Youtube yang digunakan untuk eksperimen orang awam, di mana aktor mencoba memprovokasi tanggapan dari orang yang lewat, biasanya difilmkan dengan kamera tersembunyi.
Sunday, February 23, 2020
Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro adalah putra sulung dari Sultan Hamengkubuwono III. Lahir dengan nama Mustahar, dari seorang selir bernama R.A Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri selir) yang berasal dari Pacitan.
Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, beliau menolak keinginan ayahnya untuk mengangkatnya menjadi Raja. Beliau setidaknya menikah dengan 9 wanita dalam hidupnya, yaitu :
- B.R.A. Retna Madubrangta puteri kedua Kyai Gedhe Dhadhapan.
- R.A. Supadmi yang kemudian diberi nama R.A. Retnakusuma, putri Raden Tumenggung Natawijaya III, Bupati Panolan, Jipang.
- R.A. Retnadewati seorang putri Kyai di wilayah Selatan Jogjakarta.
- R.Ay. Citrawati, puteri Raden Tumenggung Rangga Parwirasentika dengan salah satu isteri selir.
- R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretna (putri HB II) jadi R.A Maduretna saudara seayah dengan Sentot Prawiradirdja, tetapi lain ibu.
- R.A. Ratnaningsih, putri Raden Tumenggung Sumaprawira, bupati Jipang Kepadhangan.
- R.A. Retnakumala, putri Kyai Guru Kasongan.
- R.A. Ratnaningrum, putri Pangeran Penengah atau Dipawiyana II.
- Syarifah Fathimah Wajo putri Datuk Husain (Wanita dari Wajo, Makassar) makamnya ada di Makassar. Syarifah Fathimah nasab lengkapnya adalah Syarifah Fathimah Wajo binti Datuk Husain bin Datuk Ahmad bin Datuk Abdullah bin Datuk Thahir bin Datuk Thayyib bin Datuk Ibrahim bin Datuk Qasim bin Datuk Muhammad bin Datuk Nakhoda Ali bin Husain Jamaluddin Asghar bin Husain Jamaluddin Akbar.
Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat, sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari Sultan Hamengkubuwana I, Gusti Kangjeng Ratu Tegalrejo, daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono V.
Ketika itu, Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V, yang baru berusia 3 tahun. sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danureja bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujuinya.
Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830)
Perang berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo.
Saat itu beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.
Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat.
Atas saran GPH Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo dan membuat markas di sebuah gua yang bernama Gua Selarong.
Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir.
Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu.
Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Gua Selarong.
Kyai Mojo yang lahir di Desa Mojo di wilayah Pajang, dekat Kota Surakarta, tertarik berjuang bersama Pangeran Diponegoro karena Pangeran Diponegoro ingin mendirikan kerajaan yang berlandaskan Islam. Kyai Mojo dikenal sebagai ulama besar yang sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Diponegoro. Ibu Kyai Mojo, R.A. Mursilah, adalah saudara perempuan dari Sultan Hamengkubuwana III. Akan tetapi, Kyai Mojo, aslinya bernama Muslim Mochamad Khalifah, semenjak lahir tidak mencicipi kemewahan gaya hidup keluarga istana.
Jalinan persaudaraan Diponegoro dan Kyai Mojo kian erat setelah Kyai Mojo menikah dengan janda Pangeran Mangkubumi yang merupakan paman dari Diponegoro.
Tak heran, Diponegoro memanggil Kyai Mojo dengan sebutan "paman" meski relasi keduanya adalah saudara sepupu.
Selain Kyai Mojo, perjuangan Diponegoro juga didukung oleh Sunan Pakubuwono VI dan Raden Tumenggung Prawiradigdaya Bupati Gagatan.
Meski demikian, pengaruh dukungan Kyai Mojo terhadap perjuangan Diponegoro begitu kuat karena ia memiliki banyak pengikut dari berbagai lapisan masyarakat.
Kyai Mojo yang dikenal sebagai ulama penegak ajaran Islam ini bercita-cita, tanah Jawa dipimpin oleh pemimpin yang mendasarkan hukumnya pada syariat Islam. Semangat memerangi Belanda yang merupakan musuh Islam dijadikan Perang Suci. Oleh sebab itu, kekuatan Dipenogoro kian mendapat dukungan terutama dari tokoh-tokoh agama yang berafiliasi dengan Kyai Mojo.
Menurut Peter Carey (2016) dalam Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855, disebutkan bahwa sebanyak 112 kyai, 31 haji, serta 15 syekh dan puluhan penghulu berhasil diajak bergabung.
Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden.
Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro, hingga akhirnya ditangkap pada 1830.
Perang Diponegoro merupakan perang terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infanteri, kavaleri dan alteleri yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal.
Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya, sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi, begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur logistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus selama peperangan berkecamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.
Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan. para senopati menyadari sekali untuk bekerja sama dengan alam sebagai “senjata” tak terkalahkan.
Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan berbagai usaha untuk gencatan senjata dan berunding karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat.
Penyakit malaria, disentri dan sebagainya merupakan “musuh yang tak tampak” melemahkan moral dan kondisi fisik, bahkan merenggut nyawa pasukan mereka.
Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengkonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota, menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang di bawah komando pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.
Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu, suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu ketika suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu.
Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka (open warfare) maupun metode perang gerilya (guerilla warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan.
Ini bukan sebuah perang suku, melainkan suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan.
Perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat saraf (psy war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran. kegiatan telik sandi (spionase) dengan kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya.
Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng, sehingga Pasukan Diponegoro terjepit.
Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya, menyerah kepada Belanda.
Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang.
Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.
Perang melawan penjajah lalu dilanjutkan oleh para putra Pangeran Diponegoro, Ki Sodewa atau Bagus Singlon, Dipaningrat, Dipanegara Anom, Pangeran Joned yang terus-menerus melakukan perlawanan walaupun harus berakhir tragis.
Empat putra Pangeran Diponegoro dibuang ke Ambon, sementara Pangeran Joned terbunuh dalam peperangan, begitu juga Ki Sodewa.
Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban di pihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi dan 200.000 orang Jawa. Sehingga setelah perang ini, jumlah penduduk Ngayogyakarta menyusut separuhnya.
Mengingat bagi sebagian kalangan dalam Kraton Ngayogyakarta, Pangeran Diponegoro dianggap pemberontak, sehingga konon anak cucunya tidak diperbolehkan lagi masuk ke Kraton, sampai kemudian Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberi amnesti bagi keturunan Diponegoro dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dipunyai Diponegoro kala itu. Kini anak cucu Diponegoro dapat bebas masuk Kraton, terutama untuk mengurus silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan diusir.
- 20 Februar 1830, Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen (sekarang masuk wilayah Kabupaten Purworejo) Cleerens mengusulkan agar Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal de Kock dari Batavia.
- 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro menemui de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro. Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux.
- 11 April 1830, sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang Museum Fatahillah) Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch.
- 30 April 1830, keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Dipasana dan istri serta para pengikut lainnya seperti Mertaleksana, Banteng Wereng dan Nyai Sotaruna akan dibuang ke Manado.
- 3 Mei 1830, Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam.
- 1834, dipindahkan ke benteng Rotterdam, Makassar.
- 8 Januari 1855, Diponegoro wafat dan dimakamkan di Makassar, tepatnya di Jalan Diponegoro, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, sekitar empat kilometer sebelah utara pusat Kota Makassar.
Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dibantu oleh putranya bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewa. Ki Sodewa melakukan peperangan di wilayah Kulonprogo dan Bagelen.
Pangeran Diponegoro mempunyai 12 putra dan 10 orang putri, yang keturunannya semuanya kini hidup tersebar di seluruh dunia, termasuk Jawa, Madura, Sulawesi dan Maluku bahkan di Australia, Serbia, Jerman, Belanda dan Arab saudi.
Sebagai penghargaan atas jasa Diponegoro dalam melawan penjajahan, di beberapa kota besar Indonesia terdapat Jalan Pangeran Diponegoro.
Kota Semarang sendiri juga memberikan apresiasi agar nama Pangeran Diponegoro akan senantiasa hidup.
Nama-nama tempat yang menggunakan namanya antara lain Stadion Diponegoro, Jalan Pangeran Diponegoro, Universitas Diponegoro, Kodam IV Diponegoro. Juga ada beberapa patung yang dibuat, patung Diponegoro di Undip Pleburan, patung Diponegoro di Kodam IV/Diponegoro serta di pintu masuk Undip Tembalang.
Pemerintah Republik Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, pada tanggal 8 Januari 1955, pernah menyelenggarakan Haul Nasional memperingati 100 tahun wafatnya Pangeran Diponegoro, sedangkan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional diperoleh Pangeran Diponegoro pada tanggal 6 November 1973 melalui Keppres No.87/TK/1973.
Penghargaan tertinggi justru diberikan oleh Dunia, pada 21 Juni 2013, Unesco menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World)
Babad Diponegoro merupakan naskah klasik yang dibuat sendiri oleh Pangeran Diponegoro ketika diasingkan di Manado pada 1832-1833.
Selain itu, untuk mengenang jasa Pangeran Diponegoro dalam memperjuangkan kemerdekaan, didirikanlah Museum Pangeran Diponegoro atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Sasana Wiratama" di Tegalrejo, Yogyakarta, yang menempati bekas kediaman Pangeran Diponegoro.
Ronggowarsito
Ayah Bagus Burhan merupakan keturunan Kesultanan Pajang, sedangkan ibunya adalah keturunan dari Kesultanan Demak.
Bagus Burhan diasuh oleh Ki Tanujaya, abdi dari ayahnya.
Sewaktu muda, Burhan terkenal nakal dan gemar judi. Ia dikirim kakeknya untuk berguru agama Islam pada Kyai Imam Besari pemimpin Pesantren Gebang Tinatar di desa Tegalsari, Ponorogo. Pada mulanya ia tetap saja bandel, bahkan sampai kabur ke Madiun. Setelah kembali ke Ponorogo, konon ia mendapat "pencerahan" di Sungai Kedungwatu, sehingga berubah menjadi pemuda alim yang pandai mengaji.
Ketika pulang ke Surakarta, Burhan diambil sebagai cucu angkat Panembahan Buminoto (adik PakubuwonoIV)
Ia kemudian diangkat sebagai Carik Kadipaten Anom bergelar Mas Pajanganom.
Pada masa pemerintahan Pakubuwono V, karir Burhan tersendat-sendat karena Raja baru ini kurang suka dengan Panembahan Buminoto yang selalu mendesaknya agar pangkat Burhan dinaikkan.
Burhan menikah dengan Raden Ayu Gombak dan ikut mertuanya, Adipati Cakradiningrat di Kediri. Di sana ia merasa jenuh dan memutuskan berkelana ditemani Ki Tanujoyo. Konon, Burhan berkelana sampai ke Pulau Bali untuk mempelajari naskah-naskah sastra Hindu koleksi Ki Ajar Sidalaku.
Bagus Burhan diangkat sebagai Panewu Carik Kadipaten Anom bergelar Raden Ngabei Ronggowarsito, menggantikan ayahnya yang meninggal di penjara Belanda tahun 1830. Lalu setelah kematian Yasadipura II, Ranggawarsita diangkat sebagai pujangga Kasunanan Surakarta oleh Pakubuwono VII.
Pada masa inilah Ronggowarsito melahirkan banyak karya sastra.
Hubungannya dengan Pakubuwono VII juga sangat harmonis. Ia juga dikenal sebagai peramal ulung dengan berbagai macam ilmu kesaktian.
Naskah-naskah babad cenderung bersifat simbolis dalam menggambarkan keistimewaan Ronggowarsito.
Misalnya, ia dikisahkan mengerti bahasa binatang. Ini merupakan simbol bahwa Ronggowarsito peka terhadap keluh kesah rakyat kecil.
Pakubuwono IX naik tahta tahun 1861. Ia adalah putra Pakubuwono VI yang dibuang ke Ambon tahun 1830 karena mendukung Pangeran Diponegoro.
Konon, sebelum menangkap Pakubuwono VI, pihak Belanda lebih dulu menangkap juru tulis keraton, yaitu Mas Pajangswara untuk dimintai kesaksian. Meskipun disiksa sampai tewas, Pajangswara tetap diam tidak mau membocorkan hubungan Pakubuwono VI dengan Pangeran Diponegoro.
Meskipun demikian, Belanda tetap saja membuang Pakubuwono VI dengan alasan bahwa Pajangswara telah membocorkan semuanya.
Fitnah inilah yang menyebabkan Pakubuwono IX kurang menyukai Ronggowarsito yang tidak lain adalah putra Pajangswara.
Hubungan Ronggowarsito dengan Belanda juga kurang baik. Meskipun ia memiliki sahabat dan murid seorang Indo bernama C.F Winter, tetap saja gerak-geriknya diawasi Belanda.
Ronggowarsito dianggap sebagai jurnalis berbahaya yang tulisan-tulisannya dapat membangkitkan semangat juang kaum pribumi. Karena suasana kerja yang semakin tegang, akibatnya Ronggowarsito pun keluar dari jabatan redaksi surat kabar Bramartani tahun 1870.
Ranggawarsita meninggal dunia secara misterius tanggal 24 Desember 1873. Anehnya, tanggal kematian tersebut justru terdapat dalam karya terakhirnya, yaitu Serat Sabdajati yang ia tulis sendiri. Hal ini menimbulkan dugaan kalau Ronggowarsito meninggal karena dihukum mati, sehingga ia bisa mengetahui dengan persis kapan hari kematiannya.
Penulis yang berpendapat demikian adalah Suripan Sadi Hutomo (1979) dan Andjar Any (1979)
Pendapat tersebut mendapat bantahan dari pihak elit keraton Surakarta, yang berpendapat kalau Ronggowarsito adalah peramal ulung, sehingga tidak aneh kalau ia dapat meramal hari kematiannya sendiri.
Istilah Zaman Edan, konon pertama kali diperkenalkan oleh Ronggowarsito dalam Serat Kalatida, yang terdiri atas 12 bait tembang Sinom.
Salah satu bait yang paling terkenal adalah :
- amenangi zaman edan,
- Ewuhaya ing pambudi,
- melu ngedan nora tahan,
- yen tan melu anglakoni,
- boya keduman melik,
- kaliren wekasanipun,
- ndilalah kersa Allah,
- begja-begjaning kang lali,
- luwih begja kang eling klawan waspada.
- menyaksikan zaman gila,
- serba susah dalam bertindak,
- ikut gila tidak akan tahan,
- tapi kalau tidak mengikuti gila,
- tidak akan mendapat bagian,
- kelaparan pada akhirnya,
- namun telah menjadi kehendak Allah,
- sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
- akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.
Syair di atas menurut analisis seorang penulis bernama Ki Sumidi Adisasmito adalah ungkapan kekesalan hati pada masa pemerintahan Pakubuwono IX yang dikelilingi para penjilat yang gemar mencari keuntungan pribadi. Syair tersebut masih relevan hingga zaman modern ini di mana banyak dijumpai para pejabat yang suka mencari keutungan pribadi tanpa mempedulikan kerugian pihak lain.
Karya sastra tulisan Ronggowarsito antara lain :
- Bambang Dwihastha
- Bausastra Kawi
- Sajarah Pandhawa lan Korawa : miturut Mahabharata
- Sapta dharma
- Serat Aji Pamasa
- Serat Candrarini
- Serat Cemporet
- Serat Jaka Lodang
- Serat Jayengbaya
- Serat Kalathida
- Serat Panitisastra
- Serat Pandji Jayeng Tilam
- Serat Paramasastra
- Serat Paramayoga
- Serat Pawarsakan
- Serat Pustaka Raja
- Suluk Saloka Jiwa
- Serat Wedaraga
- Serat Witaradya
- Sri Kresna Barata
- Wirid Hidayat Jati
- Wirid Ma'lumat Jati
- Serat Sabda Jati
Ramalan tentang kemerdekaan Indonesia
Ranggawarsita hidup pada masa penjajahan Belanda. Ia menyaksikan sendiri bagaimana penderitaan rakyat Jawa, terutama ketika program Tanam Paksa dijalankan pasca Perang Diponegoro. Dalam suasana serba memprihatinkan itu, Ranggawarsita meramalkan datangnya kemerdekaan, yaitu kelak pada tahun Wiku Sapta Ngesthi Janma.
Kalimat yang terdiri atas empat kata tersebut terdapat dalam Serat Jaka Lodang dan merupakan kalimat Suryasengkala yang jika ditafsirkan akan diperoleh angka 7-7-8-1. Pembacaan Suryasengkala dibalik dari belakang ke depan, yaitu 1877 Saka, yang bertepatan dengan 1945 Masehi, yaitu tahun kemerdekan Republik Indonesia.
Pengalaman pribadi Bung Karno pada masa penjajahan adalah ketika berjumpa dengan para petani miskin yang tetap bersemangat di dalam penderitaan, karena mereka yakin pada kebenaran ramalan Ranggawarsita tentang datangnya kemerdekaan di kemudian hari.
Pemberantasan Buta Huruf (PBH)

Di Negara Republik Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa hukumnya wajib, karena amanat konstitusi mengatakan bahwa “Pendidikan Menjadi Hak Setiap Warga Negara”
Sebagai konsekuensi dari semua itu, pemerintah punya kewajiban untuk menyelenggarakan sistem pendidikan dan membuka akses selebar-lebarnya kepada setiap warga negara untuk mendapatkan fasilitas pendidikan tanpa adanya diskriminasi apapun untuk mendapatkannya.
Misi memberantas buta huruf bukan hanya sekedar cara mengajari rakyat bisa membaca dan menulis, bukan pula sekedar untuk mengantarkan rakyat Indonesia dari kegelapan menuju tempat yang terang. Hal lebih penting dari semua itu adalah misi menyempurnakan “kewarganegaraan”
tanpa bisa membaca dan menulis, berarti seseorang tidak menyadari hak dan kewajibannya sebagai warga negara. seseorang akan sulit bertindak atas nama dirinya dalam politik, karena tidak bisa membaca konstitusi dan memahaminya.
Indonesia pada masa penjajahan Hindia Belanda pernah mengalami kerterpurukan dan kegelapan di bidang pendidikan.
Kartini sebagai pelopor pemberantasan buta huruf untuk Bangsa Indonesia menggambarkan masyarakat kita tak ubahnya seperti hutan rimba yang gelap gulita. beliau menulis surat kepada sahabatnya Estelle Zeehendelaar “duh, sekarang aku mengerti, mengapa orang begitu menentang keterpelajaran orang Jawa. Kalau orang jawa terpelajar, dia tidak akan gampang menjadi pengamin saja, takkan menerima segala macam perintah atasannya lagi”
Sebagai pejuang yang idealis, Ibu Kartini tidak pernah menyerah dengan keadaan dan tradisi yang berlaku pada zamannya. suasana gelap gulita kehidupan, dia terangi dengan lentera ilmu pengetahuan, mengajari kaumnya dengan cara mengajarkan melek huruf dan bisa membaca tanpa henti untuk memajukan pengajaran bagi kaum pribumi. Semangat juang dan pengabdian Kartini, banyak mengilhami para pejuang kemerdekaan Indonesia. maka tidaklah mengherankan bila salah satu tujuan nasional dari Kemerdekaan Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945.
Maka tidaklah mengherankan bila di awal pemerintahan Presiden Soekarno, begitu Proklamasi Kemerdekaan baru usai dikumandangkan, pemerintahan Soekarno tidak hanya menyerukan mengangkat senjata melawan kolonialisme Belanda, tetapi juga memerintahkan menenteng pena dan buku untuk memberantas buta huruf di kalangan rakyat Indonesia.
Pada tanggal 14 Maret 1948, Presiden Soekarno mencanangkan Pemberantasan Buta Huruf (PBH)
Dalam suasana perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Bung Karno mengatakan “Bukan saja kita menang di medan perang, tetapi juga dalam hal memberantas buta huruf kita"
Dalam suasana kecamuk perang, pemerintah Soekarno masih sempat menyelenggarakan kursus PBH di 18.663 tempat, yang melibatkan 17.822 orang guru dan 761.483 orang murid. Sedangkan yang digelar secara independen berjumlah 881 tempat dengan 515 orang guru dan 33.626 murid.
Pada tahun 1960, Bung Karno kembali mengeluarkan komado, Indonesia harus terbebas dari buta huruf hingga tahun 1964. Seluruh rakyat pun dimobilisasi untuk mensukseskan ambisi tersebut. Banyak orang yang pandai baca tulis, dikerahkan untuk mengajar secara sukarela. Organisasi masa banyak dilibatkan untuk mensukseskan program luhur ini. Hasilnya sungguh menakjubkan, pada tanggal 31 Desember 1964, semua penduduk Indonesia usia 13-45 tahun (kecuali yang ada di Irian Barat) dinyatakan bebas buta huruf.
Dari hasil program pemerintahan Soekarno, ada dua yang perlu dicatat.
1. Adanya komitmen kuat pemerintahan saat itu untuk menempatkan pemberantasan buta huruf sebagai bagian dari perjuangan nasional yang tidak boleh dikesampingkan.
2. Adanya proses pelibatan dan mobilisasi rakyat dalam mensukseskan pemberantasan buta huruf.
Saturday, February 22, 2020
Terakota
Tanah liat yang halus dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan.
Setelah dikeringkan, karya tersebut diletakkan di dalam tungku atau diatas api terbuka (api unggun) lalu dibakar.
Temperatur pembakaran sekitar 1000° C. Kandungan besi yang terdapat pada tanah liat membuat karya tersebut berwarna kuning, oranye, merah, merah jambu, abu-abu atau cokelat.
Terakota yang dibakar tidak menjadikannya tahan air. Tetapi penggosokan pada permukaan sebelum dibakar dapat mengurangi tingkat penyerapannya dan terakota tersebut dapat ditambah dengan glasir untuk membuatnya menjadi kedap air. Hasilnya cocok digunakan untuk membawa air, untuk peralatan perkebunan atau dekorasi bangunan di lingkungan tropis dan untuk wadah penyimpan minyak, lampu minyak atau oven.
Kebanyakan penggunaan lainnya adalah untuk peralatan makan dan minum, pipa saluran air atau dekorasi bangunan di lingkungan dingin yang membutuhkan bahan-bahan yang diglasir. Terakota jika tidak retak akan berdenging jika dipukul perlahan. Beberapa terakota dibentuk dari dasar yang ditambahkan terakota yang didaur ulang.
Terakota digunakan di sepanjang masa untuk memahat dan membuat wadah dan juga untuk membuat bata dan genteng.
Pada zaman dahulu, patung tanah liat yang pertama dikeringkan di bawah sinar matahari setelah dibentuk. Kemudian patung tersebut diletakkan di abu dari api unggun untuk memperkeras dan akhirnya mempergunakan tungku seperti yang digunakan pada tembikar pada saat ini. Namun hanya setelah pembakaran menggunakan suhu yang tinggi, bahan ini dapat digolongkan menjadi materi keramik.
Arca terakota kasar ditemukan oleh para arkeolog pada ekskavasi Mahenjo daro dan Harappa yang merupakan dua situs perkotaan besar pada periode Lembah sungai indus (3000 - 1500 SM) di daerah yang sekarang merupakan bagian dari Pakistan.
Termasuk dalam benda yang ditemukan diantaranya adalah batu berbentuk phallus yang memberi kesan bahwa terdapat pemujaan terhadap dewa atau dewi kesuburan dan kepercayaan terhadap Dewi Ibu.
Patung masa pra kolonial Afrika Barat juga terbuat dari terakota. Daerah ini merupakan daerah yang paling terkenal di dunia untuk produksi seni terakota, termasuk diantaranya budaya Nok dari Nigeria tengah dan utara, kebudayaan Benin di bagian barat dan selatan Nigeria, kebudayaan igbo di daerah timur Nigeria.
Dalam ilmu kimia, keping-keping/lembaran terakota digunakan sebagai katalis heterogen untuk memutus alkana rantai-panjang. Proses ini berguna untuk mendapatkan produk-produk yang lebih berguna seperti bensin atau petrol dari bahan yang kurang berguna semisal alkana rantai panjang berkekentalan tinggi.
Dibandingkan dengan pemahatan dalam perunggu, terakota memakai cara yang jauh lebih sederhana untuk menghasilkan karya dengan biaya yang jauh lebih rendah. Teknik penggunaan cetakan yang dipakai kembali dapat dipergunakan untuk rangkaian kegiatan produksi. Jika dibandingkan dengan patung marmer dan hasil karya batu lainnya, hasil karya yang telah selesai, jauh lebih ringan dan dapat diglasir untuk menghasilkan produk dengan warna atau ketahanan yag lebih baik.
Warna terakota adalah antara jingga dan coklat.
Larry Tesler pencipta Copy Paste
Larry TeslerPengguna komputer tentu sangat dimudahkan dengan fitur copy paste serta cut.
Siapakah penemu copy paste itu?
Dia adalah Larry Tesler.
Tesler mulai bekerja di Silicon Valley pada tahun 1960-an. Kala itu masih sangat sedikit orang yang dapat mengakses komputer.
Larry kemudian banyak berinovasi, termasuk menciptakan komando cut, copy dan paste. Tak terbantahkan fitur tersebut membuat komputer pribadi menjadi makin berguna.
"Penemu cut/copy & paste dulu adalah mantan periset Xerox.Tesler lahir di Bronx, New York pada 1945. Ia kuliah di kampus bergengsi, Stanford. Setelah lulus, ia menjadi spesialis desain user interface dengan tujuan memudahkan pemakaian komputer.
Dikutip dari BBC, Tesler bekerja di berbagai perusahaan besar. Ia mulai berkarir di Xerox Palo Alto Research Center (Parc)
Steve Jobs kemudian membajaknya, jadilah Tesler bekerja di Apple selama 17 tahun dan menjadi Chief Scientist. Setelah itu, dia membuat startup edukasi dan bekerja singkat di Amazon dan Yahoo.
Cut, copy, paste sendiri dibenamkan di software Apple untuk komputer Lisa pada tahun 1983. Juga di komputer Macintosh original yang rilis setahun kemudian.
"Setelah menghasilkan uang, anda tidak begitu saja pensiun, anda menghabiskan waktu mendanai perusahaan lain. Ada elemen kesenangan yang sangat kuat untuk membagikan apa yang Anda pelajari ke generasi selanjutnya" kata Tesler mengenai misinya.
Saturday, February 1, 2020
Sejarah sekolah STM
Sekolah Pertukangan adalah cikal bakal Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia. Nenek moyang anak STM dan pendidikan kejuruan di Indonesia boleh dibilang berasal dari zaman VOC. Sekolah berorientasi kejuruan pertama adalah Akademi Pelayaran (Academie der Marine) yang didirikan VOC pada tahun 1743, tetapi ditutup kembali pada tahun 1755.
Ketika kekuasaan VOC berakhir pada penghujung abad ke-18, pendirian sekolah-sekolah dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda yang didasarkan atas keturunan, bangsa dan status sosial. Pendidikan kejuruan kemudian dilanjutkan kembali pada pertengahan abad 19.
Pada 1853, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Ambacht School van Soerabaia (Sekolah Pertukangan Surabaya) ini adalah sekolah kejuruan pertama di Indonesia. Berbentuk sekolah teknik menengah, kelas belajarnya diselenggarakan malam hari untuk anak-anak Indo Belanda. Pada 1856, sekolah serupa didirikan di Jakarta.
Darmaningtyas mencatat dalam "Pendidikan yang Memiskinkan" (2004) bahwa Wardiman Djojonegoro selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993-1998, memiliki andil dalam perubahan nama-nama sekolah kejuruan, termasuk STM. Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), Sekolah Menengah Keterampilan Keluarga (SMKK), Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) dan lain-lain. Sekolah-sekolah tersebut oleh Mendikbud melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 036/0/1997, namanya diseragamkan menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Dalam buku "Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke Jaman" (1986) Pada tahun 1856, Ambachtsschool menyediakan perkumpulan Kristen. Bukan hanya perkumpulan Kristen, pada tahun 1865, sebuah tarekat Mason Bebas alias Freemason juga mendirikan Ambachtsschool di Batavia. Informasi ini disampaikan oleh Th.Stevens dalam "Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764 - 1962" (2004)
Bahasa pengantar di sekolah-sekolah pertukangan adalah bahasa Belanda. Para siswanya merupakan sekolah dasar yang berbasis Belanda, seperti Hollandsch Inlandsch School (HIS), Hollandsche Chineesche School (HCS) dan Schakelschool (Sekolah Peralihan) yang lama pendidikannya tiga tahun.
Jurusan di Ambachtsschool antara lain montir mobil, mesin, listrik, kayu dan penata batu. Tujuan dari sekolah ini adalah Skor W Erkbaas atau mandor.
Saat pelajaran di Ambachtschool milik Tarekat Mason Bebas tersebar luas, mereka membuka sekolahnya untuk pemerintah kolonial. Sekolah itu kemudian dikenal dengan nama Koningen Wilhelmina School (KWS)
Alumni KWS Batavia yang terkenal adalah Friedrich Silaban, perancang Masjid Istiqlal dan Teuku Muhammad Hasan yang pernah menjadi gubernur Sumatra pertama.
Setiadi Sapandi dalam buku Friedrich Silaban (2017) mencatat, perancang Masjid Istiqlal itu belajar di KWS Batavia, di Surabaya ada sekolah teknik bernama Koningen Emma School (KES) dan Koningen Princes Juliana School. Selain di Batavia dan Surabaya, di Bandung juga ada Ambacht Leergang atau pelatihan pertukangan yang menerima siswa sekolah dasar yang kualitasnya di bawah HIS. Selain kursus yang menyenangkan, Bandung juga punya Gemeentelijke Ambachtsschool. Salah satu jebolannya adalah Jenderal Amirmachmud, mantan Menteri Dalam Negeri di era Orde Baru.
“Pendidikan saya hanya Sekolah Teknik (Ambachtschool) setelah menamatkan HIS. Lebih lengkap hanya untuk SMA yang sekarang. Minimal kemampuan bahasa Inggris saya yang juga minimal" kata Amirmachmud seperti mengutip Julius Pour dalam Baramuli Menggugat Politik Zaman (2000)
Dari dunia sepakbola, lulusan Ambachtsschool yang terkenal adalah Tan Liong Houw alias Latief Harris Tanoto. Ia lulus dari Ambachtschool di Jakarta pada 1947.
Dalam "Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764 - 1962, sekolah kejuruan pada zaman kolonial bukan hanya Ambachtschool. Di Semarang misalnya, sekolah yang ditujukan untuk para gadis.
Kala itu, sekolah menengah yang menerima sekolah dasar Belanda bukan hanya Ambachtsschool. Saat masuk STOVIA alias sekolah dokter Hindia, Radjiman Wediodiningrat, Soebroto alias Soetomo dan Wahidin Sudirohusodo, berstatus sebagai sekolah dasar dari Eropa Lager School (ELS) Begitu juga saat Raden Soelaiman Effendi Koesoemah Atmadja dan Besar Martokusumo masuk Rechtschool alias sekolah hakim di Batavia, status mereka adalah sebagai sekolah dasar. Sekolah hukum dan sekolah dokter menjadi sekolah tinggi yang hanya menerima siswa sekolah menengah seperti Algemene Middelbare School (AMS)
Setelah Indonesia merdeka, nama Ambachtsschool berganti menjadi Sekolah Teknik Pertama (STP) yang masa belajarnya hanya dua tahun. Sebelum 1950, seperti dicatat Suradi HP dan kawan-kawan dalam "Sejarah Pemikiran Pendidikan dan Kebudayaan" (1986) masa belajar di sekolah ini menjadi tiga tahun, sesuai dengan SMP dengan nama Sekolah Teknik (ST) Sekolah ini menerima hasil dari Sekolah Rakjat. Jurusannya antara lain bangunan, cor, keramik, kulit, listrik, cetak, radio, tenun dan sebagainya. Lulusan ST biasanya melanjutkan ke Sekolah Teknik Menengah (STM)
Pada umumnya, STM memiliki beberapa jurusan seperti kimia, listrik, mesin, mesin kapal, radio, tambang, pemeliharaan mesin uap, pemeliharaan mobil, pemeliharaan alat listrik, instrumen pesawat terbang, kerangka motor, pesawat terbang dan ukiran. Salah satu orang yang memulai bersekolah di STM adalah Robby Kaihana atau Robby Sugara (1950 - 2019) Ia terkenal bukan sebagai ahli teknik, tapi populer sebagai aktor era 1970-an yang masuk dalam "Lima Besar" karena bayarannya sangat mahal.
Dalam "Apa Siapa Orang Film Indonesia"(1926 - 1978) yang disusun oleh Sinematek Indonesia, Robby Sugara disebut lulusan STM Poncol, jurusan Sipil Bangunan. Lulusan STM jurusan bangunan lainnya yang hadir di dunia hiburan adalah Koesdjono Koeswojo, kakak Tonny Koeswojo, yang ikut mengumpulkan Koes Bersaudara. Contoh lain lulusan STM yang dikenal oleh masyarakat, seperti yang dicatat Amiruddin Sormin, 100 Tokoh Terkemuka Lampung : 100 Tahun Kebangkitan Nasional (2008) adalah Jenderal Ryamizard Ryachudu
sejarah STM 3 BONSER
Kalender Jawa (Kalender Sultan Agungan)
Sultan Agung adalah raja ketiga dari Kerajaan Mataram Islam.
Pada masa itu, masyarakat Jawa menggunakan kalender Saka yang berasal dari India.
Kalender Saka didasarkan pergerakan matahari (solar)
berbeda dengan Kalender Hijriah atau Kalender Islam yang didasarkan pada pergerakan bulan (lunar)
Oleh karena itu, perayaan-perayaan adat yang diselenggarakan oleh keraton tidak selaras dengan perayaan-perayaan hari besar Islam.
Sultan Agung menghendaki agar perayaan-perayaan tersebut dapat bersamaan waktu. Untuk itulah diciptakan sebuah sistem penanggalan baru yang merupakan perpaduan antara kalender Saka dan kalender Hijriah.
Sistem penanggalan inilah yang kemudian dikenal sebagai kalender Jawa atau kalender Sultan Agungan.
Kalender ini meneruskan tahun Saka, namun melepaskan sistem perhitungan yang lama dan menggantikannya dengan perhitungan berdasar pergerakan bulan.
Karena pergantian tersebut tidak mengubah dan memutus perhitungan dari tatanan lama, maka pergeseran peradaban ini tidak mengakibatkan kekacauan, baik bagi masyarakat maupun bagi catatan sejarah.
Siklus tujuh hari ini sewaktu dengan siklus mingguan pada kalender Masehi : Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu.
Pancawara juga biasa disebut sebagai pasaran. Siklus ini dahulu digunakan oleh pedagang untuk membuka pasar sesuai hari pasaran yang ada. Karena itu kini banyak dikenal nama-nama pasar yang menggunakan nama pasaran tersebut, seperti Pasar Kliwon, Pasar Legi, Pasar Pahing, Pasar Pon dan Pasar Wage.
Pada tahun panjang tersebut, bulan Besar sebagai bulan terakhir memiliki umur 30 hari.
Geger Pecinan
Pembunuhan tahanan Tionghoa saat pembantaian
| |||
| |||
Diperkirakan bahwa lebih dari 10.000 orang keturunan Tionghoa dibantai.
Jumlah orang yang selamat tidak pasti.
ada dugaan dari 600 sampai 3.000 yang selamat.
Pada tahun berikutnya, terjadi berbagai pembantaian di seluruh pulau Jawa.
Hal ini memicu suatu perang selama dua tahun dengan tentara gabungan Tionghoa dan Jawa melawan pasukan Belanda. Setelah itu, Valckenier dipanggil kembali ke Belanda dan dituntut atas keterlibatannya dalam pembantaian ini.
Gustaaf Willem van Imhoff menggantikannya sebagai gubernur jenderal.
Markonah
Media massa kala itu terkena eforia dan antusias menyambutnya.
Dua koran kala itu, yakni Masa Marhaen dan Duta Masyarakat memajang foto sang raja dan ratu bersama Bung Karno di halaman depan.
Saran dari seorang pejabat terbukti.
Di foto yang ada di koran itu dipasang keterangan, Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu Indonesia membebaskan Irian Barat.
Apalagi foto itu menarik karena keduanya mengenakan kaca mata hitam.
Laksana air bah, keterpesonaan kepada sosok Raja Idrus dan Ratu Markonah melimpah ruah.
Pasangan ini menjadii pesohor baru dadakan. Para pejabat antusias menyalami, publik pun ikut terkesima.
Apalagi sosok Ratu Markonah lumayan cantik, meski punya sedikit cacat di bagian mata.
Sosok pasangan ini laku keras bak pisang goreng.
Jurnalis pun sibuk meliput dan publik di mana-mana mengajaknya berfoto.
Gosip pun menyebar.
Ada berita dan desas-desus bahwa keduanya diberi uang saku lumayan gede, menginap gratis di hotel mewah, hingga makan gratis di restoran elit.
Bahkan dikabarkan mereka dijamu bukan hanya sehari dua hari saja, tapi sampai berpekan-pekan lamanya.
nasib mujur Raja Idrus dan Ratu Markonah kemudian terbongkar.
Kala itu kedua sejoli ini tengah asyik pesiar dan shoping barang mewah dan cindera mata di sebuah pusat belanja di Jakarta. Tampaknya tanpa mereka sadari datang hari sial.
Ini akibat publik mengenali sosoknya sebagai imbas mereka menjadi seorang pesohor dadakan.
Ada seorang tukang becak yang mengenali Raja Idrus. Ia katakan, bahwa dia itu adalah temannya yang juga sama-sama penarik becak.
apa yang dikatakan sang penarik becak soal asal usul Raja Idrus terendus wartawan. seorang jurnalis itu mencoba menelusuri kebenaran itu. Alhasil, setelah mengurai kabar kusut, jejak Raja Idrus diketahui.
Dia ternyata memang seorang tukang becak dan sang permasurinya adalah seorang pelacur kelas teri.
Dan si perempuan bukan dari suku Anak Dalam di Jambi, melainkan orang Tegal.
Selain itu, nama dan kisah Raja Idrus dan Ratu Markonah juga dibuatkan lagu yang dibawakan penyanyi Teti Kadi.
Di tahun 1970-an, ada cerita tentang seorang perempuan asal Aceh yang sedang hamil tidak biasa. Kala itu tersiar kabar sang bayi yang masih dalam perut perempuan bernama Cut Zahara Fona bisa bicara. Tak tanggung-tanggung, bahkan si jabang bayi itu yang belum berada di dunia, bisa mengaji.
Kisah ini juga tersebar luas ke publik. Masyarakat geger.
Apalagi banyak orang yang bersaksi bila sudah mendengar langsung suara bayi itu ketika menempelkan telinganya ke perut Zahara.
Lagi-lagi media masa saat itu ikutan heboh. Dia memuat aneka berita soal mendengar suara bayi diperut seorang ibu dengan perut dililit kain.
Kegemparan makin menjadi ketika pejabat resmi ikut-ikutan.
Orang penting setingkat Menteri Luar Negeri, Adam Malik, ikut mengundang Zahara ke kantornya.
Sikap ini malah diikuti koleganya, Menteri Agama, Mochammad Dahlan.
Dia bahkan memberi komentar fantastis. Katanya "Imam Syafe'i pun selama tiga tahun di dalam perut ibunya"
Rupanya ia menyamakan fenomena ajaib bayi yang ada di dalam perut Cut Zahara dengan bayi ulama besar Imam Syafi'i.
Kisah ini makin fantastis ketika diberitakan media internasional.
Bumbu ceritanya bahkan dikatakan sampai ke Pakistan.
Ada media menulis, bila pemerintah Pakistan mengundang Cut Zahara dan suaminya piknik ke Istambul.
Hebatnya lagi, media tersebut mengolahnya dengan tambahan ramalan, bila sang bayi yang ada dalam perut Cut Zahara manakala lahir nanti akan menjadi sosok suci, yakni Imam Mahdi.

Cut Zahara Fona
Kabar riuh ini akhirnya masuk ke dalam Istana.
Kala itu pejabat penting negara sekelas Sekdalopbang (Sekretaris Pengendalian Pembangunan), Bardosono, sampai tergerak membawa Cut Zahara bertemu Presiden Soeharto.
Bukan hanya itu, sang Presiden pun benar-benar bertemu di ruang tunggu Bandara Kemayoran. Ibu Tien pun turut mendampinginya.
Untunglah Ibu Tien waspada.
Rupanya ia tak gampang percaya seraya meminta bukti forensik dengan meminta Cut Zahara di bawa ke RS Cipto Mangunkusumo. Cut Zahara diperiksa.
Dan ternyata ditemukan sebuah tape recorder kecil yang dililitkan diperutnya. Rahasia bayi ajaib itu pun terbongkar.
Pieter Erberveld & kampung Pecah Kulit
kiasan
sangat cantik dan sempurna. Wajahnya bak rembulan, badannya seperti gitar Spanyol dan betisnya bak padi bunting Bagai air di daun keladi D...
-
Sekolah Pertukangan adalah cikal bakal Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia. Nenek moyang anak STM dan pendidikan kejuruan di Indonesia bo...
-
ASMARADANA adalah salah satu jenis tembang yang populer dalam masyarakat Jawa. Berasal dari dua kata, yaitu asmara (cinta) dan dahana (...
-
Catatan Kecil Ega Menemukan Jejak-jejak Sejarah Bekasi yang Terbengkalai Ega 7 years ago Bekasi, kota penyangga ibukota yang mungkin tak b...


