Saturday, February 20, 2021

barisan jenggot

Barisan Jenggot Berbahaya

Mereka rata-rata sudah jenggotan, namun tetap berjuang dengan tekad merdeka atau syahid.

Oleh: Hendri F. Isnaeni | 20 Jan 2017
Barisan Jenggot Berbahaya
Laskar Kalimantan dalam parade laskar-laskar perjuangan menyambut pelantikan Dewan Kelaskaran Pusat dan Seberang di Yogyakarta pada 12 November 1946. Foto: IPPHOS.

Laskar atau barisan perjuangan memainkan peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Mereka dibentuk di berbagai daerah di seluruh Indonesia dengan nama-nama yang menarik. Seperti Barisan Jenggot di Kalimantan. Dari namanya, badan perjuangan ini terdiri dari para ulama dan pengikutnya.

Barisan Jenggot (Barisan Ulama), menurut Sulaiman Al-Kumayi dalam Islam Bubuhan Kumai, bermarkas di Masjid Besar al-Baidha, Kumai, selama perjuangan mengusir penjajah Belanda.

Pada 14 Januari 1946, tentara Belanda (NICA atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) masuk Kalimantan. Mereka berjumlah kurang lebih 250 orang dengan senjata lengkap menumpang lima kapal. Mereka menyerang daerah Kota Waringin.

Advertising
Advertising

Baca juga: Kala Ulama Perempuan Melawan

“Seluruh kekuatan yang ada bangkit membalas dan menyerang tentara NICA. TKR (Tentara Keamanan Rakyat), Angkatan Muda, Barisan Jenggot dan seluruh rakyat Kumai dan Pangkalan Bun bangkit melawan, melibatkan diri dalam kancah pertempuran yang sengit,” tulis JU Lontaan dalam Menjelajah Kalimantan. Pertempuran mengakibatkan 21 pejuang gugur dan 50 tentara Belanda yang tewas diangkut ke kapal.

Dalam Kronik Revolusi Indonesia karya Pramoedya Ananta Toer, dkk., disebutkan bahwa pada 21 Februari 1946 enam anggota Barisan Jenggot dari Kalimantan yang dikepalai oleh Haji Abdul Kadir tiba di Yogyakarta.

“Mereka berumur antara 50-60 tahun dan pernah bertempur melawan NICA yang mendarat dengan lima buah kapal di Kalimantan. Dalam pertempuran itu musuh mengalami kekalahan besar,” tulis Pram. “Mereka datang ke Jawa untuk mempelajari siasat pertempuran dan kemudian akan kembali lagi ke Kalimantan untuk berjuang dengan tekad merdeka atau syahid.”

Kemungkinan juga mereka ikut parade laskar dari Kalimantan dalam pembentukan Dewan Kelaskaran Pusat dan Seberang di Yogyakarta pada 12 November 1946.

Baca juga: 

Langkah Gila Belanda di Yogyakarta
Pembunuhan Keji Panglima Keraton Yogyakarta
Perlawanan Laskar Islam

Tidak hanya di Kalimantan, Barisan Jenggot juga didirikan di Semarang, Sumatera Barat, dan Aceh. Di Solo, Laskar Jenggot dan laskar-laskar perjuangan lainnya disatukan dalam Brigade XXIV di bawah Letkol Iskandar.

Sedangkan di Malang, Barisan Jenggot adalah sebutan untuk Batalion E Tentara Nasional Indonesia. “Karena anggota-anggotanya sudah berjenggot dan berusia rata-rata setengah abad. Mereka bermarkas di Sumberpucung, Malang,” demikian tertulis dalam Kisah-kisah Kepahlawanan Perang Kemerdekaan 1945-1949 dan Perang Merebut Kembali Irian Barat I.

Delapan orang anggota Barisan Jenggot gugur dalam pertempuran melawan Belanda. Di Taman Makam Pahlawan Malang terdapat empat makan nisan bernomor 408, 410, 412, dan 414. Setiap nisan dikubur dua jenazah, salah satunya Kasan Moestiar. Pada setiap nisan tertulis “TNI Barisan Jenggot”.

TAG

ARTIKEL TERKAIT

Copyright © 2021 Historia.id
PT. Media Digital Historia. All rights reserved.

samurai hitam

Yasuke Si Samurai Hitam

Seorang budak asal Afrika menjadi tangan kanan Oda Nobunaga. Dia menjalani hidup layaknya samurai.

Oleh: Rahadian Rundjan | 27 Feb 2015
Yasuke Si Samurai Hitam
Sampul buku Kuro-suke yang terinspirasi dari kisah Yasuke. (iiclo.or.jp).

Pada 1581, massa di Kyoto melabrak rumah misionaris Jesuit, Alessandro Valignano, karena ingin melihat budak yang dibawanya dari Mozambik, Afrika Selatan. Beberapa orang terluka, bahkan ada yang tewas, saking antusias melihat budak itu.

Kejadian itu sampai ke telinga Oda Nobunaga (1534-1582), seorang daimyo (tuan tanah-pendekar) Provinsi Owari sekitar Nagoya, yang tengah berdiam di Kyoto. Dia dan pengikutnya menaklukkan sepertiga wilayah Jepang dari kekuasaan para tuan tanah feodal untuk mempersatukan Jepang di bawah panji satu pemerintahan.

“Karena merasa dipermalukan oleh insiden tersebut, Oda Nobunaga sendiri yang memanggil si budak Afrika, memeriksanya dengan saksama untuk memastikan bahwa warna kulitnya asli, menghadiahkannya uang, dan menjadikannya pelayan,” tulis Gary P. Leupp dalam Interracial Intimacy in Japan: Western Men and Japanese Women, 1543-1900.

Advertising
Advertising

Nobunaga menyematkan nama “Yasuke”, yang artinya kurang lebih “orang berkulit hitam.”

Keberadaan Yasuke tercatat dalam beberapa catatan sezaman. Kronik tentang Nobunaga, Shinchokoki, mendeskripsikan pertemuan pertama Yasuke dengan Nobunaga. Saat itu Yasuke berusia 26 atau 27 tahun, tubuhnya hitam legam, kuat, dan bisa sedikit berbahasa Jepang. Tingginya sekitar 188 cm, sangat mencolok bagi ukuran orang Jepang kala itu.

Baca juga: Samurai dalam Pembantaian Banda

Yasuke diizinkan mengenakan baju samurai dan membawa senjata perang Nobunaga dalam beberapa pertempuran. Meski menjalani hidup layaknya samurai, Yasuke tidak memiliki tanah. Dia seorang samurai hanya sebatas nama.

Penghambaan Yasuke berakhir ketika Akechi Mitsuhide, panglima Nobunaga, berkhianat dan memaksa Nobunaga melakukan seppuku, ritual bunuh diri, pada Juni 1582. Yasuke akhirnya dilepaskan karena Mitsuhide menganggapnya orang asing yang tak tahu apa-apa.

Beberapa kronik menyebutkan dia kemudian diserahkan kembali kepada para misionaris Jesuit. Setelah itu, nama Yasuke menghilang dari sejarah.

Karena pengkhianatannya, Mitsuhide tewas sebelas hari kemudian oleh panglima Nobunaga yang lain, Toyotomi Hideyoshi. Baru pada masa kepemimpinan sekutu Nobunaga lainnya, Tokugawa Ieyasu, Jepang dipersatukan di bawah panji Dinasti Tokugawa yang berlangsung selama 250 tahun –dikenal dengan nama Zaman Edo (1603-1867).

Pada masa ini, orang-orang kulit hitam kembali berdatangan. Sebagian besar diperdagangkan sebagai budak oleh orang-orang Belanda melalui jaringan dagang VOC. Selama Zaman Edo, sebagian kecil dari mereka bahkan menetap di pos dagang Belanda di Pulau Deshima.

Baca juga: Jepang dari Isolasi hingga Industri

“Seperti Yasuke, beberapa orang Afrika ditempatkan oleh para tuan tanah dalam beragam kapasitas, sebagai prajurit, penembak, pemusik, dan penghibur,” tulis John G. Russell, “The Other Other: The Black Presence in the Japanese Experience”, termuat dalam Japan’s Minorities: The Illusion of Homogeneity suntingan Michael Weiner.

Kisah hidup Yasuke menginspirasi lahirnya buku cerita anak-anak tentang seorang samurai berkulit hitam yang mengabdi pada Nobunaga. Judulnya Kuro-suke, yang ditulis Kurusu Yoshio pada 1960-an. Kuro-suke kemudian memicu terbitnya buku-buku bacaan historis untuk anak-anak serupa di Jepang.

Kisah Yasuke akan diangkat ke layar lebar yang akan diperankan oleh Chadwick Boseman, Sang Raja Wakanda dalam film Black Panther. Film ini akan digarap oleh Eric Feig's Picturestart, De Luca Productions, Solipsist Films, dan X●ception Content. Dalam data filmografi di imdb.com disebut Yasuke menjadi film terakhir Chadwick Boseman dalam status pre-production. Selain akan memerankan Yasuke, Chadwick Boseman juga menjadi produser. Sayangnya, Chadwick Boseman meninggal pada 29 Agustus 2020 di usia 43 tahun karena kanker.

Tulisan ini diperbarui pada 29 Agustus 2020.

TAG

ARTIKEL TERKAIT

Copyright © 2021 Historia.id
PT. Media Digital Historia. All rights reserved.
logo

kiasan

sangat cantik dan sempurna. Wajahnya bak rembulan, badannya seperti gitar Spanyol dan betisnya bak padi bunting  Bagai air di daun keladi  D...