
Planet Senen, Legenda Tempat Pelacuran Terbesar di Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tampaknya kewalahan untuk menertibkan para PKL (pedagang kaki lima) di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Bahkan, para PKL yang makin memadati pasar tersebut mengadakan perlawanan terhadap Satpol PP saat hendak digusur. Akibatnya, hingga kini pasar tertua di Jakarta itu masih tetap semrawut.
Pasar Senen pernah menjadi terkenal pada pertengahan 1950-an sampai akhir 1960-an. Bukan karena banyaknya orang yang datang untuk berbelanja. Kala itu, Pasar Senen masih merupakan pasar tradisional.
Belum nongol mal, plaza dan atrium seperti sekarang. Orang lebih banyak datang ke Planet Senen, tentu saja pada malam hari. Karena masa itu Planet Senen dan sekitarnya menjadi tempat pelacuran terbesar di Jakarta. Nama Planet untuk daerah hitam itu diberikan saat dua musuh bebuyutan (kala itu) Amerika Serikat (AS) dan Uni Sovyet (US) bersaing untuk mengirimkan sputnik ke ruang angkasa (planet) di masa Presiden Kennedy dan PM Kruschev.
Di Planet Senen, para WTS atawa Pekerja Seks Komersil (PSK) tinggal di bangunan yang terdiri dari kotak sabun dan kardus di pinggir-pinggir rel KA. Malah gerbong-gerbong barang KA yang diparkir di Stasiun Senen dijadikan sebagai tempat ngamar. Pernah terjadi ketika ada yang ngamar, tiba-tiba gerbongnya langsir dan baru berhenti di stasiun KA Jatinegara.
Pokoknya, sejak lepas maghrib, gerbong-gerbong parkir yang biasa angkut bahan bangunan dikuasai wanita 'P'. Kala itu belum dikenal istilah PSK (pekerja seks komersial), tapi pelacur atau cabo dari kata bahasa Cina 'ciabo' yang berarti perempuan. Bahkan, di siang hari terik tanpa mengenal malu para pelacur sudah siap terima tamu di kamar-kamar liliput.
Pesta Ngibing
Tempat beroperasinya WTS di Planet Senen terbentang mulai dari pintu KA Senen sampai Tanah Nyonyam di Gunung Sahari. Di samping para WTS dan pria hidung belang, para tukang dagang meramaikan Planet Senen hingga menjelang subuh. Mereka berdagang di meja-meja dengan lampu minyak yang ditutupi kertas merah hingga suasana agak kegelap-gelapan.
Yang paling unik dari Planet Senen adalah keberadaan para penari doger, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pertunjukan tandak. Para penarinya kebanyakan dari Klender dan Bekasi, mulai tampil setelah Isya. Mereka berdandan sangat menor dan berhias seindah mungkin.
Bibirnya diberi gincu buatan lokal. Tidak kalah menornya adalah bedak (pupur) yang mereka pakai. Juga buatan lokal. Kala itu, kosmetik impor belum muncul. Apalagi di daerah pedesaan.
Para penari doger itu mengenakan kain batik dan baju kebaya tipis. Bagian bokong hingga perut diikat ketat. Demikian pula di bagian atas tubuhnya. Maklum, tidak seperti pelacur, mereka hanya boleh dicium dan dipegang-pegang. Adegan semacam ini juga terjadi di dalam gerbong KA.
Sebelumnya, para penari ngibing diiringi gamelan Sunda. Saat menari mereka menggoyang-goyangkan tubuh. Saat para penari doger ngibing dengan menggunakan selendang, kira-kira 10 hingga 15 orang, di antara para penonton ada yang langsung terjun ke tengah gelandang.
Setelah puas menari, satu per satu pasangan itu masuk ke gerbong atau menuju tempat gelap. Hanya berlangsung 5-10 menit, kemudian si penari doger kembali ke gelandang setelah menerima uang sawer. Dan ia pun kemudian disamber pria lain.
Kawasan Planet Senen begitu bebas, hampir tidak pernah terjadi razia. Dan, yang paling menyedihkan, banyak anak di bawah umur turut menyaksikan. Dulu penari doger dan ratusan WTS beroperasi secara bebas tanpa ada razia dari aparat negara. Boleh dikata hampir tidak ada reaksi dari pemuka agama kala itu.
Keberadaan doger hanya bagian kecil saja dari jumlah kupu-kupu malam di Planet Senen. Sebagai wartawan saya pernah turut gubernur Ali Sadikin meninjau tempat itu pada akhir 1960-an. Di antara WTS yang banyak berusia muda dan ada yang masih anak-anak terdapat puteri seorang penyanyi terkenal pada 1940-an. Kita tidak habis pikir kenapa dia tergelincir ke tempat tersebut.
dr Basri dan Penyakit Raja Singa
Yang paling berkesan di Planet Senen terdapat dr Basri, yang tiap malam membuka praktek. Dia dikenal sebagai dokter berjiwa sosial. Mereka yang berobat bila tidak punya uang tidak jadi masalah.
Dia datang dengan sebuah mobil sedan tua. Di mobilnya dia menginjeksi pasien dan memeriksanya. Banyak hidung belang sebelum bermain dengan WTS lebih dulu minta diinjeksi. Waktu itu belum dikenal adanya HIV/AIDS. Paling-paling sipilis atau raja singa.
Menyadari gerbong-gerbong KA dijadikan tempat mesum, cukup membuat pusing pihak Perum KA, yang sejak lama ingin menertibkan, tapi tak sanggup melaksanakannya. Baru pada masa gubernur Ali Sadikin Planet Senen berhasil ditertibkan.
Mereka dipindahkan dan dilokalisasikan di Kramat Tunggak, Jakarta Utara (kini jadi Islamic Center). Kala itu, Kramat Tunggak masih berupa rawa-rawa. Sementara di sekitar Planet Senen oleh Bang Ali dibangun Gelanggang Olahraga Remaja, kantor kecamatan dan kepolisian.
Sekalipun tempat pelacuran sudah tidak tersisa, tapi Planet Senen, nama yang sudah dikenal sejak 50 tahun lalu, hingga kini masih dikenal. Entah siapa yang mulai menamakannya.

No comments:
Post a Comment