Tuesday, July 28, 2020

kpj

Kelompok Penyanyi Jalanan

Awal Mula menjadi KPJ

Jakarta 1970-1982. Kala itu lokasi ngamen di Jakarta cuma ada dua, yakni di Pasar Kaget (dulu terletak di sebelah Taman Martha Tiahahu) dan di Pecenongan.

Tempat ngamen yang cuma dua lokasi itu pun, dikuasai oleh para preman yang memalak (memeras) tiap pengamen Rp4.000 per hari. Menurut Anto, angka Rp4.000 bukanlah bilangan kecil untuk kelas pengamen saat itu.

Oleh karena itu, didorong oleh keinginan terbebas dari pemerasan para preman, para pengamen bersatu membentuk organisasi bernama KPJ. Merasa sudah bersatu, akhirnya anggota KPJ pun melawan dan menolak untuk memberi upeti kepada para preman. Puncaknya, terjadilah perang masal antara anggota KPJ melawan preman yang dimenangi oleh anak-anak KPJ.

"Peperangan" itu sendiri, masih menurut Anto, bukanlah tujuan utama pembentukan KPJ. "Perang", bagi anak-anak KPJ hanyalah sebuah bentuk perlawanan terhadap penindasan.

Tujuan pokoknya adalah, menyatukan visi dan mengadakan pembinaan kreativitas para anggotanya. Atau dalam bahasa Yoyik Lembayung, penyair dan pemusik yang pernah menjadi Ketua KPJ periode 1982-1983, spirit dibentuknya KPJ adalah agar para penyanyi jalanan itu tak hanyut dalam rutinitas. Malam ngamen, siang tidur. "Kita ingin teman-teman punya waktu untuk kumpul, berdiskusi, membuat lagu bersama. Kira-kira, kita ingin punya iklim workshop. Dari sana kemudian muncul berbagai gagasan. Bikin Pentas Musik Kaki Lima, Aksi Ngamen, dan seterusnya," ujar Yoyik.

Munculnya KPJ Jakarta, imbuh Yoyik, akhirnya menjadi inspirasi terbentuknya KPJ di daerah. Satu demi satu KPJ di daerah muncul. Mulai dari Bogor, Yogyakarta, Surabaya, Bandung, dan meluas ke luar Jawa. Kini, jumlah anggota KPJ mulai dari Aceh hingga Palu mendekati angka 100.000 orang. Jumlah massa yang besar inilah yang suka bikin ngiler para politikus, terutama saat musim kampanye seperti Pemilu Wakil Rakyat maupun Pemilu presiden tahun lalu. Untungnya, kata Anto, anak-anak KPJ sudah memiliki kesadaran bahwa mereka tak mau dijadikan alat. Jadi, jika pemilu kemarin ada politikus yang memberikan bantuan alat sound-system, tak berarti anak-anak KPJ akan memilihnya.

* * *
Ngamen, mbarang, adalah sebuah terminologi yang menunjuk pada sebuah profesi yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mendapatkan imbalan dengan menyanyi, baca puisi, main musik, menari, dan seterusnya. Mereka bergerak bisa dari rumah ke rumah, warung ke warung, di dalam bus, dan sebagainya.

Ada empat motivasi mengapa seseorang ngamen, ucap Anto Baret. Yang pertama adalah untuk karier, kemudian untuk batu loncatan, iseng, dan profesi.

Mereka yang ngamen untuk karier, lanjut Anto, adalah pengamen yang datang dari daerah dengan membawa serta karya-karya sendiri. Malam ngamen, siangnya menawarkan karya-karyanya ke produser. Untuk jenis yang ini, beberapa nama telah muncul. Sebutlah, Kuntet Mangkulangit, Younky RM, John Dayat, dan lain-lain.

Adapun ngamen sebagai batu loncatan menurut Anto, adalah mereka yang datang dari daerah ke Jakarta untuk mencari kerja. Sebelum mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan, untuk mengisi perut mereka mengamen. Malam ngamen, siangnya memasukkan lamaran ke perusahaan.

Sedangkan mereka yang ngamen karena iseng biasanya anak-anak sekolah atau mahasiswa untuk mengisi waktu luang atau sekedar mencari "uang rokok".

Jenis keempat, adalah mereka yang menggantungkan hidup sepenuhnya dari ngamen. Misalnya, bapak-bapak yang ngamen dengan sitar, dan seterusnya.

Nah, empat jenis pengamen itulah yang dari dulu hingga kini berkumpul di KPJ yang bermarkas di Bulungan, tepatnya di area Gelanggang Remaja Jakarta Selatan.

Pembinaan, itulah substansi didirikannya KPJ. Maklumlah, di dalamnya berkumpul orang-orang yang biasa bergerak di jalanan yang identik dengan hidup bebas dan keras.

Itulah soal, Anto Baret tak setuju kalau yang dibina cuma yang identitasnya jelas saja (anak-anak sekolah, mahasiswa, misalnya). "Justru yang gak jelas itulah yang sangat perlu dibina. Logikanya, anak yang hidup bersama orang tuanya saja bisa nakal, apalagi mereka yang jauh dari pengawasan orang tua. Kalau gak dibina bisa liar," papar Anto.

Maka, KPJ pun kemudian membuat tatanan pembinaan budi pekerti dan sopan santun. Hasilnya, jika Anda datang ke Bulungan, maka tradisi bersalaman jika berjumpa dan berpisah dengan seorang kawan adalah hal yang lumrah terjadi.

Kata Anto, hidup di jalanan yang keras itu harus rukun, karena mereka adalah senasib. Adapun bersalaman, adalah upaya untuk selalu menyambung tali silaturahmi dan perwujudan rasa syukur. "Syukur kita diberi kesehatan, syukur masih bisa bertemu," terang Anto.

Di samping itu, bersalaman juga dipercaya oleh orang-orang KPJ bisa menimbulkan kedekatan psikologis antar anggota KPJ. Tentu, di luar bersalaman, ada juga etik lain yang dibangun. Misalnya, mereka yang lebih tua harus siap menjadi kakak bagi yang lebih muda. Mereka yang skill musiknya bagus, mesti mau mengajari kepada mereka yang masih belajar. Kemudian, untuk menambah wawasan, KPJ juga mewajibkan anggota-anggotanya untuk membaca koran. "Kalau ada yang nggak ngerti dengan isi berita, kita bicarakan.

* * *
Tahun 1987, terbetiklah ide untuk menjadikan jalanan bukan hanya sebagai media ekspresi, tetapi juga media bisnis. Mulailah mereka mendirikan agen minuman ringan, agen es balok, buka warung ayam bakar Gantari. "Yang penting tidak merugikan orang lain," tegas Anto tentang media bisnis yang dikelola KPJ.

Sedangkan untuk media ekspresi, KPJ membuat agenda acara berupa pertemuan seminggu sekali untuk berdiskusi, menggelar panggung terbuka tiap ultah KPJ dan peringatan 17 Agustus. Media ekspresi yang paling belakangan, adalah pendirian warung apresiasi atau biasa disebut Wapress sekitar tiga tahun lalu. Di Wapress inilah, tiap malam warga KPJ maupun seniman dari luar komunitas KPJ berekspresi dalam bidang kesenian. Mulai seni musik, tari, teater, sastra, wayang, gambus.

Soal Wapress ini Anto Baret berkomentar, "Wapress bukanlah warung untuk mencari untung. Tujuan utamanya adalah sebagai media ekspresi siapa saja yang mampir di warung ini. Anda gak bakal diusir meski dari buka (jam 18.00 WIB) sampai tutup (00.00 WIB) cuma memesan satu gelas kopi."

Hari berganti bulan dan tahun, dua media itu ternyata berkembang pesat. Agar roda organisasi dapat berjalan lancar dan seminimal mungkin menghadapi persoalan, maka dibuatlah beberapa peraturan yang oleh Anto Baret disebut sebagai Tiga Larangan.

Larangan pertama, tidak boleh melakukan tindak kriminal. Kedua, tidak boleh ribut sesama teman. Ketiga, tidak boleh nyuntik (narkoba).
Sebagai organisasi yang mengayomi "anak-anak jalanan", tentu saja KPJ juga memperhatikan mereka yang tidak berminat di bidang musik. Nah, mereka yang tertarik di bidang olah raga pun diperhatikan oleh KPJ. Maka berdirilah Bulungan Boxing Camp, sebuah sasana tinju yang sudah mengantarkan Untung Ortega sebagai juara PABA di tahun 2004. Di samping itu, ada juga kelompok petarung jalanan yang beberapa waktu lalu disertakan dalam arena pertarungan bebas di sebuah televisi swasta.

KPJ, memang cuma organisasi "anak-anak jalanan" yang rancangan program kerjanya secara administratif amat jauh dari organisasi-organisasi dengan nama-nama mentereng. Tapi siapa sangka, dengan kepolosan dan ketulusan para anggotanya, organisasi dengan anggota puluhan ribu orang itu bisa berjalan hingga 23 tahun.

Barangkali, lantaran mereka tak disibukkan oleh cita-cita yang muluk-muluk. Cukup dengan empat motto, "Pikirkan, rasakan, ucapkan, kerjakan", roda organisasi mereka menggelinding. Hingga kini.

laksa

Ternyata bahasa Indonesia untuk sepuluh ribu adalah satu laksa. Kosa kata ini saya sadari ketika saya melihat acara di salah satu setasiun TV yang menceritakan tentang seJARAH. Dalam cerita itu ada raja yang membawa pasukan berjumlah 2 laksa. Kemudian saya cari makna kata laksa, ternyata arti laksa adalah sepuluh ribu.

yankee

YANKEE 
Yankee memiliki beberapa arti yang saling berkaitan, terutama digunakan untuk orang dari Amerika Serikat. Di luar Amerika Serikat, istilah ini secara umum dipakai untuk menyebut orang dari Amerika Serikat. 
Di dalam negeri Amerika Serikat, istilah Yankee dipakai untuk penduduk dari bagian timur laut Amerika Serikat, atau secara spesifik dipakai untuk orang dari New England yang menunjuk kepada keturunan-keturunan pendatang dari Inggris.

Dalam bahasa Indonesia, dikenal istilah jengki yang berasal dari kata yankee. 
Istilah jengki berasal dari sebutan untuk tentara Amerika Serikat yang mendukung pemerintah Vietnam Selatan pada tahun 1960-an. 
Mereka membawa serta budaya serta penampilan baru. 
Pada masa itu, produk model baru disebut dengan embel-embel jengki, misalnya celana jengki (celana jins), sepeda jengki, dan arsitektur jengki.
Pada tahun 1960-an, banyak rumah-rumah penduduk dibangun dengan gaya jengki, gaya populer yang memiliki keserupaan dengan gaya streamlining.

Arti kata Yankee berbeda-beda menurut zamannya. Pada abad ke-18, istilah ini dipakai untuk penduduk New England keturunan pendatang asli dari Inggris yang bermukim di wilayah itu. 
Pada abad berikutnya, Mark Twain menggunakan istilah ini dalam novelnya A Connecticut Yankee in King Arthur's Court yang diterbitkan tahun 1889. Setidaknya pada tahun 1770-an, istilah Yankee sudah digunakan untuk menyebut orang dari negara yang kemudian disebut Amerika Serikat. 
Pada akhir abad ke-19, orang Amerika penduduk Selatan Amerika Serikat menyebut orang Amerika di Utara Amerika Serikat sebagai Yankee. 
Namun istilah ini tidak digunakan untuk imigran pendatang baru dari Eropa. 
Oleh karena itu seorang wisatawan yang mengunjungi Richmond, Virginia pada tahun 1818 berkomentar, "Orang-orang yang mau berusaha [di sana] sebagian besar orang asing; orang Skotlandia, orang Irlandia, dan terutama orang-orang New England, atau Yankee, sebagaimana mereka biasanya disebut"

Di luar Amerika Serikat, Yankee adalah bahasa slang untuk siapa saja yang berasal dari Amerika Serikat. Yankee kadang-kadang disingkat sebagai Yank, terutama oleh orang Britania Raya, meskipun kadang-kadang pemakaian istilah ini dianggap ofensif.

Pada akhir abad ke-19, orang Jepang dijuluki "Yankee dari Timur" sebagai pujian untuk kesukaan mereka terhadap pekerjaan dan semangat untuk modernisasi.
Sejak akhir 1970-an di Jepang, istilah yankee (ヤンキー yankī) dipakai untuk menyebut remaja putra/putri berandal.

Monday, July 27, 2020

centini

Serat Centhini disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga/Jayengsari, dan seorang putri bernama Ken Rancangkapti.

Jayengresmi, dengan diikuti oleh dua santri bernama Gathak dan Gathuk, melakukan "perjalanan spiritual" ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojonegoro, hutan Bagor, Gambirlaya, Gunung Padham, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang.

Gunung Salak, dilihat dari Bogor.
Dalam perjalanan ini, Jayengresmi mengalami "pendewasaan spiritual", karena bertemu dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuno, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawa. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, makna suara burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu berhubungan seksual, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syekh Siti Jenar. Pengalaman dan peningkatan kebijaksanaannya ini membuatnya kemudian dikenal dengan sebutan Seh (Syekh) Amongraga. Dalam perjalanan tersebut, Syekh Amongraga berjumpa dengan Ni Ken Tambangraras yang menjadi istrinya, serta pembantunya Ni Centhini, yang juga turut serta mendengarkan wejangan-wejangannya.

Jayengsari dan Rancangkapti diiringi santri bernama Buras, berkelana ke Sidacerma, Pasuruan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singhasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Bromo, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argopuro, Gunung Raung, Banyuwangi, Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma Banyumas.

Dalam perjalanan itu mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawa, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan wudhu, salat, pengetahuan dzat Allah, sifat dan asma-Nya (sifat dua puluh), Hadist Markum, perhitungan slametan orang meninggal, serta perwatakan Pandawa dan Kurawa.

Setelah melalui perkelanaan yang memakan waktu bertahun-tahun, akhirnya ketiga keturunan Sunan Giri tersebut dapat bertemu kembali dan berkumpul bersama para keluarga dan kawulanya, meskipun hal itu tidak berlangsung terlalu lama karena Syekh Amongraga (Jayengresmi) kemudian melanjutkan perjalanan spiritualnya menuju tingkat yang lebih tinggi lagi, yaitu berpulang dari muka bumi.

patiwangi

"PATIWANGI" adalah Pemurnian Wangsa

Tradisi Bali yang Adiluhung, menjadi modal dasar perkembangan kehidupan umat di Bali sehingga mendapat perhatian kita semua termasuk dari lembaga seperti PHDI. Tradisi Bali ini tertuang dalam bentuk karya seni (tari, ukir, pahat), sastra (rontal), juga dalam bentuk langsung berujud etika yang diajarkan oleh orang tua kepada anaknya. Tradisi ini berkembang mengikuti jaman mulai dari jaman bali kuno, jaman Wangsa Warmadewa seperti Udayana menguasai Bali (sekitar tahun 1.000), jaman Majapahit menguasai Bali dengan menempatkan Dalem sebagai Adipati sekitar tahun 1350, kemandirian Bali sekitar tahun 1.500 karena Majapahit beralih kepercayaan rajanya ke Islam sehingga Bali terbentuk kerajaan kecil di Sembilan tempat (8 kabupaten plus Mengwi), masuknya penjajah abad XVI dengan Kastanya, dan jaman kemerdekaan 1945 dimana Bali dengan Desa Pakramannya mempertahankan tradisi leluhur, namun pengaruh penjajahan terakhir dengan Kastanya tetap terbawa. Untuk hal itu Lembaga umat yang disebut PHDI mengeluarkan Bhisama dengan melarang untuk dilaksanakan tradisi yang tidak sejalan dengan ajaran Hindu Tat Twam Asi, seperti tradisi kesekepang, juga dalam perkawinan seperti : Anglangkahi karang hulu, asu pundung, dan patiwangi, namun entah karena sosialisasi PHDI yang belum baik atau karena  masyarakat yang masih ingin menjalankannya, kasus Patiwangi ini masih terjadi di tahun 2014 ini.

Seorang teman bertanya pada penulis terkait anak lelakinya yang mengawini anak perempuan yang disebut ber-Kasta, walaupun kasta ini salah kaprah yang perlu diluruskan. Menurut teman ini ada dua upacara yang dilakukan di keluarga perempuan yaitu : “Mepamit dan yang kedua istilah teman itu turun Kasta (cq. Patiwangi)”, apakah ini sesuai dengan ajaran Hindu, demikian pertanyaan teman itu. Saya menjawab : Acara mepamit sesuai ajaran Hindu karena dalam ajaran Weda ada disebut ketika seorang anak perempuan menikah, maka orang tua si lelaki akan menjadi orang tua si perempuan, maka di Bali diterjemahkan dengan Mepamit, kemudian upacara Patiwangi (turun kasta) itu tidak ada dasar tattwanya, malah kalau Hyang Widhi bisa kita dengar mungkin Beliau akan berkata “Hanya AKU yang berhak menilai seseorang itu derajatnya tinggi atau rendah”. Disamping itu orang tua seharusnya mendoakan anak perempuannya yang akan menikah bukan malah menurunkan derajatnya (turun kasta). Karena penasaran dan juga dilandasi pemikiran positif, bahwa warisan budaya leluhur tentu niatnya untuk kebaikan, mungkin kita yang mencemari dengan faham feodal (Kasta) atau kita salah menerapkannya, untuk itu penulis mencari info keteman yang sekali lagi disebut ber-kasta, dan jawaban teman ini sangat benar dan masuk akal. Kata beliau, ini bukan upacara turun kasta, namun “Upacara beralih Wangsa” tidak ubahnya seperti berganti baju. Jawaban teman ini kemudian membuka wawasan lebih luas bahwa “Pemurnian Wangsa” sangat menjadi konsen dari Umat Hindu di Bali.

Selain membahas Pemurnian Wangsa, maka perlu disampaikan bahwa ada 3 hal yang dicampur-adukkan di Bali, yaitu : WARNA, WANGSA, KASTA. “Warna” adalah ajaran Weda yang berkenaan dengan profesi seseorang berdasarkan Guna (bakat) dan Karma (perbuatannya/karmanya), bisa menjadi Brahmana, Ksatrya, Wesya, Sudra, “bukan karena keturunan”. Kemudian   “Wangsa” adalah ikatan Pasemetonan/persaudaraan dalam satu trah/clan/wit, yang tujuannya mengikat tali persaudaraan sepurusa/garis lelaki. “Kasta” adalah produk penjajah abad XVI yang menjungkir balikkan Warna dan Wangsa menyimpang dari makna sesungguhnya karena dibentuk atas-bawah, tinggi-rendah. Yang masih menjadi problem di Bali adalah system Kasta ini yang justru masih ada di masyarakat walau sudah menurun dengan drastis tetapi masih ada, seperti upacara Patiwangi itu, dll.  Terkait dengan Wangsa, menurut penelitiaan Prof Pitana ada lebih dari 21 organisasi Soroh/Clan/Wangsa yang sudah terbentuk sejak tahun 1960 dan itu akan berkembang terus. Dengan demikian saat ini Wangsa menjadi hal penting bagi masyarakat Hindu di Bali yang tujuan utamanya untuk meningkatkan bhakti kehadapan Bhatara Kawitan yang

selanjutnya ingin “memurnikan” wangsa tersebut lewat acara Patiwangi. Jika Patiwangi adalah turun kasta, maka itu adalah kesalahan dan jangan diteruskan, namun jika Patiwangi adalah Pemurnian Wangsa, maka Wangsa lainnya seperti Pasek, Pande, dan lainnya yang karena kesalahan-fahaman Kasta disebut Sudra dapat juga melakukan acara Patiwangi bukankah sama situasinya, atau jika kita tidak memerlukan acara itu maka tidak perlu dilakukan apalagi acara itu bukan dasarnya Weda namun hanya dresta terkait Wangsa, agar kita kembali kepada Yadnya yang benar yaitu Panca Yadnya dimana perkawinan adalah bagian dari Manusa Yadnya. Ikatan Wangsa dewasa ini dicurigai sebagai bentuk peng-kotak kotakan masyarakat bali sehingga menjadi tidak bersatu, apalagi ditambah mindset yang keliru bahwa yang satu lebih tinggi dari yang lain itu harus dirubah mulai sekarang agar generasi penerus mewarisi sesuatu yang baik. Leluhur sudah mengajarkan kekuatan Wangsa ini di Bali seperti di Pura besakaih yang dilambangkan sebagai Padma Asta Dala (teratai berdaun delapan), kelopak kelopak teratai sebenarnya mencerminkan Wangsa di Bali sehingga pertama yang kita jumpai kalau kita ke Pura Besakih adalah banyaknya Kahyangan pemujaan kawitan (Atma pratista), ini berarti leluhur sudah menyadari bahwa Wangsa ini merupakan asset yang perlu dipertahankan dan diwariskan secara turun temurun, untuk itu dasar kebenaran sebagai intisari Wangsa harus dikembalikan kepada aslinya yaitu bhakti, karena bhakti pada Leluhur adalah paramo dharmah (dharma yang utama). Jangan ikatan Wangsa menjadikan kita terkotak, meninggi dari yang lain, apalagi ada kecendrungan dimanfaatkan untuk kepentingan politik, maka sinyalemen bahwa Wangsa hanya akan memecah orang Bali bisa menjadi kenyataan.

Akhir kata  apapun itu maka “Pemurnian Wangsa” ini seperti mengembalikan kejaman leluhur kita dulu, semoga ini semakin meningkatkan Bhakti pada Bhatara Kawitan masing masing yang dapat memberi kebahagiaan kepada Prati sentana dan pada akhirnya ,memberi kebahagiaan pada masyarakat, karena kebahagiaan pada masyarakat dimulai dari kebahagiaan pada keluarga. Rahajeng

Penulis,

JMk Nyoman Sukadana
Gn.Rinjani-Paket Agung-Singaraja

nakamura

Kojiro Nakamura (中 村 廣 治郎Nakamura Kōjirō ) adalah seorang sarjana Islam Jepang. Dia adalah profesor emeritus studi Islam di Universitas Tokyo dan Universitas Oberlin . Jurusan Studi Islam Universitas Tokyo adalah departemen pertama di Jepang yang didirikan pada tahun 1982 dengan Nakamura ditunjuk sebagai profesor pertamanya.

Dia menerjemahkan dan mengomentari bagian dari Kebangkitan Ilmu Agama Al-Ghazali , karyanya yang paling penting, untuk Masyarakat Teks Islam pada tahun 1992. Sebagian besar upaya Nakamura telah dihabiskan untuk analisis karya al-Ghazali , sejumlah yang Nakamura telah terjemahkan ke bahasa Jepang . Islam dan Modernitas Nakamura juga berfokus pada apa yang dia pegang adalah empat aliran utama pemikiran Islam modern untuk membingkai studi Islam dalam bidang studi agama yang lebih luas. Ia juga melayani sebagai ketua konferensi pada konferensi al-Manar pertama yang diselenggarakan oleh Routledge .

Ia menerima gelar PhD dari Harvard University pada tahun 1970.

hamka

Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, pemilik nama pena Hamka (lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia melewatkan waktunya sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Ia terjun dalam politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam Muhammadiyah sampai akhir hayatnya. Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo, Jakarta mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Namanya disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.
Dibayangi nama besar ayahnya Abdul Karim Amrullah, Hamka sering melakukan perjalanan jauh sendirian. Ia meninggalkan pendidikannya di Thawalib, menempuh perjalanan ke Jawa dalam usia 16 tahun. Setelah setahun melewatkan perantauannya, Hamka kembali ke Padang Panjang membesarkan Muhammadiyah. Pengalamannya ditolak sebagai guru di sekolah milik Muhammadiyah karena tak memiliki diploma dan kritik atas kemampuannya berbahasa Arab melecut keinginan Hamka pergi ke Mekkah. Dengan bahasa Arab yang dipelajarinya, Hamka mendalami sejarah Islam dan sastra secara otodidak. Kembali ke Tanah Air, Hamka merintis karier sebagai wartawan sambil bekerja sebagai guru agama paruh waktu di Medan. Dalam pertemuan memenuhi kerinduan ayahnya, Hamka mengukuhkan tekadnya untuk meneruskan cita-cita ayahnya dan dirinya sebagai ulama dan sastrawan. Kembali ke Medan pada 1936 setelah pernikahannya, ia menerbitkan majalah Pedoman Masyarakat. Lewat karyanya Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, nama Hamka melambung sebagai sastrawan.

Selama revolusi fisik, Hamka bergerilya bersama Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) menyusuri hutan pengunungan di Sumatera Barat untuk menggalang persatuan menentang kembalinya Belanda. Pada 1950, Hamka membawa keluarga kecilnya ke Jakarta. Meski mendapat pekerjaan di Departemen Agama, Hamka mengundurkan diri karena terjun di jalur politik. Dalam pemilihan umum 1955, Hamka dicalonkan Masyumi sebagai wakil Muhammadiyah dan terpilih duduk di Konstituante. Ia terlibat dalam perumusan kembali dasar negara. Sikap politik Masyumi menentang komunisme dan gagasan Demokrasi Terpimpin memengaruhi hubungannya dengan Sukarno. Usai Masyumi dibubarkan sesuai Dekret Presiden 5 Juli 1959, Hamka menerbitkan majalah Panji Masyarakat yang berumur pendek, dibredel oleh Sukarno setelah menurunkan tulisan Hatta—yang telah mengundurkan diri sebagai wakil presiden—berjudul "Demokrasi Kita". Seiring meluasnya pengaruh komunis, Hamka dan karya-karyanya diserang oleh organisasi kebudayaan Lekra. Tuduhan melakukan gerakan subversif membuat Hamka diciduk dari rumahnya ke tahanan Sukabumi pada 1964. Ia merampungkan Tafsir Al-Azhar dalam keadaan sakit sebagai tahanan.

Seiring peralihan kekuasaan ke Soeharto, Hamka dibebaskan pada Januari 1966. Ia mendapat ruang pemerintah, mengisi jadwal tetap ceramah di RRI dan TVRI. Ia mencurahkan waktunya membangun kegiatan dakwah di Masjid Al-Azhar. Ketika pemerintah menjajaki pembentukan MUI pada 1975, peserta musyawarah memilih dirinya secara aklamasi sebagai ketua. Namun, Hamka memilih meletakkan jabatannya pada 19 Mei 1981, menanggapi tekanan Menteri Agama untuk menarik fatwa haram MUI atas perayaan Natal bersama bagi umat Muslim. Ia meninggal pada 24 Juli 1981 dan jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.

Sunday, July 26, 2020

pitung

Waktu dikubur pulisi pade iringin..
Jago nama Pitung kuburannya digadangin..
Yang gadangin kuburannya Pitung dari sore ampe pagi..
Kalo belon aplusan kaga ada nyang boleh pegi..
Sebab yang gadangin waktu itu sampe pagi,
Kabarnya jago Pitung dalam kuburan idup lagi..

hasta

Masih Ingatkah dengan 'Jengkal, Hasta, Depa'?
Ada peribahasa lama yang berbunyi ‘Diberi sejengkal, hendak sehasta. Diberi sehasta, hendak sedepa’ yang menggambarkan perilaku yang serakah dan tak pernah puas. Saya tertarik dengan istilah-istilah usang ‘jengkal, hasta, depa’ yang dahulu kala menjadi alat ukur panjang di tanah melayu. Saya yakin, sebagian besar dari kita sudah tak ingat lagi bagaimana cara mengukur dengan jengkal, hasta atau depa. Pun dahulu ada ukuran ‘dim’ dan ‘elo’ yang sekarang hampir-hampir tak pernah dipakai orang lagi.
Istilah ‘jengkal, hasta, depa’ adalah cara mengukur panjang dengan menggunakan lengan kita yang dalam bahasa Inggris disebut dengan ‘Malay cubitcubit = lengan). Satu jengkal adalah ukuran panjang rentangan dari ujung jempol dan ujung kelingking. Satu hasta adalah ukuran panjang dari siku sampai ke ujung jari tengah (kisaran 45-56 sentimeter), sedangkan satu depa adalah panjang yang diukur dari ujung jari ke ujung jari lain dari kedua lengan yang direntangkan (didepang). Dalam bahasa Inggris satu depa disebut dengan ‘one fathom’. Karena ukuran lengan dan jari setiap orang berbeda, maka tidak ada padanan yang eksak dengan sistem metrik dan hanya bersifat kira-kira saja. Dalam literatur Melayu kuno, pengarangnya selalu menggunakan istilah-istilah ini untuk melukiskan panjang sesuatu benda, misalnya pada kalimat ‘dalamnya sungai itu kira-kira tiga depa’.
Saya teringat moto Jenderal Soedirman yang terkenal yaitu ‘Sejengkal tanahpun tidak akan kita serahkan kepada lawan, tetapi akan kita pertahankan habis-habisan’. Dalam bahasa Jawa ‘sejengkal’ disebut dengan ‘sekilan’ dan nampaknya masih banyak dipakai dalam wacana masyarakat yang berbahasa Jawa. Disamping istilah-istilah panjang di atas, ada pula ukuran panjang ‘dim’. Kata ‘dim’ ini diserap dari bahasa Belanda ‘duim’ yang makna harfiahnya adalah ‘jempol’. Jadi ukuran ‘dim’ ini kurang lebih sepanjang ibu jari kita dan dalam bahasa Inggris dinamakan dengan ‘inch’ (inci). Ada pepatah dalam bahasa Belanda yang kira-kira sama dengan ucapan Jenderal Soedirman yaitu ‘geen duim gronds wijken’ (tak seinci pun menyerahkan tanah kita).
Dalam buku bacaan lama, saya masih teringat sering menjumpai kata ‘elo’. Istilah ukuran panjang ‘elo’ ini juga mengadopsi dari kata Belanda ‘el’ yang dalam bahasa Inggris disebut dengan ‘yard’. Satu elo (satu yard) kira-kira sepanjang 91 sentimeter. Namun standar ukuran ‘elo’ (di KBBI disebut dengan ‘ela’) bisa bervariasi tergantung dari negara yang menggunakannya. Satu ela bisa juga disetarakan dengan panjang 0,688 meter.
Di samping ukuran panjang usang, kita dulu juga mengenal ukuran volume usang. Tercatat ada istilah ‘gantang’ seperti pada peribahasa ‘bagai menggantang asap’. Satu gantang setara dengan satu galon British (dinamakan juga ‘imperial gallon’) yaitu kurang lebih 4,55 liter. Satu gantang dapat dibagi menjadi empat ‘cupak’ dan satu cupak dapat dibagi lagi menjadi empat ‘centong’. Saya jadi teringat kebiasaan kita mengatakan ‘air mineral’ dengan ‘air galon’. Mungkinkah istilah ini kita tukar saja dengan ‘air gantang’, hitung-hitung untuk memperkaya khazanah bahasa kita

guru

PENTINGNYA MENJAGA ADAB KEPADA GURU

عقوق الوالدين تمحوه التوبة وعقوق الاستاذين لا يمحوه شيء البتة 

Durhaka kepada orangtua dosanya bisa dihapus oleh taubat, tetapi durhaka kepada syaikh/guru-mu, tidak ada satupun yang dapat menghapusnya.

Imam Haddad RA berkata : 
Paling bahayanya seorang murid adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh Wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah Ridho kembali.
(Adaab Suluk Al Murid : 54)

Wallohu A'lam.

Saturday, July 25, 2020

chairil


Senin, 02 April 2012

Chairil Anwar: DERU CAMPUR DEBU


Data buku kumpulan puisi

Judul : Deru Campur Debu
Penulis : Chairil Anwar
Cetakan : III, 1993
Penerbit : PT. Dian Rakyat, Jakarta
Tebal : 47 halaman (28 puisi)
ISBN : 979-523-042-5
Ilustrasi isi : Oesman Effendi

Beberapa pilihan puisi Chairil Anwar dalam Deru Campur Debu

Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan akan akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi



Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.


Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya

Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.


Kawanku dan Aku

Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan

Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat

Siapa berkata-kata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga

Dia bertanya jam berapa?

Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti


Kepada Kawan

Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,
mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,

belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah berkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!

Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi
mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!


Doa
kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling


Kepada Peminta-minta

Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku

Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga

Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah

Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku

Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku


Cerita Buat Dien Tamaela

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu

Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut

Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan

Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau...

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu


Sebuah Kamar

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
“Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”

Ibuku tertidur dalam tersedu,
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!

Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
d luar hitungan: Kamar begini
3 x 4, terlalu sempit buat meniup nyawa!


Hampa
Kepada Sri

Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai di puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencengkung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.


Tentang Chairil Anwar
Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Berpendidikan MULO (tidak tamat). Pernah menjadi redaktur “Gelanggang” (ruang kebudayaan Siasat, 1948-1949) dan redaktur Gema Suasana (1949). Kumpulan sajaknya, Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani, 1950). Chairil Anwar dianggap pelopor angkatan 45. Ia meninggal di Jakarta, 28 April 1949. Hari kematiannya diperingati sebagai Hari Sastra di Indonesia.


Catatan Lain
Buku ini koleksi perpustarda Prov. Kalsel. Pinjam 2 April 2012 dan mesti dibalikin 18 April 2012. 

Sketsa / lukisan Chairil Anwar


12 komentar:

  1. woiii,.. kok sama kayak blog gue??
    buka http//sastraindonesiaoke.blogspot.com

    Balas
    Balasan
    1. Iya, kebetulan yang mengejutkan. Tapi begitulah risiko jika menggunakan template standar bawaan blogger. :) Salam puisi.

    2. Bg. Puisi ibu dalam karya Chairil Anwar ada gak buku abg?

  2. http//:sastraindonesiaoke.blogspot.com

    Balas
    Balasan
    1. Yang terpenting tidak sajak yg anda punya bang sabar saja yaa ,, terus berkarya

    2. Yang terpenting tidak sajak yg anda punya bang sabar saja yaa ,, terus berkarya

  3. mantap... puisinya bagus bagus,, semangat terus bikin puisi
    cara memperbesar penis dengan mudah

    Balas
  4. Request punya "Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus" juga dong. BTW thanks :)

    Balas
  5. Yg tau buku Chairil Anwar yg di dalam nya ada puisi ibu karya Chairil Anwar.
    Info nya dong

    Balas
    Balasan
    1. sependek ingatan saya, Chairil Anwar, ga pernah bikin puisi berjudul Ibu.

  6. Boleh minta soft filenya ngga?

    Balas
  7. Menurut saya ini buku yang bagus untuk dibaca dan dapat menjadi referensi bacaan bagi pelajar maupun mahasiswa

    Balas

Friday, July 24, 2020

blusukan

AYO BACA SEJARAH LAGI

Blusukan Dalam Sejarah : Dari Sambernyawa sampai Jokowi


Istilah Blusukan adalah istilah yang dikenal dalam bahasa Jawa dialek Solo, kadang-kadang banyak orang tidak membedakan antara kata Blusukan dengan Keblasuk, Blusukan adalah ‘Perjalanan ke tempat-tempat jauh’ sementara Blasuk dalam bahasa Jawa dialek Solo artinya ‘Kesasar’. Budaya Blusukan bagi Raja-Raja Jawa memang dikenal dan ini sama terkenalnya dengan budaya laku pepe bagi rakyat Jawa, bila ‘Laku Pepe’ adalah ‘minta perhatiannya rakyat’ pada pemimpinnya dengan duduk di bawah pohon beringin yang biasa di alun-alun, maka ‘Blusukan’ adalah gaya pemimpin Jawa dalam melihat kondisi rakyatnya.

Dalam konsep kepemimpinan Jawa penyatuan antara roh kepemimpinan dengan keinginan rakyat itu mengalir dalam satu irama kerja seorang Raja, tapi tidak semuanya Raja bisa mengangkat irama itu, ada Raja yang gagal mengangkat irama satunya rakyat dengan kepemimpinan seperti hal-nya Amangkurat (1646-1677) yang selama kepemimpinannya meneror rakyat dan terjadi ‘pagebluk’ tapi ada juga dalam sejarah Jawa, kepemimpinan Raja bersatu dengan air. Hal ini yang bisa dijadikan contoh adalah Pangeran Sambernyowo atau Adipati Mangkunegoro I, penguasa Kadipaten Mangkunegaran dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Pangeran Sambernyowo, yang kelak bernama Mangkunegoro I adalah Adipati kharismatis yang kekuasaannya mirip raja di tanah Voorstenlanden (tanah merdeka milik penerus Mataram setelah era Giyanti 1755). Sambernyowo memiliki satu prinsip : “Rakyat adalah air, kita hidup di dalam airnya rakyat, bila pemimpin bersih air juga jernih’. Ia juga adalah Adipati Jawa pertama yang menerapkan konsep egaliterian dalam hidup kerakyatan dengan adagiumnya :

: “hanebu sauyun, kalamun ta keleban banyu tan ana kang pinilih”. Seperti serumpun batang-batang tebu, jikalau terendam air tak  ada yang bisa dipilih, yang tinggi, yang pendek, yang besar dan yang kecil semuanya akan turut terendam. Ungkapan Mangkunagoro ini berarti adanya semangat kesetaraan, kebersamaan dan senasib sepenanggungan.



Setelah peperangan gerilya selesai dan Belanda menyerahkan wilayah-wilayah Perdikan yang berada di sebelah tenggara dari kota Solo sampai Wonogiri. Saat keadaan mapan, Mangkunagoro I menerapkan agenda blusukan setiap saat yang dikontrol adalah sumber-sumber air untuk persawahan, selama pemerintahan Mangkunagoro I surplus beras terjadi di wilayahnya, Wonogiri menjadi daerah paling makmur. Inilah kenapa kelak Wilayah Kadipaten Mangkunegaran merupakan wilayah paling kaya raya dibanding kerajaan-kerajaan Voorstenlanden yang lain, bahkan setelah era tanam paksa, wilayah Mangkunegaran banyak didirikan pabrik-pabrik gula yang hasilnya banyak diekspor ke Eropa.

Sambernyowo menurut buku “Babad Mangkunegaran” yang merupakan diary atau catatan harian Mangkunagoro I , menceritakan bahwa setiap Rabu Legi minggu pertama, dan Kamis Pahing minggu ketiga Mangkunagoro melakukan blusukan, ia melihat situasi rakyat keseharian. Mangkunagoro membangun pos-pos laporan hasil padi disetiap kawedanan yang ditunjuknya. Mulai dari Ulu-ulu (pengatur air) sampai Mantri Pasar harus menyiapkan laporan, laporan ini kemudian dibandingkan dengan apa yang dilihat oleh Mangkunagoro I.

Selain Mangkunagoro, Raja Jawa yang paling terkenal suka blusukan adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Raja Yogyakarta terbesar ini berkuasa cukup lama dari tahun 1940 sampai tahun 1988. Salah satu yang membuat dia populer adalah semangat kerakyatannya.

Ia menyatukan kepemimpinannya dengan ‘rasa penderitaan rakyat’, ia terus memantau apa mau-nya rakyat, apa keinginan rakyatnya dan yang terpenting kemampuannya membaca jaman. Di tahun 1942 ketika Jepang masuk, ada agenda Jepang bahwa rakyat Yogyakarta harus ikut agenda Romusha untuk memperluas lapangan terbang Maguwo dan sebagian akan dibawa ke Burma. Namun Sri Sultan menolak halus pada Jepang dengan mengatakan rakyatnya diperlukan untuk membangun irigasi yang kelak disebutnya sebagai ‘Selokan Mataram’. Irigasi ini melibatkan tenaga-tenaga muda yang kemudian terhindar dari kewajiban ‘budak perang’ Jepang itu.  Sri Sultan juga kerap melakukan blusukan, ia mengunjungi pos-pos rakyat, mengunjungi warung-warung rakyat, ia berada di tengah persawahan Yogya, mendengar apa yang diinginkan rakyat Yogya.


Pendamping blusukan Sri Sultan Hamengkubuwono IX adalah Selo Soemardjan, salah seorang ahli Sosiologi paling terkenal, konsep kepemimpinan Sri Sultan ini kemudian disusun oleh Selo Soemardjan sebagai dasar-dasar kepemimpinan yang merakyat. Dari gaya kepemimpinan Sultan HB IX inilah kemudian lahir adagium yang terkenal “Tahta Untuk Rakyat”.

Konsep Tahta Untuk Rakyat dihasilkan dari tukar pikiran antara Sri Sultan dengan Selo Soemardjan, Frans Seda dan beberapa penasehat Raja di Kepatihan, kalimat itu menurut Selo Soemardjan lahir pada tahun 1952. Hal ini menjadi aturan dalam cara menjalani kepemimpinan di masa Sri Sultan HB IX. Sri Sultan memerintahkan Kepatihan terus memperhatikan kehidupan rakyat, mulai dari keamanannya sampai tingkat produksi masyarakat seperti Pabrik Perak di Kotagede, Usaha Transportasi di Pasar Gede, Usaha-Usaha Pegadaian sampai pada Paguyuban-Paguyuban Tani. Sultan sendiri sering langsung inspeksi ke Pasar dan melihat bagaimana harga-harga berkembang, bahkan ada kejadian lucu dimana Sultan sendirian menginspeksi dikira Sultan sebagai sopir truk dan disuruh angkut beras oleh salah satu pedagang pasar. Kejadian ini merupakan cerita rakyat terkenal di Yogya.

Lain Sri Sultan, Lain Bung Karno. Presiden Pertama Republik ini juga suka blusukan, di masa muda ia sering bersepeda jauh kesana kemari, ia sangat kuat sekali bersepeda. Sukarno bisa bersepeda ratusan kilometer, ia pernah bersepeda dari Bandung sampai Tasikmalaya, atau ke pinggiran kota Bandung. Dalam blusukan Sukarno sering bertanya pada penduduk desa, ngobrol, mencatat dan merasakan bagaimana kehidupan rakyat, kegemaran blusukan ini berlanjut sampai Sukarno menjadi Presiden. Saat Istana Presiden di Yogyakarta, salah satu kegemaran Sukarno adalah berjalan-jalan di persawahan Yogyakarta, yang dulu mengawal saat Sukarno blusukan adalah Latief Hendraningrat, Kanapi, Mangil dan Dokter Suharto. Sukarno kadang berlama-lama di rumah rakyat untuk mengetahui kehidupan mereka.


Setelah tahun 1950, Bung Karno senang blusukan ke berbagai daerah, tapi yang kerap ia lakukan adalah incognito. Pernah suatu saat Sukarno blusukan ke Pasar Senen, lalu Bung Karno duduk di depan tukang sate ayam. Saat rakyat mendengar suara Sukarno bicara pada tukang sate ayam, beberapa orang di Pasar mengenalinya dan berteriak “eh, itu kan bapak…itu kan bapak…” lalu beberapa orang mengerumuni dan pasar tiba-tiba menjadi gaduh.

Bung Karno amat menyukai kebersihan kota dan senang mengontrol monumen-monumennya. Ia amat mencintai Jakarta, salah satu obsesinya adalah Jakarta menjadi kota yang berbudaya. Bung Karno sering naik Jeep Hardtop dan keliling Jakarta ditemani beberapa orang mengontrol kota Jakarta, penentuan Jalan Sudirman sebagai central bisnis sebenarnya ditetapkan saat Bung Karno duduk di tepi jalan dekat kampung Senayan, saat blusukan Sukarno terbayang gambar daun semanggi di pikirannya, lalu ia teringat jembatan besar di Amerika Serikat, dari sinilah Sukarno kemudian terinspirasi membangun Jembatan Semanggi, yang sampai saat ini masih jadi Jembatan Jalan Raya terindah di Indonesia. Sukarno juga merencanakan Boulevard Sudirman sebagai pusat bisnis sampai Jalan Thamrin dan kemudian di seputaran Monas adalah gedung-gedung milik negara.

Yang ditanyakan Sukarno saat blusukan biasanya soal-soal kehidupan sehari-hari, ada satu cerita dimana Bung Karno menyelidiki sendiri penyebab langka-nya beras di Jakarta, ia langsung blusukan mengontrol gudang beras bersama Gubernur Jakarta saat itu, Henk Ngantung. Saat itu Bung Karno memperkirakan langkanya beras karena permainan politik karena disaat itu Bung Karno sedang ramai di demo mahasiswa dan ada isu akan ada ’sanering’ alias potong nilai uang.



Pak Harto juga suka blusukan, terutama sekali di awal-awal kekuasaannya. Ia berkeliling di Jawa, kadang-kadang Suharto naik kuda besar Australia keliling sebuah desa. Di Kemusuk, kampung halaman Suharto sering melihat Pak Harto kalau pulang kampung dia berjalan-jalan dengan naik kuda besar. Di dalam salah satu biografi soal Pak Harto diceritakan Pak Harto blusukan ditemani Try Sutrisno. Yang terpenting dalam blusukan model Suharto ditemukan cara berkomunikasi dengan rakyat desa, bagi Suharto berkomunikasi dengan rakyat desa lewat Kelompencapir atau Paguyuban-Paguyuban Tani adalah cara lain dalam menandingi model komunikasi Sukarno yang amat jago berpidato di podium. Biasanya setelah bicara Suharto langsung melakukan blusukan, bagi pengeritik Suharto, kerap mengatai desa yang dimasuki Suharto adalah desa Potempkin, desa Potempkin adalah suatu istilah dari Rusia, bahwa desa itu diatur seperti memiliki kehidupan yang baik tapi sebenarnya dibaliknya tidak seperti itu. Namun apapun kritikan terhadap Suharto, faktanya memang Suharto suka blusukan.



Kini blusukan melekat pada diri Jokowi,  banyak yang merasa iri dengan popularitas Jokowi ketika Blusukan, karena tokoh lain tidak mendapatkan sambutan rakyat banyak dalam blusukan. Kenapa Jokowi mendapatkan sambutan yang luar biasa dalam blusukan, karena Jokowi melakukan dengan rasa tulus, Jokowi mempunyai kesenangan bertemu dengan orang, ia genuine dalam segala tindakannya dalam blusukan. Dan ini yang tidak dipunyai hampir semua tokoh saat ini dalam seni blusukan, Jokowi melakukannya dengan otentik, dia menemui rakyat sebagai ‘pribadinya sendiri’ yang lahir dari kegelisahan rakyat. Itu yang membedakan…….

-Anton DH Nugrahanto-.
http://politik.kompasiana.com/2013/07/24/blusukan-dalam-sejarah-dari-sambernyawa-sampai-jokowi-579495.html

jangan lupa like KBGD Store : https://www.facebook.com/kbgdstore

ada jam2 baru

kretek

Rokok Kretek Sebagai Propaganda Politik anti jepang. 
Persis satu tahun sesudah bala tentara Jepang dibawah pimpinan Mayor Jenderal Hitoshi Imamura mendarat di Eretan Wetan (Teluk Banten) dan menumbangkan kekuasaan kolonial Belanda di nusantara, pemerintah fasis Jepang mengeluarkan berbagai peraturan untuk melanggengkan kekuasaannya. Beberapa di antara peraturan itu adalah mengganti bahasa percakapan dan tulis di Indonesia dari bahasa Belanda atau Inggris menjadi bahasa Jepang atau Melayu. Sebagai turunan dari kebijakan penggusuran bahasa kolonialis lama itu, penguasa Jepang juga memutuskan mengganti semua nama yang berbau Belanda atau Eropa dengan nama Jepang atau Melayu. Toko, perusahaan, produk kebutuhan hidup sehari-hari, bioskop, sampai jalan harus diganti namanya dengan nama-nama Jepang dan Melayu. Tujuannya jelas: sebagai media propaganda politik guna melanggengkan kekuasaan mereka.

Salah satu perusahaan dan produk-produk usaha yang terkena dampak ini adalah perusahaan dan produk rokok. Seperti apakah peta besar politik rokok di jaman pendudukan Jepang? Di Yogyakarta, sebuah perusahaan rokok besar yang produknya banyak disukai di Eropa, Negresco NV, oleh intervensi langsung penguasa Jepang harus rela berganti nama baru menjadi Jawa Tobacco Kojo. Produk cerutunya berganti nama menjadi Momo Taro. Perusahaan ini juga memproduksi dua jenis sigaret yang di masa pendudukan Jepang sangat terkenal, yaitu Kooa dan Mizuho. Selain diproduksi oleh pabrik rokok di Yogya, merk Kooa juga diproduksi oleh perusahaan rokok Faroka di Malang, sementara merk Mizuho diproduksi oleh pabrik Davros di Cirebon. Di jaman Belanda, merk Kooa ini dikenal dengan sebutan “Mascot,” sementara Mizuho dikenal dengan merk “Davros.” Rokok dengan merk Double Ace oleh penguasa Jepang diganti namanya menjadi “Sekidoo” atau :Khatulistiwa.

Rokok Bukan Zat Adiktif
Untuk memuluskan penggusuran merk-merk berbau Belanda atau Eropa dengan merk yang lebih ke-Jepang-Jepang-an atau berbau Melayu, penguasa Jepang lewat produsen-produsen rokoknya sampai menyelenggarakan sayembara penciptaan nama merk atas produk rokok mereka. Sayembara ini konon diikuti sampai 1889 orang. Dari sayembara itulah lahir merk-merk rokok yang menjadi media propaganda Jepang: Kooa, Mizuho, Siraho, Sekidoo, dan Semangat. Di antara semua merk rokok itu, barangkali merk Kooa dan Mizuho-lah yang paling banyak dikenal masyarakat luas.

Terhitung sejak 1 Maret 1943, penguasa Jepang berhasil meluncurkan produk rokok itu dan melancarkan propaganda politik yang halus lewat rokok pada penduduk Hindia Belanda. Semua toko yang menjual rokok harus menyediakan berbagai merk rokok yang telah direstui oleh penguasa fasis Jepang. Guna memuluskan rencana propaganda lewat rokok itu pula, pemerintah kolonial Jepang mengeluarkan sebuah peraturan aneh di masa itu: toko-toko harus buka di hari minggu untuk melayani pegawai negeri dan orang-orang yang hanya punya waku luang di hari itu. Sebelumnya, di jaman Belanda, toko-toko biasanya mengambil libur di hari minggu.

Produk propaganda berupa rokok menghasilkan produk propaganda turunan lainnya. Entah siapa yang mengarangnya, dalam ingatan Suparto Brata, anak-anak Surabaya menciptakan ungkapan penyemangat bagi mereka dalam bahasa Jawa untuk melawan musuh: “Sira Semangata, Musuha, tak kooaplok!” (Kalian semua semangatlah. Karena musuh sekalipun akan kupukul!). kalimat dalam bahasa Jawa itu adalah penggabungan dari beberapa merk rokok pada masa itu: Siraho, Semangat, Mizuho, dan Kooa!

Ketika  memutuskan pembentukan Jugun Ianfu atau barisan wanita penghibur tentara Jepang, penguasa Jepang bahkan membekali para perempuan itu dengan satu setengah bungkus rokok Kooa setiap harinya! Begitulah, para perempuan yang telah ditipu oleh penguasa Jepang dengan iming-iming pekerjaan yang enak itu setiap harinya harus menghabiskan satu setengah bungkus rokok Kooa untuk menghibur serdadu Jepang saat mereka tak berada di medan laga.

Apa yang dilakukan oleh kaum pergerakan untuk melawan propaganda Jepang lewat rokok itu? Sebagian besar di antara mereka juga perokok aktif. Menghadapi manuver Jepang, mereka berusaha melawannya dengan tetap mengkonsumsi rokok kretek. Para penduduk dan orang-orang yang anti fasisme Jepang melawan propaganda tersebut dengan menghisap rokok kretek cap tempel, klobot, dan rokok kretek tingwe yang merupakan industri rumah tangga di daerah-daerah seperti Cirebon, Kudus, Malang, Kediri, dan Yogyakarta. Salah satu rokok kretek yang terkenal di Jawa masa itu adalah rokok kretek tali satu dan rokok kretek tali dua. Di Jakarta sendiri, dalam ingatan budayawan Betawi, Alwi Shahab, rakyat umumnya mengisap rokok kawung yang terbuat dari daun nira dengan tembakau berbentuk lempengan yang harus dicubit tembakaunya terlebih dahulu sebelum dilinting dengan daun kawung.

Sebagaimana anak-anak Surabaya menciptakan ungkapan penyemangat dalam menghadapi musuh dari merk-merk rokok itu, orang-orang yang tak menyukai kekuasaan fasis Jepang juga menciptakan lagu-lagu yang menunjukkan ketidaksukaan mereka pada penguasa. Di Yogyakarta dan sekitarnya, misalnya, beredar lagu senggakan dalam bahasa Jawa unik kalau diikuti liriknya merupakan pembandingan antara produk rokok dari pabrikan besar dan produk rokok rumah tangga:

Misuho misuho, Koa/Fajar semangat, Srutu Momotaru/Rokok kretek taline ijo/Isih enak rokok tali loro/Paling enak, klobote mbako… (Memaki, memakilah, Kau/Fajar semangat, Cerutu Momo aru/Rokok kretek bertali hijau/Masih enak rokok klobot tembakau…)

Tentu saja orang menyanyikan lagu senggakan ini tidak secara terang-terangan di depan pasukan atau penguasa sipil Jepang. Namun lagu senggakan itu beredar luas di masyarakat sebagai sebuah ekspresi ketidaksukaan sebagian besar penduduk Indonesia atas kekuasaan Jepang yang ingin mengatur hidup mereka hampir dalam segala hal. Bagaimana pun juga, penguasa fasis Jepang tak akan mampu melawan produksi dan pemasaran rokok kretek rumah tangga yang jumlahnya jauh lebih banyak dan operasinya jauh lebih rumit daripada produksi dan pemasaran produk-produk rokok yang mereka restui.

barudak

He barudak kudu mikir ti leuleutik
Maneh kehutangan
Ku kolot ti barang lahir
Nepi ka ayeuna pisan
(hei anak2, ingatlah sejak kecil, kamu berhutang pada orangtua sejak lahir, hingga sekarang ini pun)

bandel

Salah satu yg terkesan ketika sekolah di SR pasundan adalah diajarkannya lagu2 bernada politik. Antara lain yg menentang dibentuknya negara2 bagian oleh belanda utk memecah belah kesatuan indonesia. Beberapa negara bentukan belanda adalah negara pasundan, negara kalimantan, negara indonesia timur dsb yg masing2 dipimpin oleh kepala negara. Keseluruhan indonesia disebut negara indonesia serikat. Jadi konsepnya sama dgn usa. Tp negara indonesia serikat ini bukan negara merdeka penuh, msh dibawah ketiak belanda. Republik Maluku Selatan (RMS) yg sampai sekarang terus digembor gemborkan sebagai aspirasi rakyat maluku adalah hasil pemecah belah belanda dari masa itu. 
(kenang kenangan orang bandel)

buku virus

BUKU VIRUS !!!
Kepada sahabat MKHD dimanapun berada diharapkan, jika didalam menuliskan, menerangkan, menyebarkan berita, kisah seputar sejarah Ulama Pejuang 45 K.H. Darip Klender, agar tidak mengambil sumbernya itu dari buku berbahasa Inggris yang berjudul "Gangsters and Revolutionaries The Jakarta people's militia and the Indonesian Revolution 1945-1949" karya Robert Cribb, dan kemudian dicetak dan diterbitkan kembali kedalam bahasa Indonesia oleh Komunitas Bambu (Kobam) yang didirikan oleh sejarawan JJ. Rizal dengan judul "Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949" serta yang terkait dengan buku-buku tersebut.
Karna setelah kami cermati dengan seksama, buku-buku tersebut sangat banyak keliru dan salah didalam mencatat sepak terjang perjuangan K.H. Darip dan hanya menjadi virus yang berbahaya bagi generasi pembaca dan pendengar. Sebab Robert Cribb mengambil keterangan narasumber pada buku-bukunya itu dari dokumen KNIL (pengkhianat bangsa, dll) serta kalangan para pejuang yang tidak sepaham / tidak sejalan dan merupakan antek-antek penjajah khususnya di daerah Jakarta, Karawang, Bekasi, Cikampek, Purwakarta, dst, yang barangkali pernah merasa terganggu/terhalangi/tersakiti dimasa perang karna sikap jujur, tegas, dan berani daripada seorang K.H. Darip yang tercatat resmi di Dewan Harian Daerah "Angkatan 45" DKI Jakarta sebagai pejuang murni dan suci semasa menegakkan kemerdekaan Indonesia. Seperti disebutkan dalam buku tersebut kalau K.H. Darip pernah memimpin pemogokan buruh kereta api yang diorganisir Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1923, dan itu sangat tidak dibenarkan dan merupakan fitnah keji yang ditujukan kepada K.H. Darip..!!! Tidak menutup kemungkinan, saat Robert Cribb berkeliling mendatangi narasumber-narasumber di Jakarta dan sekitarnya untuk dijadikan bahan tulisan pada bukunya itu, Robert Cribb juga datang kerumah K.H. Darip, dan sangat besar kemungkinan juga Robert Cribb mengalami penolakan dari K.H. Darip. Sebagaimana didalam catatan Ibu Titiek WS. wartawati yang berhasil mewawancarai K.H Darip pada tahun 1976, didalam catatannya/rekaman suara yang kini berada di Museum Gedung Juang '45 Menteng Cikini, menyebutkan K.H. Darip berkata, "Puluhan wartawan datang kemari untuk mewawancarai saya, tapi saya tolak. Perjuangan yang saya baktikan bukan untuk dibicarakan. Saya berjuang semata-mata demi kemerdekaan bangsa dan negara."
Dan kami menghimbau para sahabat BSKD agar jangan pernah percaya dan turut menyebarkan tulisan atau keterangan sejarah yang disampaikan siapapun tentang K.H. Darip Klender, yang bersumber dari buku ini maupun yang terkait dengannya.
Karnanya kami melawan..!!!
Salam perjuangan sahabat BSKD...!!!
Sekali merdeka tetap merdeka...!!!
Tolong sebarkan...!!!
Terima kasih.

Tuesday, July 21, 2020

batuk darah

baca dr beberapa blog artikel di google tentang batuk n muntah darah.
ad beberapa penyebab n diagnosa'a.
gw cuma ambil beberapa obat alami'a.
- daun bunga ekor kucing
- pinang putih
- jahe
- kencur
- daun pule muda
dibersihkan trz dikunyah mentah2...
semoga bermanfaat kawan

Sunday, July 19, 2020

betok

Betok adalah nama jenis ikan yang umumnya hidup liar di perairan tawar.Ikan ini juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti bethok atau bethik (Jawa),puyu (Melayu) atau pepuyu (Banjar).Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai climbing gouramy atau climbing perch,merujuk pada kemampuannya memanjat ke daratan.Nama ilmiahnya adalah Anabas testudineus (Bloch,1792)

murtado

SEJARAH MACAN KEMAYORAN
Pada zaman penjajahan Belanda, di daerah Kemayoran tinggal seorang pemuda bernama Murtado. Ayahnya adalah anak mantan lurah di daerah tersebut. Murtado adalah anak yang baik. Ia suka menolong orang yang membutuhkannya. Maka Murtado disenangi oleh penduduk di kampung tersebut. Selain itu, ia tekun menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan lainnya. Tak ketinggalan, ilmu bela diri juga dipelajarinya hingga ia menjadi seorang jagoan yang rendah hati.

Pada waktu itu, keadaan masyarakat di daerah Kemayoran tidak tenteram. Penduduk selalu diliputi rasa ketakutan akibat gangguan dari jagoan-jagoan Kemayoran yang berwatak jahat. Belum lagi pajak yang ditarik oleh Belanda dan Cina sangat memberatkan. Padahal, sebagian besar penduduk adalah petani miskin dan pedagang kecil-kecilan.

Sebenarnya daerah itu dipimpin oleh orang pribumi yang bernama Bek Lihun dan Mandor Bacan. Namun keduanya telah menjadi kaki tangan Belanda sehingga mereka sangat kejam dan hanya me­mikirkan keuntungan pribadinya saja.

Pada suatu hari, di kampung Kemayoran diadakan derapan padi. Acara itu boleh dilaksanakan dengan syarat setiap lima ikat padi yang dipotong, satu ikat adalah untuk yang memotong, sedangkan yang empat ikat untuk kompeni. Mandor Bacan ditunjuk mengawasi jalannya upacara itu.

Dalam upacara itu, ada seorang gadis cantik ikut memotong padi. Murtado pun tak ketinggalan ikut di samping gadis tersebut. Mereka rupanya sudah lama menjalin kasih. Tiba-tiba Mandor Bacan me­lihat ke arah gadis itu dan berniat kurang ajar. Niat itu berhasil digagalkan Murtado. Rupanya Mandor Bacan tidak terima. Lalu terjadilah perkelahian. Dalam perkelahian itu Murtado memperlihatkan ketinggian ilmu beladirinya, sehingga Mandor Bacan dapat dikalahkan dan lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu kemudian melapor kepada Bek Lihun.

Mendengar laporan mandornya, Bek Lihun menjadi marah. Berbagai upaya dilakukan untuk membunuh Murtado. Namun semua upaya itu dapat digagalkan Murtado. Sampai suatu hari, Bek Lihun mencoba mencelakai kekasih Murtado. Maka hilanglah kesabaran Murtado. Ditendang dan di­hajarnya Bek Lihun hingga babak belur. Akhirnya Bek Lihun minta ampun dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Setelah kejadian-kejadian itu, maka mulai insyaflah Bek Lihun. Dia mulai menghargai Murtado.

Ketika itu beberapa gerombolan perampok di bawah pimpinan Warsa mulai mengganas di Kemayoran. Setiap malam mereka merampas harta benda penduduk. Kadang-kadang juga melakukan pembunuhan. Menghadapi hal ini Bek Lihun merasa kewalahan. Bahkan ia berkali-kali mendapat teguran dari kompeni karena tidak dapat menjaga keamanan di kampungnya sehingga pajak-pajak untuk kompeni tidak berjalan lancar.

Bek Lihun akhirnya meminta bantuan kepada Murtado. Murtado yang menyadari bahwa ia juga bertanggung jawab atas keamanan kampung tersebut menyetujui permohonan Bek Lihun. Bersama dua orang temannya yang bernama Saomin dan Sarpin, Murtado mencari markas perampok itu di daerah Tambun dan Bekasi, tetapi tidak ditemukan. Kemudian mereka pergi ke daerah Kerawang. Di sana gerombolan Warsa dapat dikalahkan. Warsa sendiri mati dalam perkelahian itu. Oleh Murtado dan teman-temannya semua hasil rampokan gerombolan itu diambil dan dibawa kembali ke Kemayoran. Kemudian dikembalikan lagi kepada pemiliknya masing-masing. Semua rakyat di daerah Kemayoran berterima kasih dan merasa berhutang budi kepada Murtado.

Penguasa Belanda pun sangat menghargai jasa-jasa Murtado. Mereka ingin mengangkatnya menjadi bek di daerah Kemayoran menggantikan Bek Lihun. Tetapi tawaran Belanda ini ditolak Mur­tado, karena dia tidak ingin menjadi alat pemerintah jajahan. “Lebih baik hidup sebagai rakyat biasa tetapi ikut menjaga keamanan rakyat,” gumamnya. Murtado pun aktif berjuang untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajahan, penindasan, dan pemerasan.

Saturday, July 18, 2020

cana

37 Jenis Ikan Gabus Hias atau Channa Lengkap Beserta Gambarnya

Ikan Gabus merupakan ikan predator air tawar. Ikan gabus biasa di konsumsi oleh masyarakat di Indonesia karena ikan gabus selain rasanya yang enak juga banyak manfaatnya. 

Manfaat mengkonsumsi ikan gabus antara lain dapat mempercepat penyembuhan, menambah gizi, menjaga kesehatan mata dan lain lain anda bisa cek di Dokter Sehat untuk info lebih lengkapnya karena yang saya bahas bukan ikan gabus untuk di konsumsi melainkan ikan gabus hias.

Ikan gabus di dunia ikan hias tidak kalah dengan ikan hias lainnya. Ikan gabus atau channa atau juga snakehead ini mempunyai penggemar yang banyak di Indonesia maupun di luar negeri. Namun di luar negeri ikan ini sebenarnya di larang dipelihara karena merupakan salah satu ikan invasif.

11 Jenis Ikan Gabus Hias atau Channa Beserta Harganya

 Ikan invasif adalah ikan yang berasal dari luar yang dapat mengancam kelestarian ikan ikan lokal. Ada beberapa jenis ikan channa atau ikan gabus hias loh. Berikut 37 jenis ikan gabus hias atau channa lengkap beserta gambarnya.
 Baca Juga : Harga Pakan Hidup Literan Untuk Ikan Predator terbaru 2019

1. Channa amphibeus

Channa amphibeus

Channa amphibeus mempunyai ciri ciri terdapat strip strip merah di tubuhnya mirip seperti channa andrao. Channa amphibeus tersebar di perairan india dan ditemukan pada tahun 1845. Channa amphibeus dapat tumbuh hingga panjang 90 centimeter.
 Baca Juga : Cara Merawat Air Aquarium Agar Tetap Bersih Dan Kinclong

2. Channa Andrao

Gambar Ikan Gabus Hias Channa Andrao

Channa Andrao sama seperti channa amphibeus terdapat corak merah di tubuhnya namun memeliki fin yang lebih terang. Channa Andrao tersebar di perairan asia. Channa Andrao termasuk ikan gabus hias terkecil karena hanya dapat tumbuh sampai 11 centimeter saja.

3. Channa Argus

Channa Argus

Channa argus ini dapat tumbuh dengan cepat dan ukurannya bisa mencapai 1 meter. 

4. Channa Asiatica

Channa Asiatica

Channa Asiatica dapat tumbuh hingga 35 centimeter. Ada beberapa jenis corak pada channa asiatica ada yg red spot, white spot dan mungkin masih ada jenis lainnya. 

5. Channa Aurantimaculata

Channa aurantimaculata

Channa aurantimaculata merupakan salah satu channa favorit saya karena mudah di dapat dan harganya tidak terlalu mahal. Perpaduan Warnanya pun sangatlah bagus kombinasi kuning, biru dan hitam.

6. Channa aurantipectoralis

Channa aurantipectoralis

Masih jarang sekali info tentang jenis channa aurantipectoralis ini. Dari penampilannya dan warna nya mudah sekali untuk membedakan mana channa aurantimaculata dan juga mana channa aurantipectoralis.

7. Channa bankanensis

Channa bankanensis

Channa bankanensis merupakan channa dengan pertumbuhan paling lambat dibandingkan dengan channa jenis lainnya. Ukuran maksimal snakehead ini ialah 24 centimeter saja. Channa bankanensis tersebar di peraiaran Indonesia dan Malaysia.

8. Channa baramensis

Channa baramensis

Dengan panjang maksimal hanya 22 centimeter channa baramensis termasuk jenis snakehead yang relatif kecil. Habitat channa baramensis berada di perairan sungai kalimantan.

9. Channa barca

Channa barca

Channa barca merupakan jenis ikan gabus atau channa termahal yang beredar di pasar indonesia. Channar barca harganya berkisar belasan juta buat kalian yang tertarik meminang channa barca siapkanlah budget tersebut. Channa barca dapat tumbuh makslimal hingga 90 centimeter.
 Baca Juga : 11 Jenis Ikan Arwana Atau Ikan Arowana Lengkap Beserta Harganya

10. Channa bleheri

Channa bleheri

Channa bleheri merupakan salah satu snakehead yang cocok dipelihara di aquarium karena ikan ini cenderung damai bahkan bisa digabung dengan ikaln lainnya serta mempunyai warna yang bagus dan hanya dapat tumbuh hingga 23 cenitemer.

11. Channa burmanica

Channa burmanica

Channa burmanica merupakan channa yang berasal dari Myanmar bagian utara. Channa burmanica termasuk salah satu jenis snakhead yang damai tidak terlalu agresif. Channa ini sangat jarang ditemukan di penjual penjual ikan hias. Ikan gabus yang satu ini sangatlah kerdil ia hanya dapat tumbuh sampai 8 centimeter saja.

12. Channa diplogramma

Channa diplogramma

Channa diplogramma atau malabar snakehead ini mempunyai bentuk dan karakter dengan jenis ikan toman. Channa ini hanya dapat tumbuh hingga 44 centimeter.

13. Channa gachua

Channa gachua

Dwarf snakehead atau channa gachua sesuai namanya ikan ini merupakan jenis channa yang berukuran kecil hanya dapat tumbuh hingga 25 centimeter. Channa gachua salah satu channa yang cocok dipelihara di aquarium.

14. Channa harcourtbutleri

Channa harcourtbutleri

Channa harcourtbutleri mempunyai nama inggris yaitu Burmese snakehead. Ikan ini berasal dari perairan Myanmar. Max size dari burmese snakehead ini ialah 25 centimeter.

15. Channa hoaluensis

Karena minim nya info tentang Channa hoaluensis saya tidak menemukan foto atau gambar Channa hoaluensis. Channa hoaluensis berasal dari perairan vietnam dan mas size nya 25 centimeter.

16. Channa longistomata

Channa longistomata

Channa longistomata merupakan salah satu jenis snakehead kecil. Max size nya hanya 16 centimeter saja. Channa longistomata berasal dari Vietnam. Channa ini mungkin termasuk langkah di pasar Indonesia.

17. Channa lucius

Channa lucius

Channa lucius atau forest snakehead dapat ditemukan di perairan thailand dan indonesia. Max size dari channa lucius ini berkisar 40 centimeter.

18. Channa maculata


Channa maculata atau blotched snakehead salah satu jenis channa yang agresif. Max size  channa maculata berkisar 20 cm. Channa maculata bisa dibilang versi mini dari channa argus.

19. Channa marulioides

Channa marulioides

Channa marulioides atau emperor snakehead dapat tumbuh hingga 56 cm bahkan lebih di alamnya. Channa maru yang satu ini banyak macamnya jenisnya termasuk yang terkenal ialah red eye maru atau red spotted marulioides.

20. Channa marulius

Channa marulius

Channa marulius mempunyai beberapa sebutan yaitu bullseye snakehead dan great snakehead ini merupakan jenis channa yang mungkin terbesar dibanding channa lainnya. Max size Channa marulius bisa mencapai 180 cm.

21. Channa melanoptera

Channa melanoptera

Channa melanoptera ini berasal dari Indonesia tepatnya di perairan sungai sumatra dan kalimantan. Channa melanoptera dapat tumbuh hingga 65 cm.

22. Channa melanostigma

Channa melanostigma

Channa melanostigma ini merupakan species baru dari snakehead yang ditemukan di sungai sungai di India.

23. Channa melasoma

Channa melasoma

Channa melasoma atau black snakehead ini disarankan tidak digabung dengan ikan lainnya alias soliter. Max size dari black snakehead ini berkisar 30 cm.

24. Channa micropeltes

Channa micropeltes atau biasa disebut ikan gabus toman

Channa micropeltes atau biasa disebut ikan gabus toman ini merupakan predator asli dari indonesia. Ikan gabus toman ini sangatlah agresif dan mempunyai gigi yang tajam. Ukuran ikan gabus toman ini bisa mencapai 130 cm. 

25. Channa ninhbinhensis

Channa ninhbinhensis

Channa ninhbinhensis mempunyai ciri ciri marking coklat kemerahan. Ikan gabus yang satu ini berasal dari Vietnam. Max Size nya hanya mencapai 27 cm.

26. Channa nox

Channa nox

Channa nox merupakan ikan channa yang langka dari perairan China.

27. Channa orientalis

Channa orientalis

Channa orientalis salah satu dari jenis channa berukuran kecil ini hanya dapat tumbuh hingga 10 cm. Cocok sekali dipelihara di aquarium karena ikan ini sangat mudah beradaptasi.

28. Channa panaw

Channa panaw

Channa panaw alias Panaw Snakehead merupakan jenis ikan gabus yang relatif berukuran kecil karena ukuran maksimalnya ialah 14 centimeter saja. Panaw Snakehead ini berasal dari Myanmar dan ikan ini sangat jarang ditemukan di pasar indonesia.

29. Channa pardalis 

Channa pardalis

Channa pardalis memeliki ciri ciri berwarna hitam dan biru dulunya mempunyai nama channa sp true blue. Ukuran maksimalnya hanya 17cm.

30. Channa pleurophthalma

Ocellated Snakehead

Channa pleurophthalma alias Ocellated Snakehead ini mempunyai marking titik titik hitam di tubuhnya. Ikan gabus hias ini sangatlah aktif berenang sehingga membutuhkan aquarium yang memadai. Ukuran panjang masimum ikan gabus jenis ini mencapai 40 cm.

31. Channa pomanensis

Channa pomanensis

Channa pomanensis memiliki ciri ciri yang hampir mirip dengan channa stewartii menurut saya. Channa pomanensis berasal dari sungai sungai di India. Panjang maksimal ikan gabus jenis Channa pomanensis mencapai 17 cm.

32. Channa pseudomarulius

Channa pseudomarulius

Info tentang ikan gabus jenis Channa pseudomarulius ini sangatlah sedikit. Mungkin dengan foto dari TEA SIYI KAI ini dapat membatu.

33. Channa pulchra


Channa pulchra alias peacock snakehead merupakan salah satu ikan gabus hias yang berukuran kecil.  Maksimal panjang dari ikan gabus ini ialah 30 cm. Channa pulchra ini cocok sekali dipelihara di aquarium kecil. Walaupun di gambar terdapat 3 channa dalam 1 aquarium sebaiknya channa jenis ini jangan di gabung dengan ikan lain.

34. Channa punctata

Channa punctata

Channa punctata mempunyai dua sebutan yaitu spotted snakehead dan  green snakehead. Channa ini tidak terlalu agresif dan maksimal ukuranya mencapai 30 cm.

35. Channa shingon

Channa shingon

Channa shingon merupakan spesies baru yang berasal dari China. Masih jarang juga informasi terkait channa ini. Semoga foto dari @cheilinus ini dapat membatu.

36. Channa stewartii

Channa stewartii

Channa stewartii atau golden snakehead ini hampir mirip ya dengan channa shingon di atas. Apa mungkin saya salah gambar ?. Channa stewartii ini merupakan channa yang paling direkomendasikan jika ingin memlihara channa banyak di dalam 1 aquarium. Channa stewartii dapat tumbuh maksimal hingga 25 cm.

37. Channa Striata

Channa striata

Channa striata ini paling banyak juga dipelihara oleh hobbies di Indonesia. Channa striata mempunyai beberapa sebutan yaitu striped snakehead, common snakehead dan chevron snakehead. Channa striata ini dipasaran terdapat juga jenis albinonya. Tentunya harganya beda antara Channa striata normal dengan yang albino. Channa striata dapat tumbuh hingga 90 cm.


Sekian lah 37 jenis ikan gabus hias atau channa yang saat ini diketahui. Jika ada yang belum tersebut, salah gambar atau salah nama mohon dimaafkan saya pun masih newbie. Semoga artikel ini dapat membatu jenis ikan channa mana yang kalian ingin pelihara.

ARTIKEL TERKAIT

kiasan

sangat cantik dan sempurna. Wajahnya bak rembulan, badannya seperti gitar Spanyol dan betisnya bak padi bunting  Bagai air di daun keladi  D...