Tuesday, June 30, 2020

hajat

LARANGAN SAAT BUANG HAJAT

Disebutkan dalam Kitab Bughyatul Al-Mustarsyidin, Karya Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar Al-Masyhur Ba'alawi, bahwasannya jika melakukan perkara-perkara di bawah ini ketika buang hajat akan menyebabkan sesuatu yang tidak kita inginkan terhadap diri kita, yaitu sebagai berikut :

1. Meludah ke atas kotoran yang dikeluarkan akan menyebabkan orang itu suka was-was dan menyebabkan giginya kuning serta akan terkena penyakit yang berhubungan dengan darah.

2. Bersiwak/sikat gigi sambil buang hajat akan menyebakan penyakit lupa dan kebutaan.

3. Lama duduk ketika buang hajat akan menyebabkan penyakit hati dan wasir.

4. Mengeluarkan hingus ketika buang hajat akan menyebabkan ketulian.

5. Menggerakkan cincin ketika buang hajat akan menyebabkan syaitan tinggal di dalamnya.

6. Berbicara dengan pembicaraan yang tidak diperlukan ketika buang hajat akan menyebabkan kemurkaan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

7. Mematikan kutu rambut saat buang hajat akan menyebabkan syaitan akan tinggal bersamanya selama 40 hari melalaikan dari Allah.

8. Memejamkan mata saat buang hajat akan menyebabkan kemunafikan.

9. Membuang batu istinja' atau sejenisnya ke arah kotoran yang dikeluarkan, akan menyebabkan orang tersebut terkena penyakit angin.

10. Mengeluarkan gigi palsu saat buang hajat dan meletakkan kedua tangan di atas kepala ketika itu akan menyebabkan keras hati dan hilangnya rasa malu dan dapat menyebabkan penyakit lepra.

11. Bersandar ketika buang hajat akan menyebabkan hilangnya air muka dan dapat membesarkan perut.

والله أعلم بالصواب

Semoga bermanfaat dan barokah Aamiin...

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

chairil

Entah apakah suatu saat kelak foto itu bakal di pajang pada bungkus rokok dengan embel-embel tulisan "Rokok Membunuh Chairil" atau tidak

Monday, June 29, 2020

cibitung

PKS CIBITUNG

40 Fakta Menarik Tentang Kabupaten Bekasi

pks-cibitung.com [abe] Bekasi.Tanggal 15 Agustus 2014 yang lalu Kabupaten Bekasi mencapai usia ke-64. Di hari jadi Kab. Bekasi ini saya akan menyajikan 40 FAKTA MENARIK KABUPATEN BEKASI:

  1. Kabupaten Bekasi sebelum tahun 1950 bernama Kabupaten Jatinegara. Wilayahnya mencakup Jatinegara, Klender, Pondok Kopi dan juga Cipinang.
  2. Neneng Hasanah Yasin adalah bupati perempuan pertama dan yang termuda di Kabupaten Bekasi. Saat dilantik tanggal 14 Mei 2012, Neneng berusia 31 tahun, 8 bulan.

  3. Pada zaman kolonial Hindia-Belanda, Bekasi ditulis dengan Bacassie. Kata tersebut pernah ditemukan pada sebuah plang di Stasiun Lemah Abang, Kecamatan Cikarang Utara.

  4. Bekasi mempunyai tokoh serupa Robin Hood. Namanya Entong Tolo, seorang pencuri yang menyerahkan hasil curian ke rakyat miskin.

  5. Kawasan Industri di Kabupaten Bekasi merupakan yang terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah kurang-lebih 4.000 perusahaan dari berbagai negara.

  6. Jika dilihat dari Google Earth, Kompleks Perkantoran Kabupaten Bekasi berbentuk segilima atau pentagon. Simbol pentagon memiliki makna keseimbangan.

  7. President University di Kota Jababeka, Cikarang Utara adalah universitas swasta termahal di Indonesia. Menurut sebuah survei, biaya per semester bisa mencapai Rp25 juta.

  8. Bukti luasnya wilayah Kabupaten Bekasi dulu adalah adanya nama Jalan Bekasi Timur dan Bekasi Barat di Cipinang dan Pondok Kopi.

  9. Jika disingkat Kecamatan Tambun Selatan dan Utara membentuk sebuah akronim feminim, yaitu Tamsela dan Tamara.

  10. Bekasi mempunyai bahasa tersendiri yaitu Bahasa Bekasi yang dipengaruhi Bahasa Betawi dan Sunda.

  11. Etnis Betawi dan Sunda adalah penduduk asli di Kabupaten Bekasi.

  12. Di Gedung Juang ’45 Tambun Selatan terdapat bunker yang terhubung ke Stasiun Tambun.

  13. Menurut sejarawan dan antropolog Betawi, Ridwan Saidi, Bekasi dulu menjadi pusat Kerajaan Segara Pasir di zaman pra-sejarah.

  14. Nama Kecamatan Babelan berasal dari nama tuan tanah asal Tiongkok yang bernama Lan dan biasa dipanggil Baba Lan oleh pribumi. Baba Lan memiliki tanah yang sangat luas.

  15. Lutung Jawa (Trachypithecys Auratus Mauritus) yang merupakan satwa endemik di sepanjang pesisir Kecamatan Muara Gembong berada di ambang kepunahan. Saat ini jumlahnya kurang dari 100 ekor.

  16. Masjid al-Muhajidin di Kecamatan Cibarusah pernah menjadi tempat pelatihan Laskar Hizbullah-Salilillah pimpinan K.H. Wahid Hasyim pada tahun 1937 untuk persiapan melawan tentara Hindia-Belanda.

  17. Dalam perjalanan menuju Jakarta dari pengasingannya di Rengasdengklok. Ir. Soekarno mampir ke Cibarusah untuk memberikan wejangan dan arahan untuk para pejuang.

  18. Kampung Gabus di Desa Sriamur, Kecamatan Tambun Utara memiliki julukan sebagai Kampung Para Jawara dan terkenal seantero Jabodetabek.

  19. Pada dekade 1970-an Kali Bekasi airnya jernih sehingga dapat diminum.

  20. Bupati Bekasi dengan masa jabatan terpanjang adalah Abdul Fatah (1973-1983) dan Suko Martono (1983-1993), yaitu 10 tahun. Sedangkan Bupati Bekasi dengan masa jabatan terpendek adalah Saleh Manaf yang hanya menjabat selama 3 tahun (2003-2006).

  21. Warga Muaragembong mengaku lebih dekat pergi ke Cilincing dan Marunda, Jakarta Utara, dibanding pergi ke Cikarang. Mereka pergi ke Jakarta dengan perahu motor.

  22. Bangunan tertua di Kabupaten Bekasi adalah Saung Ranggon. Terletak di Desa Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat, dibangun pada abad ke-16 dan diketemukan kembali pascahilang pada tahun 1821.

  23. Ada tiga kecamatan di Kabupaten Bekasi yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa, yaitu Babelan, Tarumajaya dan Muara Gembong.

  24. Markas Polsek Pebayuran menggunakan bekas rumah tuan tanah yang terkenal di Pebayuran. Gedung itu dibangun pada tahun 1930.

  25. Di Babelan terdapat tempat dimana banyak ditemukan artefak dan fosil purbakala yaitu Desa Buni Bakti dan Desa Muara Bakti. Di tempat itu ada sebuah situs yang bernama Situs Buni.

  26. Belut putih adalah julukan untuk K.H. Noer Ali karena sangat sulit ditangkap kompeni. Selain itu beliau juga menyandang julukan Singa Karawang-Bekasi.

  27. Sayur Gabus Pucung merupakan kuliner khas Bekasi yang terkenal.

  28. Palestina pernah memberikan bantuan kepada korban banjir di Bekasi pada Januari 2014.

  29. Asal-usul nama Kampung Pilar di Cikarang Utara karena di zaman dulu ada tiang besar di tengah-tengah jalan provinsi.

  30. Klenteng Tek Seng Bio di Desa Karangasih adalah klenteng tertua di Kabupaten Bekasi. Didirikan sejak abad ke-18.

  31. Di Kecamatan Muara Gembong terdapat pantai tengah laut yang timbul pasca banjir Januari lalu. Pantai tersebut hanya muncul di sore sampai malam hari.

  32. Di Desa Ciledug, Kecamatan Setu ada sebuah bendungan kecil yang dibangun sejak zaman Belanda yaitu Situ Rawa Buragkeng.

  33. Taman Buaya Indonesia Indah di Kecamatan Serang Baru berisi kurang-lebih 5000 ekor buaya dari berbagai jenis.

  34. Terdapat 1.000 ekspatriat di Kabupaten Bekasi yang tersebar di Lippo Cikarang dan Jababeka.

  35. Menurut masyarakat sekitar, asal nama Kecamatan Tambelang berasal dari singkatan Tambun Belakang.

  36. Mayoritas nama desa di Kabupaten Bekasi ditulis tanpa spasi, seperti Mekarsari, Sindangjaya, Wangunharja, Samudrajaya dan lainnya.

  37. Hanya sekitar 5% masyarakat Kabupaten Bekasi hafal himne Swatantra Wibawa Mukti.

  38. Kesenian Ujungan adalah kesenian asli Bekasi. Seni tersebut menggabungkan seni bela diri, seni tari dan seni musik. Ujungan tengah bertahan diterpa arus modernisme.

  1. Dahulu Ba(e)kasi bernama Bhagasasi merupakan Bandar Kerajaan Sunda Panjajaran, selain Sunda Kalapa.
  • Di Bekasi ada satu desa yang bahasanya berbeda bukan Betawi bukan Sunda, tapi Melayu seperti Malaysa. *saya belom tau nama desa nya apa

  • *Sumber :Sejarah
    *Tags :[Bekasi, Kabupaten Bekasi]
    *Category :[Sosial&Budaya]

    bekasi

    Riwayat Bekasi Tempo Doeloe

    Reporter: Petrik Matanasi
    10 Maret 2017

    View non-AMP version at tirto.id

    Riwayat Bekasi Tempo Doeloe
    Usia Bekasi sebagai pemukiman sudah berumur ribuan tahun. Perlahan, dari kampung-kampung yang ada, Bekasi tumbuh menjadi distrik lalu kabupaten, dan belakangan ditambah kotamadya.

    tirto.id - Meski tata-kotanya tak terkendali, seperti kota yang baru mekar dan berkembang, usia Bekasi sebagai kawasan cukup tua. Daerah penyangga ibukota ini berusia ribuan tahun. Berdasarkan penemuan situs Kampung Buni zaman batu muda (neolitikum) pada 1958, diperkirakan kampung tersebut sudah ada sejak 2000 SM. Di situs itu ditemukan kerangka manusia, beliung persegi, gerabah berbentuk periuk, manik-manik, perhiasan emas, dan kendi.

    Jauh setelahnya, berdasar Prasasti Kampung Tugu, Cilincing. Bekasi rupanya terkait dengan Raja Purnawarman yang berkuasa di di Tarumanagara sekitar tahun 400an Masehi. Di situ diceritakan tentang pembuatan saluran air yang disebut Gomati di sekitar Sungai Chandrabaga. Sungai Chandrabaga diartikan sebagai Kali Bekasi oleh beberapa ahli. Di masa-masa itu, Bekasi disebut sebagai Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri, yang merupakan pusat dari kerajaan Tarumanegara selama beberapa abad.

    “Bekasi [adalah] distrik dari afdeling Meester Cornelis (Jatinegara) dari Keresidenan Batavia, yang terletak di sebelah timur Betawi. Dialiri Sungai Cileungsi dan Sungai Bekasi. Salah satu daerah yang terkenal ramai oleh pedagang dari hilir hingga ke pedalaman. Di sana juga berdiri pasar dan perkampungan Tionghoa yang terbentuk sejak 1752," demikian yang tercatat dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie (1896) terbitan Martinus Nijhoff-EJ Brill di Gravenhage. 

    Ensiklopedia itu mencatat pada 1869 terjadi pemberontakan rakyat Bekasi di Tambun. Insiden itu menewaskan Asisten Residen Meester Cornelis, CE Kuyper. Meski daerah Bekasi kecil, ia punya pengadilan negeri pada 1890. "Bekasi merupakan titik-titik penggunaan Bataviaschen Oosterfoorweg atau jalan kereta api sebelah timur Betawi yang dibuka secara resmi sebagai lalu-lintas umum sejak 1887."

    Citra Daerah Kabupaten Bekasi dalam Arsip 1900-1945 (2014) mencatat setidaknya sejak 1883, terdapat empat distrik yang dipimpin seorang demang, yakni Kebayoran (Jakarta Selatan), Meester Cornelis (Jatinegara sekarang), Cabangboengin, dan Bekasi. Distrik Cabangboengin sekarang adalah Cikarang. Nama itu berganti pada 1911. Di tahun yang sama pula istilah pemimpin distrik berubah, dari Demang menjadi Wedana.

    Orang-orang yang pernah menjadi Wedana atau Demang di Bekasi antara lain: Achmat Mantor Abdoel Rachiem (1881-1885), Mochamad Ali (1885-1894), Moedjimi (1894-1903), Achmad Solihoen (1903-1908), Raden Bachram (1908-1917), Mohamad Samik (1917-1919), Moedjitaba (1919-1924), Rade Kartasoemitra (1924-1927), Raden Achamad Djajadiningrat (1927-1931), Raden Hasan Madiadipoera (1931-1937), Raden Hardjadiparta (1937-1940). Wedana di zaman Jepang pun ada Soehardjo Soeriasapoetra.

    Berdasarkan arsip-arsip yang terkumpul dalam buku Citra Daerah Kabupaten Bekasi Dalam Arsip 1800-1900, Bekasi di akhir abad ke-19 dipenuhi tanah-tanah partikelir. Misalnya di Cikarang, Ujung Menteng, atau Tambun. Artinya ada tuan tanah dengan tanah luas di sana.

    Staatdblad van Nederlandsch-Indie 1836 nomor 19 soal Reglement Omtrent de Particuliere Landerijen, Gelegen ten Westen der Rivier Tjimanoek alias peraturan tentang tanah partikelir di sebelah barat Sungai Cimanuk, mengatur bagaimana soal sewa, jual-beli, dan pengelolaan tanah. Termasuk di Bekasi. Dalam aturan itu, tuan tanah diberi keistimewaan mengatur para tenaga kerjanya.

    Di era merajalelanya kuasa tuan tanah ini, lahir pula garong dan pencuri dadakan karena kemiskinan. Pasukan Marsose pun dikerahkan. Salah satu prajurit Marsose yang dikirim sekitar 1937 ke sekitar Bekasi adalah Gatot Subroto, yang belakangan jadi pejabat tinggi TNI dan Pahlawan Nasional.

    Gatot begitu iba pada keluarga miskin yang anak atau ayahnya harus dipenjara karena menggarong atau mencuri karena dimiskinkan para tuan tanah yang disayang priyayi lokal. “Sebagian gajinya diberikan kepada beberapa keluarga yang sangat menderita itu," tulis Moh Oemar dalam biografi Jenderal Gatot Subroto (1976).

    Setelah masuknya Jepang, afdeling atau kabupaten Meester Cornelis berubah menjadi Jatinegara Ken. Wilayah yang meliputi kecamatan atau kewedanaan kemudian memakai istilah "Gun": Cikarang Gun, Cawang-Jatinegara Gun, dan Bekasi Gun. Di bawah Bekasi Gun ada desa-desa yang disebut Son seperti Cilincing Son, Cibitung Son, dan Bekasi Son.

    Sejak awal revolusi kemerdekaaan, Bekasi sudah panas. Buku Citra Daerah Kabupaten Bekasi Dalam Arsip 1900-1945 (2014) mencatat, "ketika pesawat Dakota Sekutu Inggris melakukan pendaratan darurat akibat kerusakan mesin di Rawa Gatel, Cakung, Kewedanaan Bekasi, pada 23 November 1945, seluruh tentara Inggris yang berjumlah 26 orang ditawan di tangsi Polisi Bekasi."

    Para pejuang itu terbakar semangat revolusi hingga segala hal yang menghalangi eksistensi Republik akan mereka habisi. Tuntutan Komandan Tentara Sekutu di Jakarta, agar para tawanan itu dibebaskan, tak diindahkan. Bahkan semua disembelih dan dikubur di belakang tangsi polisi.

    Tentu saja pihak Inggris marah. Dengan kekuatan satu batalyon infanteri bersenjata lengkap dengan kawalan baterai Artileri dan puluhan panser, pada 24 November 1945 esoknya, Bekasi disatroni Tentara Sekutu. Pembakaran pemukiman penduduk sekitar Tambun, Cikarang, Lemah Abang, hingga Karawang pun terjadi.

    Nama Bekasi tercatat heroik dalam sejarah perjuangan (revolusi) Indonesia. Bahkan Bekasi dijuluki Kota Patriot. Chairil Anwar, seperti diajarkan lewat pelajaran Bahasa Indonesia, menulis salah satu puisi legendarisnya yang bernapas revolusi: Karawang-Bekasi.

    Bekasi tak kalah revolusioner dibanding Jakarta. Bekasi memang sempat menjadi pengunduran milisi pro-Republik yang terdesak dari Jakarta akibat makin kuatnya tentara Belanda di Jakarta.

    Setelahnya, Bekasi pun akhirnya menjadi daerah pendudukan Tentara Belanda juga. Sebelum pendudukan, Republik Indonesia mengangkat Bapak Rubaya Suryanaatamirharja sebagai Bupati Jatinegara. Status Bekasi adalah Kewedanaan, yang masuk dalam wilayah Batavia En Omelanden. Berdasar Staatsblad Van Nederlandsch Indie 1948 No. 178, sebagian Bekasi pernah menjadi daerah Negara Pasundan.

    Meski telah menjadi daerah pendudukan Belanda, banyak rakyat Bekasi maupun rakyat daerah pendudukan lain yang setia pada Republik. Di tahun 1950, Hatta setuju menjadi Bekasi sebagai Kabupaten. Berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 1950, Kabupaten Bekasi terdiri dari 4 kewedanaan, 13 kecamatan (termasuk Cibarusah) dan 95 desa. Hingga 1960, kantor Kabupaten Bekasi masih di Jatinegara.

    Belakangan, Bekasi pun menjadi kawasan pemukiman penting bagi perkembangan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Banyak pekerja Jakarta yang berumah di Bekasi, karena makin sempit dan mahalnya hunian di Jakarta.

    Bekasi juga berkembang menjadi kawasan industri. Kecamatan Bekasi dinaikkan statusnya menjadi kota administratif (Kotif) pada 1981. Sisanya menjadi wilayah Kabupaten Bekasi. Sejak 10 Maret 1997, status kota administratif naik lagi menjadi kotamadya.

    Baca juga artikel terkait BEKASI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
    (tirto.id - pet/msh)

    Reporter: Petrik Matanasi
    Penulis: Petrik Matanasi
    Editor: Maulida Sri Handayani

    Usia Bekasi sebagai kota memang muda, masih berumur 20 tahun

    Infografik Instagram
    © 2020 tirto.id - All Rights Reserved.

    bekasi

    Catatan Kecil Ega

    Menemukan Jejak-jejak Sejarah Bekasi yang Terbengkalai

    Bekasi, kota penyangga ibukota yang mungkin tak banyak orang yang tahu. Bahkan tak sedikit orang rantau ketika pulang ke kampung halamannya pasti tetap saja menyebut kota ini sebagai Jakarta. Padahal jelas-jelas, Bekasi dan Jakarta itu berbeda. Bekasi secara administratif sudah masuk wilayah propinsi Jawa Barat meski tak sedikit kegiatan di wilayah tersebut yang turut menyokong kegiatan yang ada di Ibukota Indonesia itu. Kota ini berada dalam lingkungan megapolitan Jabodetabek dan menjadi kota besar keempat di Indonesia. Saat ini Bekasi berkembang menjadi kawasan sentra industri dan kawasan tempat tinggal kaum urban. Selain itu, ternyata Bekasi juga banyak menyimpan misteri sejarah yang bahkan beberapa di antaranya masih menjadi penelitian bagi beberapa antropolog dan ahli sejarah. Kali ini saya ingin mengulas hal-hal yang saya ketahui tentang Bekasi.

     

    1. Kerajaan Tarumanegara dan Peninggalannya

    Konon, Bekasi merupakan salah satu wilayah kekuasaan dari kerajaan Hindu beraliran Wisnu yang pernah berkuasa sekitar abad ke-4 s/d 7M di nusantara. Hal ini dibuktikan dari adanya peninggalan Prasasti Tugu. Prasasti tersebut ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.

    Saat ini prasasti itu disimpan di Museum Sejarah Jakarta, isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22 di masa pemerintahannya.Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau. Sungai Gomati dan Candrabaga yang digali pada sekitar tahun 417 M itu sekarang adalah Kali Bekasi. Panjang penggalian saat itu diketahui sekitar 6112 tombak panjangnya (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

     

    2. Situs Buni dan Kerajaan Segara Pasir

    Menurut pendapat ahli antropologi dan sejarawan Betawi, Ridwan Saidi, Tarumanegara bukanlah kerajaan pertama yang ada di Bekasi, jauh sebelum itu ada Kerajaan Segara Pasir. Hal ini dibuktikan oleh adanya Situs Buni yang terdapat di sekitar wilayah kecamatan Babelan. Menurut Ridwan, sebelum Masehi, di tatar Pasundan ada 46 kerajaan kuno. Salah satunya adalah Segara Pasir itu yang mendirikan pusat pemerintahannya di daerah pesisir pantai utara Bekasi. Kebudayaan Kerajaan Segara Pasir juga dipengaruhi oleh Egypt Kuno (Mesir). Hal tersebut bisa dilihat dari manik-manik yang banyak ditemukan di sekitar Situs Buni.

    Data-data yang dikumpulkan menyatakan bahwa situs Buni adalah kompleks pemakaman resi. Maka tidak mengherankan, jika sampai saat ini warga masih mudah menemukan sejumlah benda-benda purbakala, seperti manik-manik, mata tombak, perhiasan, dan tulang belulang. Bahkan, pada tahun 1950-1980-an, Situs Buni menjadi “surga” bagi para pemburu harta karun.

     

    3. Nyai Rohmah, Si Perempuan Bekasi

    Siti Rohmah dinikahi KH Noer Alie (ulama besar Bekasi yang belakangan didaulat sebagai pahlawan nasional oleh Presiden SBY) pada April 1940. Nyai Rohmah merupakan anak dari guru KH Noer Alie, Guru Mughni. Saat itu, Nyai Rohmah merupakan orang di belakang Singa Bekasi sekaligus pendukung perjuangannya. Mirip dengan Kartini, Nyai Rohmah pun berjuang lewat pendidikan.

     

    MELATI DI TAPAL BATAS

     

    Engkau gadis muda jelita bagai sekuntum melati

    Engkau sumbangkan jiwa raga di tapal batas Bekasi

    Engkau dinamakan srikandi, pendekar putri sejati

    Engkau turut jejak pemuda, turut mengawal negara

    Oh pendekar putri nan cantik, dengarlah panggilan ibu

    Sawah ladang rindu menanti akan sumbangan baktimu

    Duhai putri muda remaja, suntingan kampung halaman

    Kembali ke pangkuan bunda, berbakti kita di ladang

     

    Ismail Marzuki (1947)

    (Konon lagu ini dibuat karena terinspirasi oleh Nyi Rohmah)

    4. Enam Monumen Bekasi

    Pertama monumen tonggak berdirinya Bekasi terletak di Jalan.Veteran, depan Kompleks Kodim 0507. Berbentuk tugu segi lima dengan tinggi 5,8 meter, berdiri di tengah lapangan yang dikelilingi pagar lima persegi setinggi 1 meter. Dominasi angka lima melambangkan sebagai lima dasar Negara, yaitu Pancasila. Di tempat ini pernah terjadi sebuah peristiwa penting, yakni digelarnya rapat akbar yang diikuti oleh sekitar 40.000 warga Bekasi pada tanggal 17 Januari 1950. Rapat akbar tersebut dipimpin langsung oleh KH. Noer Ali, yang menyatakan bahwa rakyat Bekasi setia kepada Pemerintahan Republik Indonesia dan keinginan untuk memisahkan diri dari Karisidenan Jatinegara, mandiri menjadi Kabupaten Bekasi. Kondisi monumen tersebut cukup terawat, hanya saja tidak ada petunjuk apapun di lokasi yang mengisahkan tentang sejarah tugu perjuangan tersebut.

    Kedua, monumen yang terletak di Jalan Agus Salim, posisinya tepat di tengah jalan pertigaan. Daerah tersebut dikenal sebagai kampung tugu. Bentuknya segi empat setinggi 210 cm. Puncaknya atau yang biasa disebut sebagai kepala tugu setinggi 75 cm. Di puncak tugu tersebut, dilengkapi dengan pecahan peluru, mortir, granat tangan, sepucuk pistol genggam milik pejuang, tepat di tengah ada sebuah botol tanpa tutup, konon didalamnya berisi gulungan kertas yang bertulis nama-nama pejuang. Dasar tugu berbentuk segi tiga dan di kelilingi rantai. Tugu ini dibangun pada 13 Desember 1949 untuk memperingati pembumihangusan Bekasi pada 13 Desember 1949 atau yang dikenal sebagai peristiwa “Bekasi Lautan Api”. Menurut Budayawan Unisma Bekasi, Abdul Khoir, tugu ini dibangun atas prakarsa seorang tokoh pejuang Bekasi, Moh. Husain Kamalay. “Di dalam botol ada gulungan kertas yang berisi nama-nama pejuang yang membangun tugu tersebut,” terang Khoir.

    Ketiga, di bumi perkemahan Bekasi yang berada di kompleks GOR Bekasi, Jalan. A.Yani juga terdapat Tugu Perjuangan Rakyat Bekasi. Masyarakat Bekasi lebih mengenalnya sebagai tugu pramuka. Wajar, sebab tidak ada penanda apapun semisal plang atau papan yang mengisahkan tentang monumen yang dibangun pada masa pemerintahan Bupati Abdul Fatah tahun 1978. Monumen ini dibangun di atas kolam air berbentuk segi lima, di bagian depan ada lima buah setinggi 17 meter yang melambangkan Pancasila dan hari kemerdekaan. Dibelakangnya terdapat relief yang mengambarkan perjuangan rakyat Bekasi dalam empat periode. Sayangnya kondisinya pun memprihatinkan, kumuh dan tekesan tidak terawat. Jika malam hari kerap dijadikan tempat mesra bagi muda-mudi, sebab suasananya yang remang-remang.

    Keempat, ada monumen di Makam Pahlawan Bulak Kapal yang luasnya 8.350 meter persegi, dibangun pada tahun 1966. Tidak ada data yang pasti tentang siapa saja yang dikuburkan di makam pahlawan ini.

    Kelima, di Kabupaten Bekasi terdapat juga monumen Bambu Runcing. Terletak di pertigaan jalan Warung Bongkok, Desa Suka Danau, Kecamatan Cibitung. Berbentuk bambu runcing dibangun pertama kali pada tahun 1962 oleh prakarsa Leguin Veteran RI mengunakan bambu yang diisi dengan kayu. Tugu ini direnovasi mengunakan besi rel kereta api pada 10 Agustus 1970 dan diresmikan bertepatan dengan hari kemerdekaan RI, 17 Agustus 1970. Di tempat ini pernah terjadi pertempuran hebat yang menewaskan banyak pejuang. Ada juga gedung tinggi Tambun yang teletak di Jalan Diponegoro, Kabupaten Bekasi.

    Keenam, Monumen Kali Bekasi yang terletak di samping jembatan Kali Bekasi Jalan Djuanda, dekat Stasiun Bekasi. Di tempat ini pernah terjadi pembantaian 90 tentara Jepang oleh Pejuang Bekasi pada tanggal 18 Agustus 1945. Atau terkenal dengan “Tragedi Kali Bekasi”, Hal ini membuat Soekarno mengunjungi Bekasi untuk menenangkan rakyat supaya tidak meluas menjadi kerusuhan rasial. Di tempat ini, kerap dikunjungi orang-orang Jepang untuk melakukan acara tabur bunga. Sampai saat ini belum ada penjelasan resmi dari Pemkot Bekasi terkait dengan makna filosofi dari bangunan tersebut. Dahulu Kali Bekasi juga merupakan tempat pemenggalan para penjajah Belanda oleh rakyat Bekasi yang akhirnya sempat mengubah air di kali ini berubah warnanya menjadi merah pekat.

     

    5. Gedung Juang 45

    Gedung yang ada di bilangan Tambun ini, tepatnya di jalan Sultan Hasanudin, dekat Pasar Tambun dan Stasiun kereta api Tambun. Gedung ini sekarang keadaannya sudah sangat memprihatinkan. Pemkab Bekasi pun terlihat tidak memberikan perhatian terhadap gedung merupakan bagian dari sejarah keberadaan kota Bekasi ini.

    Bangunan berarsitektur neoklasik ini dibangun oleh tuan tanah Kow Tjing Kie pada tahun 1910. Pada masa perang kemerdekaan, gedung tinggi ini menjadi markas pasukan Republik dan menjadi target serangan pesawat tempur Belanda. Anehnya, peluru meriam yang dijatuhkan tidak meledak dan hanya menimbulkan kerusakan kecill.

    KARAWANG-BEKASI

     

    Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi

    tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

    Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

    terbayang kami maju dan mendegap hati ?

     

    Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

    Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

    Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.

    Kenang, kenanglah kami.

     

    Kami sudah coba apa yang kami bisa

    Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

     

    Kami cuma tulang-tulang berserakan

    Tapi adalah kepunyaanmu

    Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

     

    Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan

    atau tidak untuk apa-apa,

    Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

    Kaulah sekarang yang berkata

     

    Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

    Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

     

    Kenang, kenanglah kami

    Teruskan, teruskan jiwa kami

    Menjaga Bung Karno

    menjaga Bung Hatta

    menjaga Bung Sjahrir

     

    Kami sekarang mayat

    Berikan kami arti

    Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

     

    Kenang, kenanglah kami

    yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

    Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

     

    Chairil Anwar (1948)

     

    Saat ini saya kembali berkontemplasi akan banyaknya peninggalan sejarah Bekasi yang tak terurus bahkan hampir terlupakan. Seakan merasa terpanggil bahwa saya harus turut ambil bagian untuk mengumpulkan kembali semua hal yang terserak hingga menyatu dan tersusun dalam keadaan yang seharusnya. Bekasi kota kenangan, di sanalah segala rasa itu singgah.

    Ditulis dari berbagai sumber

    camat

    Camat Nata, Jawara Pejuang dari Cibitung

    Membaca profil Nata bin Sedan, di berbagai referensi maupun cerita yang berserak. Kesimpulannya adalah dia merupakan pejuang yg anti perundingan. Lawan Belanda ya cuma satu, perang. Dia memang buta huruf, tapi kharismanya membuat dia menjadi salah satu tokoh Bekasi yang paling banyak anak buahnya. Kawan maupun lawan segan terhadapnya.

    Tokoh jawara asal Cibitung ini lebih dikenal dengan nama Camat Nata. Dia merupakan diantara orang Bekasi yang dalam data intelijen Belanda sebagai orang yang sangat berbahaya bagi mereka. Sehingga harus dicari, hidup atau mati.  


    Cara dan pemikiran perjuangan dia, lebih cocok dengan Laskar Rakyat Jakarta Raya (LRJR) pimpinan Sutan Akbar. Laskar garis keras yang menuntut merdeka 100%. Laskar ini memang terkenal akan keberaniannya dalam melawan Belanda. Ruang geraknya hingga mencapai Purwakarta. 

    Namun karena terdapat perbedaan strategi perang, LRJR pun sering bentrok dengan Tentara Republik Indonesia (TRI). Hal ini dikarenakan TRI terpaksa mengikuti keputusan pemerintah untuk mematuhi perjanjian, yaitu mundur, sedangkan LRJR tidak mengakui dan menolak hasil-hasil perundingan yang merugikan pihak republik.

    Puncaknya ketika Presiden Sukarno mengeluarkan perintah pada 18 Maret 1947. Perintah tersebut menyatakan bahwa semua satuan bersenjata diwajibakan untuk bergabung dengan TRI di bawah pimpinan Jenderal Sudirman. Karena tidak ingin bergabung, LRJR pun dipaksa dibubarkan. 

    Kemudian saat pasukan Siliwangi hijrah dari Bekasi dan sekitarnya pada Februari 1948, dia dan anak buahnya bergabung di Divisi Bambu Runcing yang dipimpin oleh Sutan Akbar. Divisi yg dibentuk secara rahasia oleh Jenderal Sudirman dan Tan Malaka. 

    Tugas utama divisi ini adalah tetap melakukan perlawanan terhadap belanda namun pemerintah tidak mengakui keberadaan mereka. Sehingga kalau terjadi apa-apa, pemerintah tidak bertanggung jawab. Seperti agen IMF di film Mission Impossible. Area tempur Camat Nata di Bekasi dan sekitarnya.

    Saat pasukan Siliwangi kembali ke daerahnya masing-masing, pasukan Camat Nata dan pasukan TNI pimpinan Sambas Atmadinata sempat berkolaborasi melawan Belanda di Bekasi. Akan tetapi, kerja sama tersebut akhirnya bubar setelah perjanjian Roem-Royen yang ditandatangani 7 Mei 1949 di Jakarta. Hal ini karena TNI kambali terpaksa patuh terhadap isi perjanjian, yang kembali merugikan republik. Sedangkan Camat Nata dan pasukannya mengabaikan isi perjanjian.

    Dan sejak itulah Pasukan Siliwangi dengan Bambu Runcing kembali saling baku-tembak. Bahkan kedua kelompok bersenjata itu juga menggelar razia di wilayah kekuasaan masing-masing. Dan pertempuran segi tiga pun terjadi, TNI – Bambu Runcing – Belanda. Akibatnya, rakyat menjadi serba salah, ketakutan, dan terteror. Hanya saja, saat berhadapan dengan Belanda, TNI dan Bambu Runcing terpaksa bekerja sama.

    Bahkan, meskipun Belanda sudah angkat kaki dari bumi pertiwi, pertikaian antara TNI dengan Bambu Runcing masih terjadi. TNI pun menjadikan Bambu Runcing sebagai salah satu kelompok pemberontak. AE Kawilarang dari TNI pun ditugaskan untuk menumpasnya. Pertikaian saudara itu pun selesai setelah Camat Nata berhasil ditangkap.

    Meskipun pernah dicap sebagai pemberontak, namun atas jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara, Presiden Sukarno pun pada Maret 1954 mengeluarkan amnesti terhadapnya. Sebab pemerintah tahu, bahwa pemberontakannya itu karena Camat Nata cinta tanah air dan benci terhadap penjajahan.

    Tetapi banyak orang Bekasi yang tidak tahu siapa dia. Bintang jasa, gelar pahlawan pun tidak melekat padanya. Padahal dia merupakan tokoh penting perlawanan rakyat Bekasi-Purwakarta terhadap Belanda. Tokoh yang anti perundingan, cuma satu kata terhadap belanda baginya, PERANG.

    Tokoh perlawanan ini meninggal pada 12 Mei 1990. Sebagai tokoh perjuangan, pemerintah meletakkan bendera Merah Putih di makamnya. Terletak di daerah Cibitung, terhimpit diantara rumah-rumah warga dan kawasan industri, membuat banyak warga sekitar yang tidak tahu ada makam pahlawan di daerahnya.
     










    Endra Kusnawan


    Endra Kusnawan
    Endra KusnawanOrang yang senang belajar sesuatu hal yang baru. Saat ini bekerja di sebuah perusahaan kelapa sawit bagian ngurusin CSR. Waktu luangnya digunakan untuk berbagi pengetahuan seputar sejarah, pelatihan dan motivasi. Dalam konteks sejarah, merupakan pendiri Grup diskusi di Facebook, Wisata Sejarah Bekasi, sejak 26 Januari 2013. Juga merupakan pendiri sekaligus Ketua Komunitas Historia Bekasi sejak Agustus 2016. Bisa dihubungi 0818.0826.1352

    11 komentar untuk "Camat Nata, Jawara Pejuang dari Cibitung"

    1. inspiratif banget nih bang Endra #salam silaturahim..

      BalasHapus
    2. Subhanallah, nama beliau sangat di kenal di daerah cibitung (lampu merah)

      BalasHapus
    3. Subhanallah, nama beliau sangat di kenal di daerah cibitung (lampu merah)

      BalasHapus
    4. Subhanallah, nama beliau sangat di kenal di daerah cibitung (lampu merah)

      BalasHapus
    5. baru aja saya melihatnya. Sayangnya ada mushola disampingnya. Sementara ada larangan makam dijadikan ibadah dalam Islam

      BalasHapus
    6. Engkong saya itu,,bangga jg nama beliau diangkat ke media sosial oleh bg.Endra Kusnawan

      BalasHapus
      Balasan
      1. Klo boleh tau makamnya dicibitung daerah mana nya gan

        Hapus
    7. Artikelnya mantap bang.salam dari cibuntu bojong

      BalasHapus
    8. Minta infonya dong alamat makam beliau , cibitung. dimana nya ya?

      BalasHapus
    9. Camat nata Sempet nikah sama orang kampung gawir rempag desa cibatu kec.cikarang selatan

      BalasHapus

    kiasan

    sangat cantik dan sempurna. Wajahnya bak rembulan, badannya seperti gitar Spanyol dan betisnya bak padi bunting  Bagai air di daun keladi  D...